Penyimpangan Bahasa Jurnalistik dalam Berita Infotainment

Penyimpangan Bahasa Jurnalistik dalam Berita Infotainment

Bahasa Jurnalistik menjadi ”senjata ampuh” kalangan media dalam berkomunikasi massa. Siapa pun yang berkomunikasi massa, yakni komunikasi melalui media massa (communicating with media), seperti menulis artikel atau siaran di radio/tv, harus menggunakan ”senjata” itu agar efektif dan komunikatif.

Bahasa Jurnalistik memiliki dua ciri utama : komunikatif dan spesifik. Komunikatif artinya langsung menjamah materi atau langsung ke pokok persoalan (straight to the point), bermakna tunggal, tidak konotatif, tidak berbunga-bunga, tidak bertele-tele, dan tanpa basa-basi. Spesifik artinya mempunyai gaya penulisan tersendiri, yakni kalimatnya pendek-pendek, kata-katanya jelas, dan mudah dimengerti orang awam. Bahasa Jurnalistik hadir atau diperlukan oleh insan pers untuk kebutuhan komunikasi efektif dengan pembaca (juga pendengar dan penonton bagi media massa elektronik).

Dengan dalih hemat kata, padat, agar ”bertenaga”, membangkitkan mood berita dan pembaca, juga alasan ”buru-buru”, terdesak, atau keterbatasan ruang/waktu, ada beberapa penyimpangan yang terjadi dalam penggunaan bahasa jurnalistik. Penyimpangan ini merupakan kesalahan, namun ada kesalahan yang bisa dimaafkan, forgivable.
Penyebab wartawan melakukan kesalahan bahasa dari faktor penulis karena minimnya penguasaan kosa kata, pengetahuan kebahasaan yang terbatas, dan kurang bertanggung jawab terhadap pemakaian bahasa, karena kebiasaan lupa dan pendidikan yang belum baik. Faktor di luar penulis, yang menyebabkan wartawan melakukan kesalahan dalam menggunakan bahasa Indonesia karena keterbatasan waktu menulis, lama kerja, banyaknya naskah yang dikoreksi, dan tidak tersedianya redaktur bahasa dalam suratkabar.

Beberapa penyimpangan itu antara lain penyimpangan morfologis (bentuk kata), kesalahan sintaksis (kalimat) atau logika bahasa, penyimpangan leksikal (pemilihan kosakata), berupa eufemisme, penyimpangan leksikal (pemilihan kosakata) berupa hiperbolisme/hiperbola (hyperbole), kesalahan ortografis (ejaan), yakni penulisan kata/istilah yang tidak baku, dan kesalahan pemenggalan kata.

Semua produk jurnalistik, baik itu berita, opini, feature, dan sebagainya, harus menggunakan bahasa jurnalistik dan mengacu pada kaidah bahasa jurnalistik. Begitu pula halnya dengan berita infotainment. Semua format yang tampil mengatasnamakan infotainment sebagai penggabungan dari kata ‘Information’ dan ‘Entertainment’ (Informasi dan Hiburan) wujudnya merupakan paket tayangan informasi yang dikemas dalam bentuk hiburan dan informasi yang menghibur.

Kehadiran infotainment amat mewarnai program-program acara di televisi bahkan menempati posisi rating tertinggi yang berarti acara-acara model seperti ini amat digemari oleh masyarakat. Pengiklan pun tak urung berbondong-bondong memasang iklan pada setiap tayangannya tentu saja semakin memacu pengelola media untuk berlomba-lomba membuat heboh acara infotainment yang dikemasnya.
Dipelopori oleh tayangan kabar-kabari lima tahun silam di RCTI, saat ini tidak kurang dari 50 judul acara serupa muncul menyebar di semua stasiun TV termasuk TVRI bahkan Metro TV.

Berita infotainment bukan hanya di televisi, namun dalam media cetak,tabloid dan majalah gosip bak jamur di musim hujan pada zaman sekarang. Dalam tinjauan bahasa Jurnalistik, berita infotainment khususnya yang disajikan dalam media cetak, seringkali menyalahi aturan bahasa jurnalistik.

Dalam berita infotainment, EYD kurang diperhatikan dalam penyajian berita. Isi berita infotainment dari sebuah surat kabar sering memakai kata-kata yang tidak baku. Banyak yang memakai imbuhan –¬in, misalnya dibalikin, dikemanain, dan lain sebagainya. ¬Gaya bahasa ini masih digunakan sampai sekarang oleh beberapa media cetak yang menyuguhkan berita infotainment. Padahal, penggunaan imbuhan–in tidak sesuai tata bahasa Indonesia.

Mengenai isi berita infotainment, selalu terdapat kutipan-kutipan dari narasumber. Artis atau entertainer menempati posisi terbanyak sebagai narasumber dalam berita infotainment. Bahasa yang disampaikan ketika wawancara sering tidak sesuai kaidah bahasa jurnalistik, karena latar belakang artis selalu didominasi dengan bahasa prokem atau bahasa gaul. Wartawan yang mengorek informasi dari artis sebagai narasumber infotainment harus selektif memilih bahasa yang akan dituangkan dalam berita. Bahkan, seringkali informasi yang disampaikan artis tidak logis karena susunan kata-katanya yang berantakan.

Ada 2 jenis kutipan dari hasil wawancara, yaitu kutipan langsung dan kutipan tidak langsung. Kutipan langsung dari narasumber – bisanya didahului dengan tanda kutip “…” – harus dituliskan apa adanya tanpa diubah dari sumber berita, walaupun kadang-kadang bahasanya tidak baku atau bahasa gaul, jauh dari aturan tata bahasa. Contoh kutipan langsung sebagai berikut:

“Kalau Cuma takut mati nggak harus nunggu kiamat, nanti juga kalau waktunya diambil yah mati, kenapa mesti khawatir? Gue lebih takut sama dosa-dosa gue ketimbang mikirin kapan kiamat. Gue juga ibadah nggak harus nunggu mau kiamat, jadi jangan percaya deh,” ujar Kirana saat ditemui di Plaza Senayan, Jakarta Selatan.

Sekilas, untuk memahami kutipan langsung di atas tidak bisa dibaca satu kali, karena susunan bahasa yang kurang baik. Kutipan langsung harus dicantumkan dalam isi berita, walaupun bahasanya tidak sesuai bahasa jurnalistik.

Berbeda dengan kutipan langsung, kutipan tidak langsung harus sesuai kaidah bahasa jurnalistik. Maka tugas wartawan sebagai pengolah berita, harus merujuk pada kaidah bahasa jurnalistik. Mengolah kutipan dari artis sebagai narasumber menjadi bahasa yang sederhana, singkat, jelas, padat, lugas, namun tetap menarik untuk disajikan dalam berita.

Merujuk pada arti sesungguhnya dari infotainment, yaitu informasi yang dikemas dalam balutan entertainment, maka sudah sewajarnya jika porsi informasi lebih banyak daripada porsi hiburan itu. Namun faktanya, kini infotainment justru lebih mengutamakan unsur hiburan dari pada unsur informasi. Ini terkait dengan kandungan informasi misalnya bobot informasi atau penting tidaknya informasi tersebut disampaikan kepada publik.

Mengacu pada teori agenda setting, maka sebenarnya medialah yang telah mengonstruksi pikiran publik sehingga informasi yang sebenarnya tidak penting menjadi penting. Dalam teori yang dikemukakan oleh M.E.Mc Combs dan D.L. Shaw dikatakan bahwa jika media memberikan tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Mereka menjelaskan bahwa ada korelasi positif yang cukup signifikan antara penekanan berita dan penilaian berita oleh khalayak (Effendi, 1993: 287). Dengan kata lain, media membuat sesuatu yang tidak penting menjadi penting, misalnya dengan penekanan atau porsi penayangan berita yang besar.

Inilah yang sebenarnya terjadi pada jurnalisme infotainment. Wartawan infotainment sebenarnya mengorek-orek berita yang tidak penting. Misalnya mengenai peceraian seorang artis. Tapi yang membuatnya menjadi penting adalah penekanan pada unsur artis/ figure yang ditampilkan serta frekuensi penayangan informasi tersebut. Terlepas dari unsur pentingnya informasi, hal yang demikian juga telah melanggar ruang privasi artis. Pelanggaran terjadi ketika sesuatu yang seharusnya berada pada ruang privat diangkat oleh wartawan dan tersebar ke ruang publik. Dan patut disayangkan, undang-undang yang mengatur hal-hal yang demikian belumlah cukup. Wajar jika terjadi pelanggaran di mana-mana.

Namun, sebenarnya hal tersebut juga tidak bisa sepenuhnya disalahkan kepada wartawan sebagai pelaku media. Karena dilema tersebut dibenturkan pada kerja-kerja profesional yang menuntut standardisasi kerja pers. Dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme, Bill Kovach menyebut salah satu unsur dan sarat penting sebuah peristiwa yang dapat dijadikan berita adalah adanya nilai berita yang salah satunya mengusung publik figur. Sehingga peristiwa apapun,-walaupun perihal yang sangat biasa, menjadi penting dan bernilai berita tatkala bersinggungan dengan kehidupan seorang public figur. Termasuk di dalamnya kehidupan artis yang telah merambah pada pemahaman seorang publik figur.

Sumber :
– Jurnalistik Indonesia, Drs. AS. Haris Sumadiria M.Si
– Tribun Jabar edisi Kamis, 19 November 2009 h. 23.
http://www.defickry.wordpress.com

Iklan

One thought on “Penyimpangan Bahasa Jurnalistik dalam Berita Infotainment

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s