Ayah, Kau Yang Kusayang…

Ayah, Kau Yang Kusayang…

Ayahku adalah seseorang yang biasa aku sebut Bapak.

Dulu, lahan usaha Bapak berjualan bambu cukup luas. Ketika itu, aku masih bisa bermain sepeda di halaman matrial yang cukup luas dan memanjat pohon kersen sepuas hati. Akan tetapi, kini semuanya berubah drastis. Tidak ada tempat bermain masa kecil, tidak ada lagi pohon kersen. Yang ada hanyalah ratusan batang bambu yang tersudut di bahu jalan yang semakin menyempit. Aku bertanya-tanya, sampai kapan bambu-bambu itu bertahan, jika jalan kota semakin diperlebar sehingga tak tersisa sesenti pun untuk bambu-bambu Bapak. Aku tak tahu pasti…

Aku menjadi berpikir ribuan kali. Kapan dan bagaimana aku bisa mandiri… Dimana dan kapan aku harus memulai… SEKARANG dan DISINI! Sekarang dan di sini, di jurnalistik! Bismillah aku ingin berusaha untuk mandiri dan segera membantu meringankan beban keluarga. Jangan sampai hasil kuliah tak menghasilkan apa-apa kecuali pengangguran! Aku tak ingin itu semua terjadi.

Sifatku dominan berasal dari Bapak, sama-sama keras dalam hal apapun. Hingga suatu saat, ketika nonton TV pun, kami sering berebut memilih channel. Misalnya, ketika aku sedang asyik nonton “Reportase Investigasi”, tiba-tiba Bapak memindahkan ke channel ANTV tuk nonton PERSIB main bola. Kami sampai pakeukeuh-keukeuh.

Bahkan, Aku sangat sering tak pernah sependapat dengan Bapak. Entah mengapa, kami sama-sama ngotot. Kadang Ibuku sempat kesal sekali karena kami tak mau mengalah satu sama lain. Ibaratnya, kalau sudah berebut acara TV, seperti Tom and Jerry.
Walau di sisi lain. Kami juga sama-sama bersifat humoris. Di saat berkumpul bersama keluarga, kami sering bercanda dan tak kuat tuk melepas tawa. Semua tentu ada moment-nya.

Kreatif, itulah ayahku. Dulu, Bapak pernah membuatkanku celengan yang terbuat dari bambu, unik sekali. Dan pernah membuat meja belajar bikinan sendiri.

Sebelum bertemu dan menikah dengan Bundaku, Bapak yang dulu dan sekarang sangat jauh berbeda. Sekarang beliau sangat rajin melaksanakan Qiyamul Lail atau sholat Tahajud setiap dini hari. Aku salut padanya, kapan ya kira-kira aku bisa seperti Bapak, rajin sholat Tahajud. Masalahnya, tahajudku masih bolong-bolong nih.

Satu hal lagi yang selalu Bapak tekankan pada anak-anaknya yaitu sholat.
Bapak tak henti-hentinya tuk memperingatkan kami agar jangan sampai meninggalkan sholat 5 waktu. Sampai-sampai, jika ada yang melewatkan sholat 5 waktu, beliau mengancam tidak akan memberi uang saku untuk jajan. Ancamannya cukup tepat sasaran, tapi jangan sampai kita sholat karena takut tak mendapatkan uang saku. Batal dong niatnya! Niatkan semua tindakan kita karena Allah.

Ayah.. walaupun kita sama-sama keras kepala, tapi aku tetap anakmu yang menyayangimu. Karena aku bisa sekolah dan kuliah sampai saat ini, itu karena kerja kerasmu menafkahi anak-anak. Terima kasih Ayah…

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s