Diposkan pada Islam

Pemikiran SYEIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB

SYEIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB

PENDAHULUAN

Allah telah menyempurnakan agama Islam dengan menjaga kitab-Nya sampai hari kiamat. Sebagai bukti penjagaan kitab dan agama ini adalah Allah akan menciptakan ulama pada setiap masa sesuai kehendak-Nya. Hal ini dalam dalam rangka menjaga agama, menghidupkan sunnah dan membimbing manusia kepada jalan yang lurus. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini dalam setiap abadnya ada kalangan yang memperbaharui agama-Nya.
Dalam hadits lain ia juga bersabda, “Akan senantiasa ada dari ummatku sekelompok orang yang tampil dalam membela kebenaran. Mereka tidak membahayakan orang-orang yang menghinakan mereka sampai datang urusan Allah sementara mereka tetap dalam pendirian mereka”.
Sejarah mencatat, di setiap masa yang dilalui ummat Islam, banyak tokoh-tokoh Islam yang muncul dan hadir memberikan kontribusinya pada perkembangan Islam di masanya, dengan tetap berpegang teguh pada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw. Salah satunya adalah Muhammad bin Abdul Wahab, seorang ulama abad ke-18 yang berda’wah mengembalikan Islam kepada citranya yang asli, yaitu al-Qur’an dan Sunnah. Meskipun Muhammad bin Abdul Wahab telah wafat sekitar tiga abad yang lalu, namun kisah dan ajarannya masih menjadi kontroversi hingga kini. Tapi satu hal yang pasti, kontroversi yang menyelimuti seseorang bukanlah tolak ukur yang ilmiah untuk menyimpulkan keburukan atau kebaikan seseorang tokoh. Untuk itu, melihat sosok Muhamad bin Abdul Wahab harus dengan paradigma ilmiah, bukan dengan paradigma kontroversi yang berujung kepada relativisme.

PEMBAHASAN

SYEIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB (1115 – 1206 H/1701 – 1793 M)
Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab dilahirkan pada tahun 1115 H (1701 M) di kampung Uyainah (Najd). Ayahnya adalah seorang tokoh agama di lingkungannya. Sedangkan kakeknya adalah seorang qadhi (mufti besar), tempat di mana masyarakat Najd menanyakan segala sesuatu masalah yang bersangkutan dengan agama. Karena itu, Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga ulama yang terpelajar.
Nasab beliau adalah Syeikh al-Islam al-Imam Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin al-Masyarif at-Tamimi al-Hambali an-Najdi. Beliau merupakan tokoh pemimpin gerakan salafiah yang pernah menjabat sebagai menteri penerangan Arab Saudi.
Sejak kanak-kanak, beliau telah dibina dan dididik dengan pendidikan agama oleh ayah beliau, Syeikh Abdul Wahab. Beliau belajar kitab-kitab fikih mazhab Hambali, tafsir, hadits, aqidah, dan beberapa bidang ilmu syar’i serta bahasa. Beliau sangat menaruh perhatian besar dan concern pada kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnu Qayyim, sehingga pemikiran beliau mendapatkan pengaruh yang cukup kuat dari keduanya. Beliau mementingkan masalah aqidah yang benar dan melakukan purifikasi dari tahayul, bid’ah, dan khurofat.
Muhammad bin Abdul Wahhab berusaha membangkitkan kembali pergerakan perjuangan Islam; para pendukung pergerakan ini sering disebut wahabbi, tetapi mereka menolak istilah ini karena pada dasarnya ajaran bin Wahhab adalah ajaran Nabi Muhammad, bukan ajarannya sendiri. Karenanya, mereka lebih memilih untuk menyebut diri mereka sebagai Salafis atau Muwahhidun, yang berarti “satu Tuhan”.
Istilah Wahhabi sering menimbulkan kontroversi berhubung dengan asal-usul dan kemunculannya dalam dunia Islam. Umat Islam umumnya terkeliru dengan mereka karena mereka mendakwa mazhab mereka menuruti pemikiran Ahmad ibn Hanbal dan alirannya, al-Hanbaliyyah atau al-Hanabilah yang merupakan salah sebuah mazhab dalam Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah.
Bagaimanapun, nama Wahhabi dikatakan ditolak oleh para penganut Wahhabi sendiri dan mereka menggelarkan diri mereka sebagai golongan al-Muwahhidun (unitarians) karena mereka mendakwa ingin mengembalikan ajaran-ajaran Tauhid ke dalam Islam dan kehidupan murni menurut sunnah Rasulullah.
Gerakan ini lahir bukan sebagai pengaruh kemajuan Barat, tetapi sebagai reaksi terhadap paham Tauhid yang dianut kaum awam di waktu itu. Kemurnian paham Tauhid mereka telah dirusak oleh kebiasaan-kebiasaan yang timbul di bawah pengaruh tarekat-tarekat seperti pujaan dan kepatuhan yang berlebihan pada syekh-syekh tarekat, ziarah ke kuburan-kuburan wali dengan maksud meminta syafaat atau pertolongan dari mereka dan sebagainya. Menurut beliau, kebiasaan-kebiasaan itu artinya mengandung syirik atau politheisme dan harus diberantas. Semua itu adalah bid’ah (sesuatu yang asing) yang dibawa orang dari luar masuk ke dalam Islam. Bid’ah itu mesti dibuang dan orang harus kembali kepada Tauhid dan Islam yang sebenarnya.
Dasar Pemikiran dan Pergerakan Wahhabiyyah
Pemikiran Wahabbiyah pada hakikatnya adalah kelanjutan dari mazhab Salafiyyah yang dipelopori oleh Ahmad Ibnu Taimiyah. Mereka tidak membawa pemikiran baru tentang aqidah, mereka hanya mengamalkan apa yang telah dikemukakan Ibu Taimiyah dalam bentuk yang lebih keras, dibandingkan dengan apa yang telah diamalkan Ibu Taimiyyah sendiri. Mereka menertibkan berbagai hal yang bersifat amaliah yang tidak pernah disinggung oleh Ibnu Taimiyyah, karena hal itu tidak begitu terkenal pada zamannya.
Pada dasarnya aqidah yang menjadi landasan gerakan Wahhabi ini adalah dua hal.

Pertama, terfokus kepada masalah tauhid yang murni dalam segala aspeknya. Kedua, memerangi dan menghilangkan bid’ah.

  1. Muhammad bin Abdul Wahhab juga berpendapat bahwa ziarah terhadap kuburan para wali termasuk syirik, dan ber-tawasul kepada mereka akan mengakibatkan rusaknya kemurnian aqidah. Demikian juga halnya dengan ziarah kubur dengan meletakkan makanan dengan keyakinan bahwa ahli kubur dapat memberikan kebaikan atau menolak petaka. Kebiasaan seperti itu banyak ditemui Abdul Wahhab pada masyarakat Yamamah (sekarang Riyadh), yang berkeyakinan adanya pohon kurma yang dapat menunjukkan jodoh kepada wanita atau laki-laki yang terlambat menikah. Abdul Wahhab juga menyaksikan masyarakat yang menziarahi dan meminta berkah kepada sebuah gua yang diyakini memiliki kekuatan ghaib.
  2. Usaha pemurnian yang dilakukan Wahhabi adalah pemberantasan bid’ah, misalnya perayaan Maulid, keluarnya kaum wanita ikut mengiringi jenazah, perayaan-perayaan spiritual, haul untuk memperingati kematian wali, acara-acara yang lazim dilakukan para pengikut aliran sufi untuk mengenang kematian guru atau nenk moyang mereka. Di samping itu, Wahhabi juga menganggap bid’ah beberapa kebiasaan seperti, merokok, berlebihan minum kopi, laki-laki yang memakai kain sutera, mencukur jenggot, dan memakai perhiasan emas.

Secara garis besar tindakan mereka adalah sebagai berikut.

  • Mereka tidak cukup dengan menetapkan ibadah sebagaimana yang ditetapkan oleh Islam dalam Al-Qur’an dan Sunah menurut pandangan Ibnu Taimiyyah. Mereka menghendaki supaya tradisi pun tidak boleh keluar dari lingkup Islam. Kaum muslimin harus mengikuti apa yang ditetapkan Islam. Oleh karena itu, mereka mengharamkan rokok secara keras. Akibatnya, orang-orang awam dari golongan ini menganggap rokok seperti orang musyrik. Mereka menyerupai Khawarij yang mengakfirkan pelaku dosa besar.
  • Pada mulanya mereka mengharamkan kopi dan apa saja yang semisalnya atas diri mereka sendiri. Tetapi kelihatannya sesudah itu mereka menghalalkannya.
  • Mereka tidak merasa cukup dengan berdakwah. Mereka mempergunakan senjata untuk memerangi para penentang dengan anggapan bahwa mereka memerangi bid’ah yang merupakan kemungkaran yang wajib diperangi. Berpegang pada amar ma’ruf dan nahyi munkar adalah wajib.
  • Setiap menempati suatu desa atau kota, kelompok ini menghancurkan dan memusnahkan kuburan. Akibatnya, sebagian penulis Eropa menyebut mereka sebagai penghancur tempat-tempat ibadah. Barangkali pernyataan tentang tuduhan tersebut agak berlebihan, karena kuburan bukan tempat ibadah. Akan tetapi, disinyalir mereka juga menghancurkan mesjid yang berada di samping kuburan. Mereka mendasarkan tindakannya pada hadits yang menyebutkan bahwa Nabi mengingkari tindakan Bani Israil ketika mereka menjadikan sebagian kuburan para Nabi mereka sebagai mesjid.
  • Kekerasan mereka tidak berhenti sampai disini saja, karena mereka datang ke kubur-kubur yang tampak,. Kemudian menghancurkan semua kuburan para sahabat dan meratakannya dengan tanah. Sekarang ini, kuburan-kuburan itu tidak ada kecuali tanda-tanda yang menunjukkan tempat kuburan itu. Mereka memperbolehkan untuk menziarahinya dan ziarah itu cukup dengan mengucapkan salam kepada penghuni kubur itu. Orang yang berziarah cukup mengucapkan, ”Assalamu’alaikum.”
  • Wahhabiah memperhatikan dan melarang hal-hal kecil yang mengandung keberhalaan maupun sesuatu yang membawa kepada keberhalaan, seperti fotografi.
  • Mereka memperluas pengertian bid’ah secara ganjil, sehingga mereka berpendapat bahwa memasang kain penutup pada Raudah merupakan bid’ah. Di samping itu, mereka juga beranggapan bahwa seorang Muslim yang mengucapkan kata Sayyidina Muhammad sebagai suatu bid’ah yang tidak boleh dilakukan.

Sebenarnya Wahhabiah telah merealisasikan pandangan Ibnu Taimiyyah dan bersikap keras dalam memperjuangkannya. Kemudian mereka memperluas pengertian bid’ah. Mereka memandang bebrapa hal yang tidak berhubungan dengan ibadah sebagai ibadah. Padahal sebenaranya bid’ah ialah hal-hal yang dikerjakan oleh seseorang sebagai bagian dari ibadah dan mempergunakannya untuk mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan hal itu tidak ada sumber keagamaannya secara sah.

Metode Dakwah Muhammad bin Abdul Wahab

Dakwah bî al-Lisân

Salah satu metode da’wah Muhammad Bin Abdul Wahab adalah dengan menyampaikan da’wahnya secara lemah lembut, walaupun pada hakikatnya tidak ada kompromi terhadap kemusyrikan.
Contohnya ketika Muhammad bin Abdul Wahab diancam akan dibunuh atau diusir penguasa, yakni Utsman ibn Ma’mar yang mendapat tekanan dari ‘amir Badawi yang mengirim surat ancaman kepadanya dan memerintahkannya agar menghabisi nyawa Muhamamab bin Abdul Wahab. ‘Amir Utsman khawatir seandainya ia tidak menuruti kemauannya, ‘amir Badawi itu akan mogok membayar upeti dan bahkan memeranginya. Maka ia berkata kepada Muhammad bin Abdul Wahab, “’Amir Badawi telah menyurati kami dan menghendaki begini dan begitu, sedangkan kami tidaklah mungkin untuk membunuh anda, namun kami pun takut kepada ‘amir Badawi dan kami tidak mampu untuk menghadapi serangannya. Karenanya, jika Anda memandang baik untuk keluar dari lingkungan kami, lakukanlah!”. Maka Muhammad bin Abdul Wahab menjelaskan dengan lidahnya yang fasih,
“Bahwasannya yang aku da’wahkan ini adalah agama Alah SWT dan penerapan secara sebenarnya dalil kalimat lâ ilâha illallâh. Dari kesaksian Muhammad adalah utusan Allah maka barang siapa berpegang teguh kepada agama Islam ini dan membelanya dengan segala kesungguhan, niscaya akan ditolong dan dikukuhkan Allah SWT sehingga dapat menaklukkan negeri-negeri musuhnya. Jika Tuan sabar, tegak pada yang haq dan menerima karunia da’wah tauhid ini, maka nantikanlah berita gembira. Allah SWT akan menolong dan membela tuan serta akan melindungi tuan dari ‘amir Badawi itu dan yang lain, dan Allah SWT pun akan memberikan kekuatan tuan untuk dapat menundukkan negeri dan kabilahnya.”
Dakwah bî al-Kitâb
Muhammad bin Abdul Wahab memusatkan perhatian untuk menekuni kitab-kitab yang bermanfaat dan dikajinya. Sebelumnya Muhammad bin Abdul Wahab memusatkan perhatiannya untuk menekuni Kitabullah. Ia memiliki buah kajian yang sangat berharga dalam menafsirkan al-Qur’an dan menggali hukum atau nilai darinya. Ia juga memusatkan perhatiannya untuk menekuni sirah rasul dan para sahabat. Ia menekuni itu semua dengan seksama hingga mendapatkan semacam dorongan kekuatan yang dengannya dia merasa diberi Allah SWT kekukuhan batin pada kebenaran.
Selain pandai dalam mendakwahkan islam secara lisan, beliau pun dikenal sebagai ulama yang pandai akan menulis. Muhammad bin Abdul Wahab aktif dalam menulis, ia menjadikannya sebagai sarana da’wah dalam hidupnya. Diantara karyanya yang sangat praktis adalah kitab al-Tawhid al-ladzî huwa Haqqullâh ‘ala al-‘Abid dan Kasyfu al-Syubahât.

Berikut sebagian karya tulis beliau yang tersebar di masyarakat dan menjadi referensi umat dalam mengkaji ajaran islam :
a. Kitabut Tauhid
b. Ushulul Iman
c. Kasyfusy Syubhat
d. Tsalatsatul Ushul
e. Mufidul Mustafid fi Kufri Tarikit Tauhid
f. Mukhtashar Fathul Bari
g. Mukhtashar Zadul Ma’ad
h. Masa’il Jahiliyyah
i. Fadhailush Shalah
j. Kitabul Istimbath
k. Risalah Ar-Radd ‘ala Ar-Rafidhah
l. Majmu’atul Hadits, dll.
Da’wah bî al-Murâsalah
Da’wah bi al-Murâsalah atau yang lazim disebut dengan surat menyurat merupakan salah satu metode yang dipraktekkan oleh Muhamad bin Abdul Wahab dalam menebarkan dakwahnya. Ia menyisihkan waktunya untuk menulis surat-surat dakwah yang disampaikan kepada para penguasa dan ulama. Da’wah bi al-Murâsalah merupakan metode da’wah yang pernah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW. Beliau pernah mengirim surat kepada raja Najasyi, raja Mesir, raja Persia, Rum, Amman dan lainnya. Di dalam surat-surat itu, beliau menjelaskan tentang bahaya syirik yang mengancam negeri-negeri Islam di seluruh dunia, juga bahaya bid’ah, khurafat, dan tahayul.
Berkat hubungan surat menyurat Syeikh terhadap para ulama dan penguasa dalam dan luar negeri, telah menambahkan kemasyhuran nama Syeikh sehingga beliau disegani di antara kawan dan lawannya, hingga jangkauan dakwahnya semakin jauh berkumandang di luar negeri, dan tidak kecil pengaruhnya di kalangan para ulama dan pemikir Islam di seluruh dunia, seperti di Hindia, Indonesia, Pakistan, Afganistan, Afrika Utara, Maghribi, Mesir, Syria, Iraq dan lainnya.
Dakwah dengan Tangan
Besar kemungkinan istilah dakwah melalui tangan ini diambil dari istilah tangan sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi,
“Barang siapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah dia mencegah dengan tangannya, jika dia tidak sangup demikian, maka dengan lisannya, dan jika tidak sanggup demikian maka dengan hatinya, dan yang ini adalah selemah-lemah iman”. (H.R. Muslim)
Hadits di atas kiranya menjadi petunjuk dan pendorong bagi Muhammad bin Abdul Wahab untuk menghancurkan tempat-tempat yang dianggapnya berbau syirik. Hal tersebut dapat dibuktikan ketika Muhammad Bin Abdul Wahab melakukan dakwah dengan tindakan nyata untuk menghilangkan ke-jahiliyah-an dengan tangannya sendiri. Beliau pernah berkata kepada Utsman bin Ma’mar agar menghancurkan kubah yang di bangun di atas kuburan Zaid. Selain makam Zaid, di sana ada juga makam-makam lain. Salah satunya adalah yang disebut makam Dhihar al-Azûr. Makam ini pun berkubah dan dihancurkan juga. Ada juga tempat-tempat yang dikeramatkan seperti kuburan-kuburan, gua-gua dan pohon-pohon yang disembah, juga disirnakan dan dimusnahkan. Dan masyararakat pun telah diberi peringatan agar menjauhi dari semua itu.

Koalisi Dengan Penguasa
Pada awalnya Muhammad bin Abdul Wahab berkoalisi dengan ‘amir ‘Usamah bin Ma’mar di Uyainah. Beliau berencana untuk membangun Islam dengan sistem ibadahnya yang betul dan kehidupan sosial yang sehat, jauh dari segala angkara murka dan maksiat. Dengan dukungan ‘amir ‘Utsman bin Ma’mar, beliau memerangi segala bentuk takhâyul, khurafat dan maksiat yang terdapat di sekitarnya.

PENUTUP

Gerakan pemurnian aqidah yang dilancarkan Wahhabi, yang pada hakikatnya adalah gerakan Salafiyyah yang hanya mengamalkan segala perintah dan ajaran agama hanya dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri sangat terkesan dengan ajaran Ibnu Taimiyyah, bahkan ia menyebut dirinya sebagai murid Ibnu Taimiyyah.
Kalau dianggap bahwa sebuah gerakan tidak terlepas dari kekurangan, barangkali kekurangan dalam pergerakan Wahhabi, yaitu kurang mengindahkan perasaan umat Islam lainnya yang memberikan perhatian kepada makam Rasulullah dan memperingati hari kelahiran beliau. Selain itu, Wahhabiyyah juga kurang memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan pemikiran kreatif serta kurang mengikuti kemajuan pemikiran seiring dengan kemajuan peradaban manusia. Padahal, islam sendiri tidak membembekukkan pemikiran. Sekalipun demikian, tidaklah bijaksana untuk mengecam pribadi pendirinya, yakni Muhammad bin Abdul Wahab, karena ia hanya berusaha untuk memebersihkan kemurnian aqidah islamiah dari kotoran syirik dan bid’ah. Dan Muhammad bin Abdul Wahab, tidaklah semata-mata memerintahkan tentaranya untuk memaksa manusia untuk mengikuti pahamnya, namun ia tetap berusaha hanya dengan mendakwahkan pahamnya untuk didiskusikan.

Bandung, 26 September 2009

REFERENSI

A. Munir, Sudarsono. Aliran Modern dalam Islam. Jakarta : Rineka Cipta. 1994 : 157
Prof. Dr. Imam Muhamad Abu Zahrah. Jakarta : Logos, 1996 : 250-253.
Dr. Mustafa Muhammad Syakkah, Islam Tidak Bermazhab, Jakarta : GIP. 1994 : 392-395.
http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Abdul_Wahhab
http://www.jurnalstidnatsir.co.cc/2009/06/muhammad-bin-abdul-wahab-dan.html
http://www.percikaniman.org/detail_artikel.php?cPub=Hits&cID=277

Iklan

Penulis:

Aku ingin punya ruang yang cukup tuk ekspresikan semua ide dan gagasanku untuk berbagi dengan yang lain. Di sinilah ruang itu...

7 tanggapan untuk “Pemikiran SYEIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB

  1. Good post. I previously to spend a lot of my time yachting and watching sports. It was quite possible the most memorable time of my past and your article really brought back me of that period of my life. Cheers.

    racing gaming seats

    Suka

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s