Korupsi Mereka dan Korupsi versi “kita-kita”

Korupsi Mereka dan Korupsi versi “kita-kita”

“Mantan Gubernur BI terjerat tuduhan korupsi…”. Itulah sepenggal kata dari salah satu media cetak yang memberitakan kasus korupsi. Kasus korupsi di atas bukanlah satu-satunya contoh, akan tetapi masih banyak kasus korupsi lain yang serupa.
Sebenarnya apa itu korupsi? Kata-kata itu seringkali terdengar dimana-mana, bahwasannya korupsi merupakan salah satu bentuk penyimpangan sosial yang mengakibatkan terganggunya proses sosial masyarakat bahkan bersifat destruktif dan merugikan. Korupsi merupakan penyimpangan sosial yang bersifat sekunder dan berdampak besar kerugiannya bagi masyarakat.

Definisi Korupsi
Secara etimologis, korupsi berasal dari bahasa latin yaitu corruptio yang artinya busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalikan, atau menyogok. Sedangkan secara terminologis yaitu perilaku pejabat publik baik itu politikus maupun pegawai negeri yang secara tidak wajar dan illegal memperkaya diri mereka dengan cara menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.
Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar mencakup unsur-unsur sebagai berikut :
• perbuatan melawan hukum;
• penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana;
• memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi;
• merugikan keuangan negara atau perekonomian negara;
Selain itu terdapat beberapa jenis tindak pidana korupsi yang lain, diantaranya:
• memberi atau menerima hadiah atau janji (penyuapan);
• penggelapan dalam jabatan;
• pemerasan dalam jabatan;
• ikut serta dalam pengadaan (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara);
• menerima gratifikasi (bagi pegawai negeri/penyelenggara negara).
Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Semua bentuk pemerintah|pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya. Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harfiahnya pemerintahan oleh para pencuri, di mana pura-pura bertindak jujur pun tidak ada sama sekali.
Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa berbentuk sepele atau berat, terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering memudahkan kegiatan kriminal seperti penjualan narkotika, pencucian uang, dan prostitusi, korupsi itu sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja. Untuk mempelajari masalah ini dan membuat solusinya, sangat penting untuk membedakan antara korupsi dan kriminalitas kejahatan.
Tergantung dari negaranya atau wilayah hukumnya, ada perbedaan antara yang dianggap korupsi atau tidak. Sebagai contoh, pendanaan partai politik ada yang legal di satu tempat namun ada juga yang tidak legal di tempat lain.
Menurut hukum di Indonesia, penjelasan tentang korupsi terdapat dalam tiga belas pasal UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU 21 Tahun 2001. Menurut UU itu, ada tiga puluh jenis tindakan yang bisa dikategorikan sebagai tindak korupsi. Penjelasan lebih detailnya bisa kita temukan di Bab 3, tetapi secara ringkas tindakan-tindakan itu bisa dikelompokkan menjadi :
1. Kerugian keuntungan negara
2. Suap-menyuap
3. Penggelapan dalam jabatan
4. Pemerasan
5. Perbuatan curang
6. Benturan kepentingan dalam pengadaan
7. Gratifikasi (istilah lain : pemberian hadiah)

Korupsi merupakan salah satu tindak kejahatan kerah putih (white collar crime) yang dilakukan oleh para penguasa di dalam menjalankan peran-peran sosialnya. Pada umumnya pelaku kejahatan ini memiliki kekuasaan atau kedudukan ekonomi yang kuat, sehingga memungkinkan bagi mereka untuk melakukan suatu perbuatan yang sebenarnya melanggar hukum seperti korupsi, namun mereka dapat terbebas dari ketentuan hukum tersebut.

Macam-macam korupsi
a. Korupsi yang merugikan keuangan negara
• Mencari keuntungan dengan cara melanggar hukum dan merugikan negara
Contoh : Seorang pegawai Dinas Pendidikan sedang melaksanakan proyek pembangunan sekolah negeri. Sang pegawai diam-diam mengurangi jumlah anggaran pendidikan yang digunakan. Di atas kertas tertulis 500 juta, ternyata yang dipakai 250 juta. Dan sisa dari uang itu, ia gunakan sendiri, ini merupakan korupsi yang merugikan negara.
• Menyalahgunakan jabatan untuk mencari keuntungan diri sendiri
Contoh : Seseorang mengkorup anggaran pembangunan jembatan karena dia seorang pegawai Dinas Pekerjaan Umum.
b. Korupsi yang berhubungan dengan suap-menyuap
• Menyuap pegawai negeri
• Memberi hadiah kepada pegawai negeri karena jabatannya
Contoh : Menyuap pegawai Bea Cukai dengan memberinya beberapa hadiah dengan tujuan dibantu dalam penyelundupan mobil illegal. Ini merupakan tindak korupsi.
• Menyuap hakim
Contoh : Seorang terdakwa menyuap hakim agar diberi hukuman yang lebih ringan dari tuntutan jaksa (bahkan kalau bisa dibebaskan sama sekali) dari hukum yang menjeratnya.
• Menyuap advokat
Contoh : Sebut saja Toni dan Rudi bersengketa dalam perebutan tanah. Karena tidak juga selesai, perkara mereka dibawa ke pengadilan. Maka si Toni pun menyuap pengacara si Rudi agar dia mau memberikan pembelaan yang buruk agar tanah yang dimaksud dapat jatuh ke tangan Toni.
c. Korupsi yang berhubungan dengan penyalahgunaan wewenang atau kekuasaan
• Pejabat yang menyalahgunakan uang
Contoh : Seorang pejabat menggelapkan uang atau surat berharga.
• Memalsukan buku keuangan untuk pemeriksaan adiministratif
Contoh : Seorang staf di sebuah instansi pemerintahan, ia bertugas untuk mengatur berapa anggaran yang dikeluarkan dalam membayar biaya perawatan mobil dinas. Biaya yang sebenarnya adalah 25 juta. Dan staf tersebut menuliskan di laporan keuangan bahwa biayanya adalah 35 juta dan sisanya yang 10 juta dimasukkan ke kantong sendiri. Ini merupakan tindak korupsi.
• Menghancurkan bukti korupsi
Contoh : Seorang pejabat di intansi pemerintahan mengetahui bahwa anak buahnya selama ini mengkorup uang kantor. Ketika dilakukan pemeriksaan, pejabat itu menghilangkan laporan keuangan yang bisa membuktikan kalau anak buahnya korupsi.
d. Korupsi yang berhubungan dengan pemerasan
Contoh : Dalam pembuatan KTP yang seharusnya biayanya adalah 10 ribu, lalu sang pegawai negeri memaksa untuk membayar sebesar 50 ribu dengan alasan prosedur yang baru. Ini adalah korupsi.
e. Korupsi yang berhubungan dengan kecurangan
Kecurangan dalam pembangunan
Contoh : Dalam sebuah proyek pembangunan jembatan, si tukang bangunan yang disewa pemerintah berkata bahwa semen yang dipakai untuk proyek ini adalah semen yang paling bagus dan paling mahal. Padahal semen yang dipakai kualitasnya jauh dari sempurna alias sangat buruk untuk dipakai jembatan. Semen itu bisa membuah jembatan mudah roboh. Jelas, ini korupsi.
Dampak negatif dari korupsi
1. Penegakan hukum dan layanan masyarakat menjadi kacau-balau. Seperti dari mengurus SIM kendaraan sampai sidang kasus tilang. Semuanya tidak akan berjalan sebagamana proses hukum karena semua kasus itu diselesaikan oleh uang alias korupsi aparat.
2. Pembangunan fisik dan fasilitas masyarakat menjadi terbengkalai. Salah satu hal yang menyebabkan jalanan rusak atau gedung sekolah rusak atau hampir roboh adalah karena korupsi. Mulai dari mengorbankan kualitas bahan bangunan supaya uangna bisa dikorupsi, sampai membuat proyek yang sebenarnya tidak perlu. Ini semua adalah kelakuan koruptor busuk di Negara kita yang mengabaikan kesejahteraan masyarakat.
3. Prestasi menjadi tak berarti. Seharusnya orang yang menduduki jabatan sebagai penguasa, karena ia memang memiliki kualitas yang baik. Tapi sekarang berbeda, siapa pun bisa menjadi pejabat dengan mudah. Caranya? Apalagi kalau bukan dengan uang. Hasilnya? Banyak sekali pejabat yang tidak becus dalam mensejaterakan rakyat.
4. Demokrasi bisa jadi tidak berjalan. Korupsi menunjukan tantangan serius terhadap pembangunan. Di dalam dunia politik, korupsi mempersulit demokrasi dan tata pemerintahan yang baik (good governance) dengan cara menghancurkan proses formal. Korupsi di pemilihan umum dan di badan legislatif mengurangi akuntabilitas dan perwakilan di pembentukan kebijaksanaan; korupsi di sistem pengadilan menghentikan ketertiban hukum; dan korupsi di pemerintahan publik menghasilkan ketidak-seimbangan dalam pelayanan masyarakat. Secara umum, korupsi mengkikis kemampuan institusi dari pemerintah, karena pengabaian prosedur, penyedotan sumber daya, dan pejabat diangkat atau dinaikan jabatan bukan karena prestasi. Pada saat yang bersamaan, korupsi mempersulit legitimasi pemerintahan dan nilai demokrasi seperti kepercayaan dan toleransi.
5. Ekonomi menjadi amburadul. Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dan mengurangi kualitas pelayanan pemerintahan. Korupsi juga mempersulit pembangunan ekonomi dengan membuat distorsi dan ketidak efisienan yang tinggi. Dalam sektor privat, korupsi meningkatkan ongkos niaga karena kerugian dari pembayaran ilegal, ongkos manajemen dalam negosiasi dengan pejabat korup, dan resiko pembatalan perjanjian atau karena penyelidikan. Walaupun ada yang menyatakan bahwa korupsi mengurangi ongkos (niaga) dengan mempermudah birokrasi, konsensus yang baru muncul berkesimpulan bahwa ketersediaan sogokan menyebabkan pejabat untuk membuat aturan-aturan baru dan hambatan baru. Dimana korupsi menyebabkan inflasi ongkos niaga, korupsi juga mengacaukan “lapangan perniagaan”. Perusahaan yang memiliki koneksi dilindungi dari persaingan dan sebagai hasilnya mempertahankan perusahaan-perusahaan yang tidak efisien.
Korupsi menimbulkan distorsi (kekacauan) di dalam sektor publik dengan mengalihkan investasi publik ke proyek-proyek masyarakat yang mana sogokan dan upah tersedia lebih banyak. Pejabat mungkin menambah kompleksitas proyek masyarakat untuk menyembunyikan praktek korupsi, yang akhirnya menghasilkan lebih banyak kekacauan. Korupsi juga mengurangi pemenuhan syarat-syarat keamanan bangunan, lingkungan hidup, atau aturan-aturan lain. Korupsi juga mengurangi kualitas pelayanan pemerintahan dan infrastruktur; dan menambahkan tekanan-tekanan terhadap anggaran pemerintah.
6. Kesejahteraan umum Negara. Korupsi politis ada dibanyak negara, dan memberikan ancaman besar bagi warga negaranya. Korupsi politis berarti kebijaksanaan pemerintah sering menguntungkan pemberi sogok, bukannya rakyat luas. Satu contoh lagi adalah bagaimana politikus membuat peraturan yang melindungi perusahaan besar, namun merugikan perusahaan-perusahaan kecil (SME). Politikus-politikus “pro-bisnis” ini hanya mengembalikan pertolongan kepada perusahaan besar yang memberikan sumbangan besar kepada kampanye pemilu mereka.
Sebenarnya, masih banyak sekali jenis-jenis korupsi yang sering dilakukan para pejabat atau pengusaha. Namun, korupsi yang bersifat primer (tidak berdampak besar seperti korupsi yang dilakukan para pejabat atau pengusaha) ini ternyata dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari diantaranya :
 Korupsi yang merugikan keuangan keluarga
Contoh : Seorang ibu menitipkan uang belanja pada anaknya. Kalau sampai ada uang kembalian yang dimasukkan sang anak ke dalam sakunya tanpa sepengetahuan ibu, itu artinya si anak sudah melakukan korupsi.
 Korupsi yang merugikan keuangan sekolah
Contoh : Indah adalah bendahara dalam kepanitian Pentas Seni sekolahnya. Di proposal, Indah menulis dana yang dibutuhkan Rp 10 juta, padahal dana yang dibutuhkan hanya Rp 5 juta (dana yang 5 juta lagi dipakai untuk pesta pembubaran panitia).
 Korupsi yang berhubungan dengan suap-menyuap
Menyuap aparat
Contoh : Ketika sedang asyik membawa motor, ternyata tanpa sadar Andi menerobos lampu merah. Lalu, polisi yang ada di sana langsung mencegat dan menilang Andi. Andi meminta damai karena terburu-buru untuk pergi ke kampus – dengan cara memberi uang dalam jumlah tertentu kepada si polisi agar terbebas dari tilang.
Menyuap guru
Contoh : Gara-gara tidak belajar, nilai fisika Rina jelek dan Rina harus rela mengikuti ujian tahun depan. Lalu, Rina mendatangi rumah guru Fisika sambil membawa bingkisan cantik dengan harapan beliau mau menaikkan nilai Rina di rapor. Ini contoh korupsi yang sering dilakukan pelajar yang malas dan banyak uang.
 Korupsi yang menyalahgunakan uang orang lain
Contoh : Seorang ketua OSIS harus menyerahkan laporan pertanggungjawaban keuangan. Ia menuliskan saldo OSIS yang tersisa adalah 10 juta, padahal ada 2 juta yang ia kantongi sendiri. Maka ketua OSIS tersebut sudah menjadi koruptor sekolah.
 Korupsi yang berhubungan dengan palak-memalak
Contoh : Setiap hari Gilang memalak uang dari adik kelas, itu artinya ia melakukan pemerasan. Tidak ada bedanya dengan pegawai negeri yang memeras orang yang seharusnya dia layani.
 Korupsi yang berhubungan dengan kecurangan
Contoh :
– Menyontek, seperti yang sering dilakukan oleh pelajar pada masa-masa ujian sekolah. Teman-teman yang sungguh-sungguh dalam belajar menjadi sasaran pencontekan, apalagi kalau karena ingin mendapat nilai bagus tapi dengan menyontek. Ini merupakan korupsi, yaitu korupsi ilmu.
– Bolos kuliah, merupakan salah satu bentuk kecurangan. Kalau kita bolos kuliah, berarti kita telah mengkorup waktu kita sebagai seorang mahasiswa. Mungkin kita boleh menganggap ini hal yang biasa. Namun, jika terus-menerus pola pikir seperti ini, bibit korupsi akan timbuh dan mengganas di kemudian hari.
 Korupsi yang berhubungan dengan pengadaan
Contoh : Jabatan Aldi banyak, selain menjadi gitaris sebuah band, ia juga baru saja terpilih menjadi ketua panitia Pentas Seni Kampus. Seperti biasa, untuk menyeleksi band yang tampil, diadakanlah audisi. Aldi justru malah membuat keputusan kalau bandnya dapat tampil begitu saja tanpa ikut audisi. Itu namanya Aldi telah melakukan korupsi pengadaan.
 Korupsi yang berhubungan dengan gratifikasi (pemberian hadiah)
Contoh :
– Udin mendapatkan nilai jeblok dalam bahasa Inggrisnya. Tapi karena guru bahasa Inggrisnya kenal baik dan bersahabat lama dengan ortu Udin, akhirnya gurunya itu menaikkan nilai Udin 100 %, yang asalnya nilainya 10 menjadi 100. Jelas, ini korupsi nilai.
– Hadiah dari teman. Suatu hari Rendi bolos kuliah. Ia meminta tolong pada sahabatnya selaku sekertaris kelas untuk mengabsen namanya, agar dikira masuk. Sebagai hadiahnya, sahabatnya itu ditraktir Rendi seusai jam kuliah selesai.
Korupsi di atas merupakan jenis korupsi kita-kita yang mungkin kita sendiri pernah melakukannya. Korupsi, apapun jenisnya merupakan salah satu bentuk penyimpangan sosial karena telah melanggar norma dan nilai sosial yang ada. Dengan penjelasan di atas, kita dapat lebih mengantisipasi tindakan kita agar tidak melakukan penyimpangan sosial yang dapat merugikan orang lain.

Korupsi ternyata salah satu bentuk penyimpangan sosial yang tidak hanya dilakukan oleh para pejabat yang selama ini kasusnya merebak di media, namun kita juga sebagai masyarakat biasa bisa saja melakukan tindakan korupsi, walaupun dampaknya tidak sebesar korupsi para pejabat, namun korupsi “versi kita-kita” ini sama saja merupakan penyimpangan sosial. Dan kita jangan sampai melakukan korupsi, karena bukan saja merugikan orang lain, tapi juga menbjadi dosa buat kita sendiri.

Sumber Rujukan :

– Buku KPK, Panduan Melawan Korupsi
– Situs Wikipedia Indonesia
– Sosiologi Sebuah Pengantar, Soejono Soekanto.
Corruption Around the World: Evidence from a Structural Model. Axel Dreher, Christos Kotsogiannis, Steve McCorriston .

2 Comments Add yours

  1. iDa luph says:

    yang punna blog makaci banget ea, akhirnya aku bisa ngrjakan tugas sekarang ..
    piiisstz ^^

    1. daynishurnal says:

      ia sama-sama, jangan lupa cantumkan sumbernya ia..
      salam kenal! ^^

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s