Televisi = Tuhan Baru???

TELEVISI = ‘Tuhan’ Baru ???
Televisi, bukanlah suatu kata baru yang terdengar di telinga banyak orang. Bahkan, mungkin sangat akrab dengan keseharian masyarakat kita. Apa sih yang ada di televisi, saking akrabnya dengan keseharian orang-orang?

Televisi memang ajaib. Dia bisa menjadi raja bagi sebagian pemirsa yang setia menontonnya. Betapa tidak, orang bisa duduk manis selama berjam-jam bahkan seharian penuh karena terpukau dengan acara-acara kesayangan yang disajikan televisi. Apalagi sekarang, semakin banyak chanel tv yang bersaing untuk mendapatkan rating tertinggi yang umumnya untuk menarik perhatian pemirsa. Mulai dari hiburan, gosip entertainment, sinetron dan serial remaja, tak ketinggalan film-film impor yang memenuhi tayangan Box Office atau Big Movies.

Fenomena yang terlihat saat ini di televisi, jika salah satu chanel menyajikan acara baru yang tampaknya cukup menyedot perhatian pemirsa, maka chanel-chanel tv yang lain bermai-ramai untuk menyajikan acara yang serupa. Sebut saja, tayangan seputar musik tanah air yang disajikan salah satu chanel yang kemudian ditiru oleh chanel-chanel yang lain dengan penyajian yang berbeda. Dan semua chanel pun bersaing dalam menyajikan program unggulan.

Televisi, kok bisa disebut Tuhan Baru?? Jangan heran dan jangan salahkan artikel yang sederhana ini atau jangan sampai menuduh bahwa artikel ini sesat… Tunggu dulu, kita bisa melihat betapa perkembangan teknologi dengan kemudahan akses informasi dan hiburan sana-sini membuat orang-orang semakin lupa akan nilai-nilai agama karena terlalu terpana dengan gemerlapnya teknologi komunikasi. Ketika panggilan illahi telah berkumandang, orang justru sedang sibuk dengan telepon selularnya atau masih terduduk manis di depan ‘raja’ televisi. Bukannya bergegas memenuhi panggilan ibadah. Alasannya, mereka bilang “Ah, nanggung bentar lagi!”. Lho, kok sholat dinanti-nanti… Jadi, tidak salah kan kalau kecanggihan televisi atau teknologi lainnya bisa menjadi ‘sekutu-sekutu’ yang menjerumuskan pada kesyirikan. Wah, bahaya tuh.

Bahkan, dari sosok yang bernama televisi. Orang-orang semakin narsis dan bangga jika televisi menyorotnya, sampai-sampai ada orang yang beranggapan, “Wah, si Udin hebat, dia masuk TV tuh!” padahal si Udin yang dimaksud ini bukan artis apalagi pejabat, ia justru seorang tersangka pelaku kriminal. Hii.. Naudzubillah. Kok yang gini disebut ‘hebat’, mentang-mentang nongol beberapa detik di televisi. Ckckck dunia ini udah terbalik, eh mungkin orang-orangnya yang udah terbalik pikirannya (Ups, tapi penulis ngga termasuk ya! Pembaca… mungkin?). Lihat berita di Tv, semakin miris saja, setiap hari pasti selalu saja ada berita kriminal, baik itu pembunuhan (mungkin bagi kebanyakan orang, kasus bunuh-membunuh udah ngga asing lagi! Hi ngeri!), perampokan, pemerkosaan, razia PSK, razia PKL, dan ribuan kasus kriminal lainnya yang bisa bikin orang lama-lama “mati rasa” dan ”mati empati”. Kenapa? Ya, semakin sering kita melihat kasus kriminal yang notabene kekerasan dan kekejian, kita pun semakin tidak peka dengan realita yang sesungguhnya. Kita hanya sekedar menonton berita dan tidak memahami makna yang tersimpan, karena berita Cuma menempel di permukaan mata kita. Kita hanya bisa bergidik ngeri dan menggerutu melihat kasus kriminal yang kesekian kali ditayangkan, tapi tidak pernah tergugah untuk mencari apa sih yang membuat kriminalitas justru semakin meningkat. Orang-orang zaman sekarang memang aneh-aneh ya, kalau kata orang Sunda sih “Dicarek beuki ngahajakeun!” Semakin media massa menyiarkan berita kekerasan yang tujuannya untuk menggugah pemirsa bahwa tindak laku kekerasan itu tidak baik dan melanggar hukum. Justru bagi sebagian orang, yang kurang dalam sisi moral dan agamanya, “Asa dicontoan”, semakin banyak berita kriminal, orang-orang yang seperti itu justru ingin melakukan tindakan yang aneh-aneh bahkan kriminal hanya untuk nongol di TV. Aneh ya, tapi itulah adanya. Ya, walaupun tindak kriminal tidak selamanya bermotif seperti itu. Tapi, ada saja yang hanya ingin cari sensasi agar dishoot oleh mata kamera. Televisi oh televisi…

Sinetron. Hm.. ini salah satu tayangan yang sangat digandrungi oleh pemirsa yang setia. Pagi, siang, sore, sampai malam, televisi selalu dipenuhi oleh tayangan drama alias sinetron. Bahkan ada di salah satu chanel yang khusus menyuguhkan sinetron-sinetron remaja yang romantis. Sinetron di TV sesungguhnya bukan mengisahkan tentang realita kehidupan, namun justru semakin menjauhkan kehidupan dari realita sesungguhnya. Kini kita melihat yang disuguhkan sinetron TV hanya bertemakan tentang roman asmara, kekerasan, dan perebutan harta warisan. Ga ada yang bener tuh sinetron TV, yang ada di sinetron, lagi-lagi antara pertentangan si kaya dan si miskin, sering terdengar kata-kata di beberapa sinetron, “Dasar gembel!”. Jelas terlihat bahwa ada sekat batas antara si miskin dan si kaya, sinetron TV tak pernah menjadi contoh potret kehidupan masyarakat yang sesungguhnya, justru sebaliknya terlalu melebih-lebihkan dan jauh dari realita yang ada saat ini. Pemirsa yang menonton sinetron yang semacam itu dibuat kesal dan gemas melihat tokok-tokoh antagonis yang menyebalkan. Hanya sebatas kesal, bahkan teriak-teriak karena tidak tahan melihat perilaku kejahatan dalam sinetron. Cuma kesal karena yang ditonton Cuma sinetron. Atau ada sinetron yang mengisahkan kisah pilu seorang anak malang yang disiksa oleh ibu tirinya dan berjuang mempertahankan hidupnya yang terlunta-lunta. Lagi-lagi Cuma sebatas kasihan dan terharu. Kalau pemirsa dihadapkan pada realita yang sesungguhnya, yakni melihat secara langsung bahwa anak-anak malang itu nyata di depan mata, belum tentu ada tindakan yang membantu atau berempati pada anak-anak malang itu, mungkin yang ada Cuma baru sebatas kasihan. Sinetronlah yang mengajarkannya. Semua orang yang tersihir oleh pernak-pernik cerita sinetron dibuatnya semakin “mati rasa” dengan kehidupan yang sebenarnya.

Sinetron religi, sinetron yang beraroma nilai-nilai agama, seringkali hanya sebatas simbolis, namun miskin makna. Melihat sinetron religi, seringkali dibumbui oleh hal yang mistik dan tak masuk diakal. Yang justru membuat kebanyakan orang memandang agama seperti demikian. Ada jenazah orang berzina, tiba-tiba kuburnya dipenuhi belatung atau ada jenazah tak diterima bumi. Rasanya sangat terlalu berlebihan dalam mengisahkannya. Riwayat kematian seseorang, bagaimana cara matinya hanya Allah yang tahu. Disajikan dengan hal-hal yang seperti itu, justru bukannya membuat pemirsa takut melanggar agama, malah takut melihat jenazah atau orang mati. Sampai bermunculan sinetron atau film layar lebar bertemakan horor atau mistisme. Di bioskop, banyak bermunculan film-film horor, profesi orang pun tak ketinggalan jadi tema film, contohnya “Hantu Jamu Gendong”. Ada pula tempat-tempat angker yang diangkat menjadi tema film. Padahal kenyataannya tidak demikian. Hanya saja, orang-orang zaman sekarang terlalu melampaui batas dalam melakukan sesuatu. Film horor itu bukan saja dipenuhi bumbu-bumbu ketakutan tapi ditambah dengan adegan yang seronok atau vulgar yang diperankan artis yang kesehariannya memang berani mempertontonkan aurat. Naudzubillah, udah berbau syirik, porno pula. Huh, semiris inikah film-film tanah air kita. Hanya sedikit film yang memang menjadi film inspiratif. Yang lainnya, semuanya nol besar, Cuma merusak pola pikir generasi muda yang semakin tenggelam dalam dunia hiburan yang menjerumuskan.

Kembali ke televisi. Kalau dilihat lebih dekat dan teliti, televisi memang sangat banyak menyuguhkan tayangan tak mendidik, dibandingkan yang mendidiknya, kira-kira presentasenya, 90 % acara TV tidak mendidik yang mengandung unsur kekerasan dan berbau seks. 10 % lagi mungkin diisi oleh tayangan tentang berita politik, tayangan penjelajahan alam, dan tayangan edukatif lainnya. Tapi, hanya sedikit acara yang bermanfaat. (daynish/artc)
To be continued……………………………….

2 Comments Add yours

  1. izlenD says:

    a great article…

  2. noer says:

    banyak tuhan baru bermunculan mulai dari tuhan bundar, tuhan 9 senti, tuhan teknologi, lantas tuhan apalagi yang akan memalingkan banyak manusia dari tuhannya yang hakiki.

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s