Tarbiyah Dzatiyah

WE ARE A LEADER

Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab atas kepemimpinannya.”
Umar bin Khathab berkata, “Belajarlah kalian sebelum menjadi pemimpin.”

Setiap kita adalah pemimpin, minimal buat diri kita. Mari kita panjatkan segala puji dan syukur kita pada Allah Rabb semesta alam yang telah menganugerahkan fitrah kepemimpinan buat kita, umat Islam, umat Mulia, umat pertengahan, umat pilihan, sokoguru peradaban. Seperti do’a yang selalu kita usung setelah sholat ditunaikan, (QS. Al-Furqan : 74).

Let’s to the mirror (Mari bercermin)

Bercerminlah! Kita tak perlu bertanya “mengapa hal ini terjadi?” ketika nasib kita tak selaras dengan nasab kita. Akan tetapi, tanyakan pada diri kita masing-masing “apa yang telah dan dapat saya lakukan untuk mengukir prestasi?”

Belajar Mandiri?
“Seremoni tarbiyah” tidak akan efektif bila dari dalam diri tak ada kemauan kuat untuk berbuat

Teachable, mau diajari dan belajar dengan dirinya sendiri. Dialah yang belajar mandiri. Tarbiyah dapat dilalui dengan :
• Majelis ta’lim (pendalaman Islam secara intensif)
• Daurah (training dan pelatihan)
• Tatsqif (tarbiyah tsaqofiyah)
• Rihlah (wisata)
• Mukhayam (kemah)
• Diskusi
• Bedah buku
• Mabit (bermalam bersama untuk meningkatkan keimanan).
Hal itu harus menjadi prioritas dalam proses tarbiyah.

Kita bisa sukses apabila fokuskan diri untuk belajar dan beramal. Selalu meningkatkan skill untuk mengembangkan diri. Kita dapat mengolah dan mengelola potensi anugerah Allah demi kemenangan Islam. Ubahlah pandangan, “Bila terbatas tidak berbuat apa-apa.” Justru keterbatasan itulah sumbu untuk maju.

Keunikan Tarbiyah

Tarbiyah bukanlah untuk membentuk pribadi yang seragam, tetapi justru beragam dan unik. Karena justru yang berbeda itulah sehingga antara satu dengan yang lain dapat saling melengkapi dan menyempurnakan seperti tubuh yang satu (kal jasadil waahid), ka’annahum bun-yaanun marsuusun.
Generasi pertama     : yang meletakkan dasar kebangkitan
Generasi kedua           : yang membangun manhaj
Kita, generasi ketiga : membangun sistem yang kokoh
Let’s begin from ourselves,  ibda’ binafsika, mulailah dari diri kita sendiri. Kita mesti komit di jalan dakwah, konsisten menempa kepribadian, efisien mengelola waktu, dan efektif dalam menata aktivitas.

Allah berfirman,
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah : 44)

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff : 2)

Ashlih nafsaka wad’u ghairaka… Perbaikilah diri sendiri kemudian serulah orang lain pada kebaikan. (Imam Hasan Al-Banna)
“Tegakkan daulah Islam di dadamu, niscaya ia akan tegak di bumimu.” (Imam Hasan Al-Hudhaibi)

WE MUST BACK

“Apabila kamu tidak mampu melakukan shalat malam dan puasa di siang hari, maka ketahuilah, bahwa kamu adalah orang yang terhalang dari rahmat Allah, dan terbelenggu oleh dosa-dosamu.” (Fudhail bin Iyad ra.)

Ikhwahku, kembalilah. Bangun kembali izzah, sebagai aset andalan kita, mahkota kemuliaan umat, power dakwah kita, modal untuk bersuara lantang, menyuarakan kebenaran yang akrab menghiasi hari-hari kita bukan sekedar coretan teori dalam “impian diary”.

Menurut Syaikh Jasim Muhalhil Al-Yasin, di tengah percaturan peradaban, umat senantiasa membutuhkan orang-orang yang piawai dalam memimpin, memiliki kharisma dan yang terpenting menjadi teladan umat dalam melaksanakan tugas-tugas kemanusiaan dan penghambaan kepada Allah.

Tata Ulang Langkah Kita


Peradaban Islam dibentuk dengan kehadiran dan berkumpulnya tokoh yang membentuk fikrah peradaban. Menghadirkan sistem unik sesuai fitrah. Peradaban besar hadir bersama tokoh besar.

Inilah langkah penting untuk mewujudkan muslim kaffah dengan spesifikasi khas, unik dan menarik. Dengan membina diri sepanjang hari.

Sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an,
“…Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d : 11)

Untuk bahagia dunia akhirat, Allah telah menyiapkan semua perangkat tepat dan akurat, “Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang”. (QS. Al-Maidah : 48)

Kuntum khoiru ummah. Kita-lah umat terbaik. (QS. Ali Imran : 110)

Jangan seperti keledai yang memikul kitab yang tebal. (QS. Al-Jumu’ah : 5)

Rasulullah saw. Bersabda, “Al-Qur’an itu pembela bagimu atau penuntut atasmu.” (HR. Ahmad)

Setiap manusia memiliki keunikan masing-masing, tidak dapat diseragamkan atau disamaratakan satu sama lain. Islam mengakui itu. Maka yang terbaik, yang paling beriman, yang paling bertakwa, mereka itulah yang akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah, Inna akramakum ‘indallahu atqaakum, meskipun di tengah manusia mereka hanya dipandang sebelah mata.

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s