Sekelumit Cerita dalam Perjalanan Menuju Kampus

Sekelumit Cerita dalam Perjalanan Menuju Kampus

Huft! Kubasuh peluh yang terus mengucur di keningku. Aneh, padahal baru saja aku mandi. Waktu di jam casio-ku menunjukkan pkl. 09.00 wib. Pagi hari saja kota Bandung terasa panas. Apalagi nanti pkl. 12.00. Wah, Bandung! Bandung! Cuacanya panas banget!

Sudah setengah jam aku menunggu bis Damri. Damri butut! Hehehe! Walaupun begitu, cuma Damri satu-satunya kendaraan menuju kampusku yang berada di daerah Cibiru. Damri jurusan Elang-Cibiru. Udah lama bisnya, armadanya terbatas, dan butut lagi! Haha! Sudahlah, aku nikmati saja semuanya! Daripada terus menggerutu dan menolak keadaan…

Akhirnya, bis datang… Bismillah, aku naik dan seperti biasa kucari tempat duduk dekat jendela, supaya bisa menikmati AG. AG? Iya, AG! “Angin Gelebug!” Damri bagus sih punya AC, nah, kalau Damri butut. Ups, maksudnya Damri sederhana punya fasilitas andalan. Angin Gelebug tea… hihihi! Aya-aya wae!

Bis mulai merayap perlahan dan perlahan. Tempat duduk di sampingku masih kosong. Ah, mudah-mudahan yang naiknya perempuan. Kalau bukan sesama mahasiswi, ya, minimal ibu-ibu deh! Kenapa mesti perempuan? Hm… sebenarnya aku trauma, gak nyaman kalau yang di samping laki-laki. Apalagi yang mencurigakan. Aku pernah duduk dengan pencopet. Tapi Alhamdulillah, aku tidak apa-apa, karena aku langsung turun di Pusda. Sekarang sih gak nawar-nawar lagi. Namun, aku tetap berdo’a dalam hati, mudah-mudahan Allah selalu melindungiku. Dan aku harus berbaik sangka dan tetap waspada.

Pak kondektur mulai menagih ongkos pada para penumpang. Kuserahkan dua lembar uang ribuan. Uang kembalinya 200 rupiah. Lumayan, buat pengamen! Hehe! Murah banget kan! Daripada naik becak dari Elang sampai Cibiru. Bisa lebih dari 100 ribu tuh, buat berobat si Emang becak soalnya gak kuat berkilo-kilo mengayuh becak. Kaki bisa bengkak tuh! Apalagi jalan kaki! Hah, yang bener aja! Tapi serius! Aku pernah jalan kaki dari perempatan Kircon sampai Cicadas. Gak ada angkutan bro! Soalnya waktu itu ada demo besar-besaran supir angkot yang menolak operasi TMB (Trans Metro Bandung). Angkot gak narik, Damri semuanya balik ke pangkalan. Resiko penumpang deh, terlantar di pinggir jalan. Akhirnya, aku bersama puluhan penumpang lain diantar mobil Dalmas polisi. Alhamdulillah hati rada tenang, pengen nyampe rumah cepet-cepet! Soalnya takut huru-hara. Tapi, hatiku kembali was-was, yah kok malah diturunkan di Samsat. Pak polisi! Rumahku masih jauuh, Pak! Anterin dong sampai rumah! Teriakku dalam hati.

Oaahmmm… Aku mulai mengantuk, perjalanan menuju kampus setiap hari kutempuh selama 1 jam lebih. Tidur sepertinya jadi pilihan tepat. Ups, tidak selamanya sih! Sebenarnya terkadang aku selalu merenungkan apa yang kulihat sepanjang perjalanan. Semuanya bisa menjadi ide untuk kuungkapkan dalam sebuah tulisan.

Melihat seorang Bapak Tua penjual ulekan alias mutu-coet di pinggir jalan membuatku jadi terenyuh sendiri. Kasihan, kataku dalam hati. Pak Tua itu menyusuri jalanan kota Bandung dan tak letih memanggul ulekan batu yang sungguh berat. Hm, kedua pundaknya begitu kuat menahan beratnya ulekan batu. Semuanya ia lakukan demi keluarga. Tiba-tiba aku jadi berangan-angan tentang Bapak Tua itu. Ah, yang pasti semua itu membuatku teringat akan kerja keras seorang Ayah. Aku jadi ingat Bapak di rumah. Karena beliau-lah, sampai saat ini aku bisa kuliah. Hm, sebenarnya aku ingin mandiri. Tapi, kini biaya kuliahku masih bergantung pada orangtua. Nah, aku bertekad dalam hati, hasil kuliahku tidak boleh sia-sia. Aku tak mau kalau lulus nanti, aku menambah angka pengangguran negara. Hii, gak deh!

Jreng! “Maaf penumpang sekalian, untuk kesekian kalinya Kami mengganggu….” Ah, pengamen! Mudah-mudahan lagunya enak didengar. Hm, kayak yang mau ngasih aja. Kurogoh sakuku, ada uang logam 500 rupiah. Dan pengamen itu pun mulai bernyanyi, Kau kan selalu tersimpan di hateeku… Meski ragaku tak dapat kumilikeee. Gubragg! Gendang telingaku seperti mau pecah, ah, gak enak tau lagunya! Kumasukkan lagi uang logam 500 ke dalam sakuku. Gak jadi ah!

Belum lama pengamen tadi turun, datang lagi serombongan pengamen. Hm, sepertinya band pengamen. Ada 4 orang. Dua pemain gitar, biola, dan drum. Hilap! Hilap..hilap..hilap..! Hilap deui laguna! Lho, itu kan lagu Kuburan, kok jadi sunda liriknya. He! Lucu juga dan lumayan enak didengar daripada pengamen tadi yang bersuara cempreng. Cring! Kumasukkan logam 500-ku ke bungkusan permen sang pengamen. Hm, kalau dihitung-hitung, selama di bis, pengamen bisa mencapai 10 orang. Pergi satu, datang lagi, pergi satu, datang lagi. Pengamen, pedagang asongan, sampai Peminta-minta datang silih berganti. Yah, namanya juga Damri rakyat. Hahaha!

Sekelumit cerita ini sebenarnya masih panjang dan masih banyak yang ingin aku ceritakan, tapi cukup di sini dulu ya. Nantikan cerita selanjutnya… ^^.   By : Wildainish Zund 190809

2 Comments Add yours

  1. ha ha ha….
    jadi inget masa-masa muda dulu…
    sekelumit kisah ku di damri sangat banyak..
    mulai dari gak dianggap ama sopir damri (gak keliatan), pasedek-sedek dengan penumpang lain, yang paling menarik ketiduran di bus ampe depan samsat… huh seru plus menggelikan..
    yah, benar juga sich… Qt nikmati saja semuanya… alias jgn menggerutu…
    keep smile and spirit…

    1. daynishurnal says:

      ia.. emang hal-hal sederhana yang qta alami, seringkali memberikan kenangan yang unik n sulit dilupakan.. ^^

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s