Terima Kasih Guruku

Terima Kasih Guruku

Guru adalah sosok yang membuatku haus akan ilmu. Sejak TK sampai sekarang kuliah. Aku banyak menemukan sosok guru yang berbeda-beda. Ada yang bijak, lemah-lembut, tegas, bahkan killer. Hi! Pokonya banyak suka-duka bersama guru.

Guru-guru TK, seingatku mereka sangat penyayang pada murid-murid nakalnya. Wajar dong, guru TK kan harus mengerti psikologi anak. Salut deh sama guru TK, perjuangannya dalam mendidik generasi kecil memang tidak bisa dianggap enteng. Kesabaran menjadi guru TK sangatlah diperlukan. Oya, aku masih ingat, kemarin-kemarin aku ditawari oleh Guru Ibtidaiyahku untuk mengajar di TK Al-Qur’an. Aduh, gimana ya… banyak pertimbangannya. Akhirnya, aku tidak menerima tawaran itu dengan alasan aku memang sedang sibuk-sibuknya menghadapi UAS Kuliah. Padahal sih, aku sadar diri bahwa menjadi seorang guru TK itu bukan tipeku. Aku tak sabaran, bahkan untuk menjadi guru TK, aku terlalu sangar. Gawat dong, kalau aku kejar-kejar anak didik sambil bawa gagang sapu karena saking keselnya sama kenakalan anak TK. Gedubrak!


Di SD, selama 6 tahun, aku diajar oleh guru-guru yang berbeda style mengajarnya. Kalau guru 1 SD memiliki sedikit kesamaan seperti guru TK, karena punya kesabaran lebih. Guru kelas 2 SD, sebut saja Ibu N, aku masih ingat dia itu galak banget, sampai-sampai lupa bawa pensil, dibentak-bentak. Pokonya galak dan jutek deh! Pas SD, guru yang menurutku paling berkesan yaitu Pak  Sha, guru kelas 6. Beliau itu keras dan tegas, tapi kocak banget! Pak Sha sangat disegani oleh murid-muridnya. Aku juga pertama kali melihat wajah seramnya, aku tlah membayangkan, ini guru kayaknya galak banget! Hehehe!

Memasuki masa Tsanawiyyah dan Mu’allimin, aku memanggil guru-guruku dengan panggilan Ustadz atau Ustadzah. Tapi, kebanyakan sih di Pajagalan gurunya rata-rata laki-laki, perempuannya hanya sedikit. Ustadz di TSN dan MLN merupakan sosok yang berwibawa dan kharismatik. Namun, tetap akrab dengan santrinya.

Aku slalu merindukan pelajaran Tajwid Qur’an. Kalau, udah denger Ustadz E.Hidayat melantunkan ayat Qur’an, duh.. indah dan merdu terdengarnya. Ustadz itu luchu banget, walaupun udah sepuh, tapi masih suka heureuy sama santri-santrinya. Sampai suatu saat, selesai jam pelajaran, kita disuruh nyanyi “Gelang Sipatu Gelang”. Aduh, rindu banget masa-masa itu. Dan ustadz MLN adalah yang paling berkesan menurutku. Di sana, aku banyak mendapatkan ilmu agama yang sangat berharga. Aku justru tak pernah merasa digurui oleh Ustadz-ustadz. Tapi, mereka membimbing dan membuat agar santri berpikir lebih dewasa.

Terima kasih guruku atas semua pengorbananmu. Semoga transfer ilmu yang Engkau lakukan selalu bermanfaat dunia-akhirat. Amiin.

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s