Marah

Marah

Marah. Marah itu hal manusiawi. Manusia punya rasa marah bila diusik atau terganggu zona nyamannya. Dan marah itu wajar. Permasalahannya adalah marah yang wajar itu seperti apa ya??

Tulisan ini dibuat bukan untuk menjelaskan marah yang wajar. Tapi, mencoba menguraikan suasana hati ketika sedang marah.

Saat marah, yang kurasa jantung berdegup lebih kencang, seperti genderang yang mau perang… (Wah, wah, kaya lagu nih! ^^) Ya, ketika marah, kepala seperti mendidik. Tangan terus terkepal. Sepertinya puas jika bisa menghancurkan sesuatu. Ini mulai masuk marah yang tidak wajar. Dan jujur, aku merasakan hal itu.

Zona nyaman terganggu, hak privasi dilanggar, merasa terusik, mungkin bisa menjadi sebab-sebab marah itu muncul.

Yang pasti, ketika marah. Ada energi negatif yang mendorongmu untuk berbuat sesuatu yang merusak. Kalau tidak pada objek kemarahan, biasanya pada barang-barang yang ada di sekeliling. Parahnya, energi negatif seperti ini mudah disulut api kemarahan. Terlebih, jika mata hati telah tertutup dan kemarahan mendominasi diri. Buta hati dan hawa nafsu yang berkuasa. Setan pun ikut terbahak dan bertepuk tangan dengan keras. Hebat! Hebat! Manusia kini lebih “setan” dari setan!!! Hahahahahaha!! Setan pun bergumam, “Aku tak ikut campur terlalu lama, toh nafsunya juga sudah meraja, hatinya telah menjadi keras membatu.”

Marah. Antara marah yang bijak dan marah yang merusak. Marah yang bijak di zaman seperti ini sangatlah sulit ditemukan. Atau jangan-jangan, kita pun jarang bahkan tak bisa marah dengan bijak. Kalau marah yang merusak? Jangan tanya lagi. Jika kita menunjukkan sampel marah yang merusak seperti apa, tak usah bingung. Terlalu banyak sampel yang harus dijadikan contoh dan membuat kita mengurut dada.

Cobalah tengok judul berita di halaman surat kabar harian. Judulnya seolah sudah dianggap biasa, bukan hal yang tabu. Padahal jika dilihat dari sisi kemanusiaan, judul berita itu sangat membuat miris ketika dibaca kalimat demi kalimatnya. Contoh, “Suami Cemburu, Nekat Bakar Istri”. Biasa kita temui judul-judul serupa yang dianggap biasa namun tragis. Masih ingat anggota dewan saling adu mulut bahkan hampir adu jotos dapat rapat parlemen???

Sebab apa? Karena marah. Marah yang melebihi batas kewajaran. Marah yang berujung maut. Melepas atom-atom negatif dalam diri dengan merusak apalagi membunuh nyawa manusia bukanlah hal yang benar. Bahkan, terbilang biadab. Marah mungkin bisa dilampiaskan seketika dengan merusak sesuatu. Tapi, itu bukan menyelesaikan persoalan. Justru menimbulkan persoalan baru yang menjadi bumerang mematikan. Walaupun amarah telah terbayar seketika. Efek dari perusakan atau menyakiti hati orang lain akan meninggalkan luka lama yang sulit dihilangkan. Apalagi sampai menghilangkan nyawa orang lain. Merugi dunia akhirat.

“La Taghdhob! La Taghdhob!” itulah pesan Rasulullah pada umatnya. Mengucapkan “Janganlah engkau marah” sampai dua kali. Mungkin ini pertanda bahwa kita memang harus berhati-hati ketika marah. Orang marah bisa melakukan apa saja demi melampiaskan amarahnya.

Sering beristighfar. Jika marah ketika berdiri, lebih baik duduk. Jika masih saja marah. Berwudhulah… itu metode ampuh yang bisa meredam amarah dengan bijak.

Namun, untuk manusia sepertiku. Hal itu ternyata belum bisa meredam amarahku sepenuhnya. Hanya dengan menulis. Ya, menulis. Bisa membantuku meluapkan isi hati dan pikiran. Meluapkan kekesalan yang kurasakan. Menulis bisa membantuku melihat lebih jernih.

Makanya, jika marah, aku memilih untuk diam. Aku tak ingin lisanku menusuk hati orang lain. Sudah cukup lidah berulah. Lebih baik kutumpahkan pada tulisan. Agar hati lebih tenang. Dan setidaknya aku belajar marah dengan bijak.

Shizunda Ijund

Ditulis saat kesal  dengan keadaan. Mencoba memahami dengan memperbaiki sikap. Masih belajar pada realita kehidupan.

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s