Sepatu

Sepatu.

Seringkali aku bertanya.

Kapan sepatu mulai dipakai manusia untuk berjalan…? Pertanyaan yang sebenarnya bisa langsung terjawab jika kucari di antara jutaan file dalam Google.

Tapi…

Lebih sering aku mengamati. Tepatnya memerhatikan deretan sepatu-sepatu orang lain ketika berada dalam bis atau sedang duduk di teras mesjid (Kurang kerjaan? Mungkin!)

Mengapa ya, langkahku seakan ringan dan nyaman ketika memakai sepatu kets atau sendal gunung…? Hm..

Sebaliknya, ketika aku memakai sepatu pentopel. Huah, langkahku seakan terbatasi dan tak nyaman sekali. Berat melangkah. Aneh memang. Ibu seringkali memaksaku untuk mencoba sepatu perempuan yang berhak sedikit tinggi (yah, sekitar 5 senti-an :-P) , lalu aku pun mencoba. Belum beberapa langkah ke depan. Gedubrak! Tijalikeuh-lah kakiku (bahasa Jermannya tersaruk.. Hhaha ^_^). Entah karena belum terbiasa atau memang sama sekali tak bisa. Intinya aku tak suka memakai sepatu pentopel apalagi ber-hak tinggi.

Itu soal lain. Soal kenyamanan memakai sepatu. Setiap orang berbeda selera khan?!πŸ˜€

Kembali ke alinea lima. Aku selalu mendapat pencerahan dan renungan kala memerhatikan satu per satuΒ  sepatu yang dipakai orang lain. Ada yang mewah, glamour, terkesan high class. Ada juga yang cuek, meski sudah sobek atau bolong-bolong – entah disengaja atau tidak, aku tak tau – masih saja tetap dipakai. Wah, orang yang sederhana. Memakai sepatu yang sebenarnya sudah tidak layak lagi dipakai. Hmph,

Dan aku pun melihat sepatuku sendiri. Hm, masih bisa dipakai. Walaupun pinggirnya agak terbuka. Dan belakang sepatu terlihat tergerus karena gesekan dengan tanah saat melangkah.

Ah sepatu… Kau buatku mengerti. Walau terlihat sepele. Tapi tampilanmu menentukan performa dan pribadi si pemakai.

Aku tidak lagi menggerutu melihat sang sepatu mulai menganga. Toh, aku memang cuek. Tak terlalu memikirkan bagus atau tidaknya. Yang penting masih bisa dipakai.

Hha, sepatu… sepatu…

Sulit juga ya ungkapkan perasaanku tentang dirimu. Yang pasti, terima kasih telah membuat langkahku semakin mantap. Walau wujudmu mulai menganga…

Ditulis saat teringat sang sepatu bermandikan lumpur Ranca Upas dan tak bisa lagi menemani langkahku yang panjang. Jadilah aku beli sepatu kets yang baru. Alhamdulillah masih bisa membeli sepatu. Orang lain yang masih saja ada yang setia dengan sendal swallow.πŸ™‚

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s