FENOMENA MUDIK (Sebuah Ritual Tahunan menjelang Lebaran)

PENDAHULUAN

Pada awalnya “Mudik” merupakan istilah yang digunakan oleh orang-orang Jawa, yang kemudian menjadi populer ditelinga masyarakat Indonesia. Istilah ini berasal dari kata “udik” yang berarti arah hulu sungai, pegunungan, atau kampung/desa. Orang yang pulang ke kampung disebut “me-udik”, yang kemudian dipersingkat menjadi mudik.
Kata udik juga kerap dikonotasikan dengan bebal, bodoh, bego, kampungan dan beberapa kata negatif sejenisnya. Namun dalam pengertiannya yang lebih tepat, udik yang mengandung makna bagian atas sungai, yang jernih, bersih, yang kita gunakan dalam konteks ini. 1
Kata “mudik” juga punya arti naik yang dapat dimaknai secara spiritual, yakni upaya menaikkan spiritualitas kita agar lebih tinggi lagi setelah sekian waktu berada dalam kehidupan metropolitan dan kehilangan spiritualitas, karena dipenuhi persaingan dan pola hidup materialistik. Secara psikologis, mudik memberi sumber kekuatan mental baru.2
Dalam makalah yang sederhana ini, Penulis memaparkan fenomena yang terjadi dalam situasi mudik. Yang ternyata, ritual tahunan ini begitu banyak menyimpan ketimpangan sosial bagi masyarakat, yang memang telah dianggap sebagai suatu hal yang biasa terjadi menjelang Lebaran. Seperti arus urbanisasi yang tak terkendali, minimnya infrastruktur transportasi kita, instabilitas ekonomi, dan fenomena-fenomena lainnya.
Dan tentunya, Penulis tidak lupa menyertakan sumber-sumber yang membantu dalam penyelesaian makalah ini. Berikut uraiannya yang lebih jelas mengenai Fenomena Mudik (Sebuah Ritual Tahunan Menjelang Lebaran).

PEMBAHASAN
FENOMENA MUDIK

Ya, mudik. Kira-kira apa yang terbayang dalam benak kita begitu mendengar kata ‘mudik’? Mungkin seperti hiruk-pikuk kendaraan dan armada angkutan yang dipenuhi lautan manusia yang berbondong-bondong kembali ke kampung halaman masing-masing serta berbagai peristiwa yang berkaitan dengan mudik.
Fenomena mudik selalu terjadi setiap tahun menjelang Idul Fitri. Hal itu juga terjadi di Cina, menjelang Imlek. Keadaan serupa terjadi negara Barat, saat merayakan Thanksgiving, atau mendekati Natal dan Tahun Baru. Mobilitas penduduk, pada saat-saat itu seperti meningkat pesat. Di Indonesia, terjadi arus luar biasa setiap tahun menjelang Idul Fitri, khususnya dari Jakarta ke seantero Indonesia.3
Inilah sebuah fenomena yang terjadi setiap tahun, yang selalu luput dari penyelesaian. Jadinya, mudik memang merupakan kebahagiaan sekaligus derita fisik bagi yang menjalankannya.

ALASAN MUDIK
Mengapa orang ingin mudik? Bisa jadi untuk melepaskan kerinduan pada kampung halaman dan bisa juga untuk menikmati liburan Idul Fitri bersama keluarga, karena hanya Idulfitri kita menikmati libur cukup panjang yang diperhitungkan sebagai cuti bersama. Ditambah dengan cuti pribadi yang digabungkan, kita punya waktu libur kira-kira satu atau dua minggu.
Mudik juga bisa menjadi semacam terapi yang menguatkan hubungan kekeluargaan. Dalam aspek psikologis, mudik akan membangkitkan kesegaran dan tenaga baru bila mereka kembali bekerja di kota. Oleh karena itu mudik Lebaran, selain menjadi tradisi tahunan, juga memiliki efek perbaikan hidup atau terapi untuk rasa kehilangan bagi mereka yang hidup jauh dari orang tua dan keluarga.4
Sebaliknya, fenomena mudik sering dijadikan sebagai media untuk menunjukkan sukses di kota. Status sosial yang diperoleh perlu diketahui oleh sanak-keluarga. Maka mereka pun ikut mudik dengan kendaraan sendiri. Anehnya, ternyata tarikan sosiologis serupa sangat kuat, sebab tidak sedikit orang kota yang mudik sambil bersandiwara. Mereka datang dengan mobil pribadi, walau harus menyewa dari rental.5

Pada umumnya orang Indonesia rutin pulang ke kampung halaman menjelang Idul Fitri atau Lebaran. Tak peduli besarnya kesulitan yang dihadapi untuk itu. Mereka rela antri berjam-jam untuk mendapatkan tiket bus atau kereta, atau bahkan menyewa mobil. Berdesak-desakkan di dalam angkutan umum, berpanas-panasan di atas sepeda motor dan macet berjam-jam di jalanan merupakan kejadian yang selalu terjadi di setiap Lebaran. Bagi mereka, kerepotan, penderitaan dan kesulitan yang dihadapi selama dalam perjalanan pulang kampung tidak dianggap ada setelah mereka bertemu dengan anggota keluarganya. Seluruh jerih payah itu satu per satu dijalani demi terealisasinya satu kata, “pulang”.6
Ribuan orang desa berbondong-bondong pulang kampung dari kota Metropolitan menuju kampung halaman atau desa dimana mereka berasal. Otomatis, Jakarta sunyi dan senyap dalam rutinitas kota untuk beberapa hari menjelang Lebaran. Tak bisa dipungkiri, mudik merupakan tradisi rumit yang membutuhkan persiapan fisik mental dan tidak lupa tetap memegang azas keamanan dan keselamatan dalam perjalanan.
Mudik telah menjadi budaya yang mendarah daging pada bangsa ini. Ada Lebaran, ada mudik. Barangkali itulah yang terjadi saban tahun di Negri kita, Indonesia.

Di balik tradisi mudik yang dianggap sebagai kearifan budaya bangsa Indonesia, terkuak pula tabir ketimpangan social yang luar biasa. Ritus kembali ke kampung halaman ini seringkali memunculkan fenomena yang bertentangan dengan akal sehat.7
Kita selalu melihat saban tahun bagaimana sebagian orang yang telah menjalani shaum Ramadhan selama sebulan justru sudah tak peduli lagi dengan orang lain dan mementingkan ego sendiri, saling sikut, saling berebut kesempatan saat masuk kendaraan umum, bahkan tak jarang menimbulkan penyimpangan sosial.
Di sisi lain, kegairahan mereka yang merayakan hari kemenangan pertempuran rohani lewat ibadah shaum sebulan penuh, dimanfaatkan dengan begitu baik oleh kalangan pebisnis untuk merangsang pola konsumtif yang meledak-ledak. Suasana Lebaran tampaknya selalu menjadi ajang di mana orang merasa harus meningkatkan arus belanjanya secara berlipat. 8
Mudik benar-benar menjadi dilema, dimana hasrat pemudik begitu menggebu-gebu ingin sampai kampung halaman bertemu sanak keluarga. Namun justru ritus inilah yang seringkali membuat kemacetan, kriminalitas, dan kecelakaan lalu lintas meningkat dimana-mana. Belum lagi, instabilitas ekonomi yang tercipta akibat ulah pengusaha yang mencari untung dari tradisi tahunan ini.
Sayangnya, sebagian besar orang masih memandang tradisi mudik ini positif, dan membiarkan segala kerumitannya menjadi hal yang biasa.
Padahal, jika dianalisis, tradisi ini justru secara gamblang menelanjangi berbagai masalah dan ketimpangan sosial di negeri ini. Fenomena-fenomena yang terjadi diantaranya,

ARUS URBANISASI

Pertama, fenomena lengangnya kota-kota besar dan ramainya desa-desa. Ini menunjukkan, beban berat kota besar di Indonesia khususnya Jakarta sebagai pusat ibu kota, selama ini disebabkan oleh menumpuknya jutaan manusia di sana. Mengapa tradisi mudik lebaran menjadi sangat fenomenal di negeri ini? Ini terkait dengan politik pembangunan.
Mudik terjadi karena terpusatnya kegiatan kehidupan di kota dan melemahnya fungsi kehidupan di desa. Fungsi-fungsi kota di daerah tidak diberdayakan secara optimal sehingga orang memilih memburu kehidupan dan mencari pekerjaan di kota-kota besar. Padahal kota besar seperti Jakarta belum tentu menjanjikan dan tak seindah yang mereka bayangkan. Betapa kehidupan metropolitan sangat keras dan kejam bagi mereka yang tak memiliki keahlian dan keterampilan.
Kesuksesan merupakan bayang-bayang mudik yang paling pekat. Tidak heran, mereka yang tidak pulang mudik disinyalir tidak diperbolehkan cuti karena cuma kuli, gagal menuai kehidupan di kota, atau sudah terseret narkoba.
Arus urbanisasi ini meningkatkan angka kemiskinan yang signifikan. Bisa terlihat, dari tahun ke tahun, Jakarta dipenuhi sesak oleh pendatang baru yang berdatangan mengadu nasib untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Kenyataannya, justru sebaliknya mereka kebanyakan terlunta-lunta di jalanan menjadi tunawisma dan pengemis.
Arus urbanisasi musiman ini terjadi karena masih mengakarnya paradigma pembangunanisme (developmentalism) yang sentralistik. Suatu paradigma yang memaksa banyak orang desa hijrah ke Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya setiap tahun.
Hal ini kemudian membawa konsekuensi berupa kesenjangan visual yang mencolok : antara sebagian besar kekayaan yang dinikmati segelintir warga dan deret kemiskinan di sekitarnya. Tata ruang kota kerap memperlihatkan lingkungan yang timpang ini. Parade permukiman mewah pada satu sisi. Pada sisi lain, rumah-rumah kardus atau tripleks berjejeran di sembarang tempat.9
Arus urbanisasi yang melaju cepat ini, kita tak boleh menyalahkan sepenuhnya pada orang desa yang datang ke kota. Coba kita lihat lebih dekat, apa sebenarnya yang membuat mereka mencari pekerjaan di kota besar? Pemerataan pembangunan adalah salah satu sebabnya. Tidak meratanya pembangunan infrastruktur yang ada membuat orang mencari tempat hidup yang lebih baik.
Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan menyatakan kepada wartawan Galamedia di Bandung Sabtu (4/10) bahwa upaya penekanan arus urbanisasi yang biasa terjadi pasca-Lebaran harus dimulai dari desa. Bila pembangunan desa sangat baik sehingga fasilitas pun memadai, maka diharapkan masyarakat desa tidak ingin berpindah ke kota.10
Mudik juga berfungsi sebagai jaringan informasi tentang lowongan atau kesempatan kerja di kota besar meskipun hal ini menyebabkan masalah. Penduduk di kota besar bertambah setiap tahunnya ketika para pemudik kembali ke kota dengan membawa saudara atau kerabatnya ke kota. Cerita tentang kesuksesan hidup di kota membuat saudara, anggota keluarga, dan bahkan teman terpengaruh untuk meninggalkan keluarga dan desanya dan mengadu nasib di kota besar, dengan harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Fenomena urbanisasi membuat desa-desa kehabisan tenaga produktifnya yang berakibat pada lingkaran kemiskinan dan desa pun semakin jauh dari kemajuan. Namun masih saja ada pada arus balik pendatang yang berdatangan untuk mencari pekerjaan.
Kembali ke fenomena mudik. Arus urbanisasi sebenarnya salah satu penyebab terjadinya mudik. Jika pemerataan pembangunan yang dikelola oleh pemerintah bisa optimal hingga ke daerah-daerah dan desa-desa terpencil. Kemungkinan jumlah pemudik akan menurun dan stabil sehingga tidak akan menimbulkan kemacetan dan risiko kecelakaan dapat diantisipasi. Serta sektor ekonomi akan menunjukkan stabilitas yang cukup baik.

MANAJEMEN TRANSPORTASI YANG SEMRAWUT

Kedua, fenomena manajemen transportasi yang semrawut serta kurang optimalnya infrastruktur transportasi yang ada. Baik di darat, laut, maupun udara. Ataupun masalah jalur mudik yang dilalui, jalanan macet, dan armada yang tak mencukupi. Jumlah pemudik dan armada yang ada cenderung tidak seimbang. Kenyamanan pemudik di perjalanan masih menjadi sesuatu yang mahal dan sulit dimiliki karena berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal.
Faktor internal berkaitan dengan kondisi pemudik. Lihat saja, kenyamanan pemudik hanya dapat dirasakan bagi mereka yang berduit dan membeli tiket eksekutif, sedangkan orang-orang menengah ke bawah yang membeli tiket ekonomi kenyamanan mereka masih jauh dari harapan. Faktor internal yang lain ialah hasrat pemudik yang ingin cepat-cepat sampai tempat tujuan tanpa memperhatikan lagi keselamatan diri. Itulah sebabnya mengapa korban-korban kecelakaan terus berjatuhan dalam arus mudik dan balik. Telah tercatat pada arus mudik-balik tahun 2008 ini, banyak sekali kecelakaan lalu lintas yang tak terkendali, terutama pada H+1. Kendaraan yang sering mengalami kecelakaan yaitu kendaraan roda dua.
Pada Lebaran tahun ini, jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor melonjak hingga 300 % dibandingkan tahun lalu.11
Sedangkan faktor eksternalnya antara lain minimnya armada kendaraan yang nyaman bagi pemudik. Kenyamanan itu harus dibeli dengan mahal dan mewah. Sementara warga kelas ekonomi pas-pasan berjuang keras mendapatkan keamanan dan kenyamanan. Bahkan tak jarang mereka tak peduli kenyamanan dan keselamatan diri ‘asalkan bisa terangkut’ sampai tujuan.
Salah satu contohnya adalah angkutan KA kelas Ekonomi yang namanya Sapu Jagat, yaitu kereta penyapu ketika kereta-kereta lain sudah tidak muat lagi untuk penumpang. Istilah lainnya kereta penghabisan. Harga tiketnya memang murah meriah, tapi perjuangannya untuk mendapatkannya pun tak mudah. Seperti yang dialami oleh Nuryati (50) dan Tuminah (27) yang pingsan karena terjepit di tengah desakan penumpang yang membludak. Perjuangan tak kalah keras juga dilakukan para penumpang KA Ekonomi Kahuripan tujuan Kediri dari Bandung, dan Kutoarjo Selatan. Bayangkan mereka sudah menunggu sejak pagi pukul 09.00, namun keretanya baru berangkat dari Stasiun Kiaracondong pukul 20.00 dan pukul 21.00.12 Meski mendapat tempat duduk tetap harus berdesakan. Mereka rela duduk berhimpitan hingga bermandikan keringat. Kondisi memprihatinkan ini terjadi hamper saban tahun. Walaupun menderita, tapi untuk kaum pas-pasan, kenyataan ini harus tetap mereka jalani dengan semua pengorbanan dan rendah hati khas sikap rakyat jelata. Demi Idul Fitri berkumpul bersama keluarga dan sanak saudara, mereka berjuang dengan sangat keras. Namun pemerintah masih bertindak diskriminatif terhadap kaum miskin dan kaum kaya dalam pelayanan masyarakatnya.

INSTABILITAS EKONOMI & KEAMANAN

Ketiga, instabilitas ekonomi dan keamanan. Membumbungnya bahan-bahan kebutuhan pokok menjadi hal yang biasa berulang tanpa kendali setiap tahun menjelang Lebaran. Fenomena ini barangkali hanya terjadi di Indonesia. Padahal, akibat kenaikan bahan-bahan pokok ini mengakibatkan angka kriminalitas semakin tinggi. Semakin terhimpit ekonomi seseorang, semakin pendek akal pikiran sehingga terpaksa melakukan tindak kriminal.
Karena kejahatan terjadi bukan hanya ada kesempatan, namun juga karena tekanan. Tekanan ekonomi membuat seseorang dapat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dan kebutuhan hidup. Sehingga terjadilah pencurian, penjambretan, bahkan perampokan yang berakhir dengan pembunuhan. Instabilitas ekonomi ini menyebabkan keamanan masyarakat terancam.
Di satu sisi, perasaan rindu berjumpa keluarga dan kampung halaman tidak begitu mudah untuk dihilangkan. Namun di sisi lain, tekanan ekonomi dan jaminan keamanan masih menjadi barang langka bagi kebanyakan pemudik.
Mudik adalah fenomena realitas sosial budaya dan ekonomi yang walaupun tidak ada dasar di dalam ajaran agama namun seolah telah menjadi ritual wajib. Ajang silaturahim terbesar di dunia yang hanya ada di Indonesia. Bukti nyata bahwa di negara ini azas kekeluargaan tetap hidup lestari walaupun justru sering dinafikan para pemimpin, pejabat dan wakil rakyat demi kepentingan sesaat yang sesat sehingga setiap tahun kita melihat bagaimana negara ini gagal melakukan penataan manajemen untuk melayani para pemudik secara layak, aman, nyaman dan bermartabat. Yang kita lihat selalu hanya keruwetan dan berbagai tragedi kemanusiaan yang seharusnya dapat diantisipasi sehingga tidak perlu terjadi.13
Fenomena mudik ini seharusnya harus membuat semua pihak lebih peka terhadap masalah-masalah yang ditimbulkan. Tidak hanya pemerintah, masyarakat pun turut berpartisipasi. Munculnya akar permasalahan mudik timbul karena tidak adanya keseimbangan dalam berbagai hal. Bila pihak pemerintah dan masyarakat dapat bekerja keras dan bekerja sama secara efisien, niscaya masalah mudik akan dapat teratasi. Sehingga nanti tidak akan ada lagi arus urbanisasi yang menekan laju pertumbuhan penduduk, stabilitas ekonomi mulai menunjukkan perubahan ke arah yang lebih maju, dan risiko berjatuhannya korban Laka Lantas (kecelakaan lalu lintas) dapat diantisipasi.

MUDIK DAN NAGREG
Ada mudik, ada Nagreg. Nagreg memang tak pernah luput dari sorotan media. Setiap hari pada masa arus mudik dan arus balik, media tak henti-hentinya mengabarkan situasi Nagreg.
Alasannya, Nagreg selalu menjadi langganan kemacetan dan padat kendaraan ketika arus mudik-balik terjadi. Bagi pemudik, kemacetan itu tak ubahnya sebagai musibah atau hambatan perjalanan.
Namun tidak bagi warga setempat. Macet di Nagreg justru membawa berkah. Dengan adanya kemacetan, mereka dapat mengais rezeki melalui jasa ganjal roda. Tanjakan curam di Nagreg menjadi ladang mengais rezeki bagi warga sekitar yang menjual jasa ganjal roda kendaraan. Menurut warga setempat, masa mudik-balik adalah saatnya ketiban rezeki besar. Itulah sisi yang berlawanan dari situasi mudik. Aneh memang, namun itulah fakta yang terjadi di sekitar jalur mudik Nagreg.14

MUDIK, RITUAL YANG MENJADI PERHATIAN PUBLIK

Mudik, menjadi sebuah ritual yang tak luput dari perhatian berbagai pihak. Mulai dari pejabat pemerintah pusat/daerah-daerah, polisi, tim medis rumah sakit, perusahaan, partai politik, bahkan operator selular.
Perusahaan dan parpol menawarkan jasa mudik gratis pada para pemudik dengan latar tujuan yang berbeda, entah untuk sekedar promosi atau menarik perhatian para pemudik. Operator selular tidak ketinggalan, mereka pun memberikan layanan info mudik dan pos-pos istirahat yang umumnya pengguna operator mereka. Semua pihak disibukkan dengan ritual tahunan ini. Apalagi dengan adanya Gelar Pasukan Ops “Ketupat Lodaya 2008” tingkat Polda Jabar dalam rangka pengamanan Idul Fitri 1429 H yang bertujuan untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi pemudik.

MUDIK, KEUNTUNGAN BEBERAPA PIHAK

Mudik membuat beberapa pihak merasa diuntungkan. Seperti halnya bengkel kendaraan dan SPBU. Beberapa hari menjelang Lebaran, pemilik kendaraan yang akan digunakan mudik mulai melengkapi dan memperbaiki kendaraannya di bengkel. Sedangkan SPBU makin ramai pemudik, memasuki puncak arus mudik (H-3), SPBU di sepanjang jalur Pantura kebanjiran konsumen. Operator SPBU tersebut menyatakan bahwa penjualan BBM, khususnya Premium mengalami peningkatan yang signifikan.
Ironisnya, kondisi itu berbanding terbalik dengan ketersediaan BBM jenis minyak tanah menjelang Idul Fitri, warga sangat kesulitan mendapatkan komoditi itu.15

KORBAN LAKA LANTAS KETIKA ARUS MUDIK & BALIK

Sementara tentang korban kecelakaan, berdasarkan data medis RSHS, selama H-7 hingga H+3 Lebaran sebanyak 1.464 orang telah dilarikan ke UGD RSHS Bandung. Sekitar 20 % (292 orang) diantaranya merupakan pasien kecelakaan lalu lintas selama arus mudik dan arus balik Lebaran 2008. Para korban yang meninggal dunia, semuanya mengalami luka parah di bagian kepala. Rata-rata korban yang dilarikan ke UGD merupakan pengguna sepeda motor. Kepala UGD RSHS, dr. Tri Wahyu Murni menyatakan bahwa jumlah korban Laka Lantas tahun ini dengan tahun lalu tidak jauh berbeda. Kasus Laka Lantas yang banyak terjadi pada H+1, bertepatan dengan Idul Fitri.16

Catatan Kaki (Footnote Sumber Rujukan Makalah)
1http://ini-ano.blogspot.com/2008/09/tradisi-mudik-lebaran-ditinjau-dari.html
2http://id.wordpress.com/tag/teropong/
3http://caninews.com/i/art/mudik01_688_f_244.jpg
4 http://wismabahasa.wordpress.com/2007/10/16/fenomena-mudik-lebaran/
5http://ini-ano.blogspot.com/2008/09/tradisi-mudik-lebaran-ditinjau-dari.html
6Pikiran Rakyat, 24 September 2008, h. 3. Mudik, Merindukan Pulang.
7Tribun Jabar, 29 September 2008, h.5. Dilema Tradisi Mudik.
8Tribun Jabar, 24 September 2008, h. 5. Kembali keTtitik Udik.
9Tribun Jabar, 9 Oktober 2008, h. 5. Urbanisasi & Perpindahan Kemiskinan.
10Galamedia, 6 Oktober 2008, h. 2. Tekan Urbanisasi Dimulai dari Desa.
11Galamedia, 6 Oktober 2008, h. 11. Pantura Dilintasi 188.251 Sepeda Motor.
12Tribun Jabar, 26 September 2008, h. 1. Kereta Ekonomi.
13www.pataka.net/2008/09/29/beragam-istilah-seputar-lebaran
14 Pikiran Rakyat, 27 September 2008, h. 2. Mengais Rezeki dari Kemacetan Nagreg.
15 Tribun Jabar, 26 September 2008, h. 10. Puncak Arus Mudik SPBU Laris Manis.
16Galamedia, 6 Oktober 2008, h. 1. Selama H-7 s/d H+3 Lebaran, 1.464 Orang Masuk RSHS

PENUTUPAN

Itulah sepotong parodi di tanah air di antara segala tetek-bengek kesibukan menuju titik udik. Mudik memang merupakan sebuah harapan bagi semua orang yang merindukan kampung halaman dan tempat tinggal keluarga tercinta. Namun, dibalik itu semua tersimpan banyak fenomena yang bermunculan dari ritual mudik ini.
Demikianlah, makalah yang sederhana ini Penulis sampaikan. Mengingat makalah ini jauh dari sempurna, maka Penulis sangat mengharapkan adanya kritikan dan saran yang membangun demi perbaikan penulisan selanjutnya.

Bandung, 07 Oktober 2008
Penulis

Wildaini Sholihah
Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik – C
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
UIN SGD Bandung

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s