Aku, Dulu, Sekarang, dan Esok Hari

Aku, Dulu, Sekarang, dan Esok Hari

Banyak cerita, banyak kisah tentang ke”aku”an. Bahkan Chairil Anwar pun terkenal dengan puisinya “Aku binatang jalang”. Sedangkan aku juga mencoba untuk mendeskripsikan sebuah essei diri tentang Aku.

Berubah. Itu tema besar tentang aku sekarang. Tema pendukung lainnya adalah berbeda. Yupz, aku dulu dan sekarang adalah seorang yang jauh berbeda. Bahkan, aku pun sulit percaya jika mengingat-ingat aku yang dulu. Rasanya bukan aku. Selalu saja ada ungkapan demikian. Namun, hati kecil berbisik. Itu semua adalah proses dalam episode hidupmu. Ada kalanya begini, ada kalanya begitu.

Dulu, aku begitu pemalu dan minder warder (hheu, kosa kata apa ini, ngaco sangat ya.. ^^). Ya, peminder. Malu bertanya alias kuuleun. Bertanya alamat pada orang saja, malunya setengah mati. Disuruh jawab telepon, ogah-ogahan. Speechless, susah ngomong, malah tergagap-gagap.

Sekali dipojokkan teman, aku langsung drop. Atau disinggung sedikit. Nyaliku ciut hingga jatuh tersungkur dan kehilangan percaya diri. Dan bisa dibilang aku orang yang introvert. Tak suka keramaian dengan hobi menyendiri di kamar saat sanak saudara berkumpul di rumah. Ah, pokoknya parah sangat.

Dan, entah kenapa sekarang jauh berbeda 180 derajat. Rasa malu itu sedikit demi sedikit tak terlalu over. Eits, tapi bukan tak tahu malu ya. Intinya, jadi sedikit bernyali. Yang tadinya malu bertanya, sekarang malah banyak tanya. Yang tadinya sudah ngomong, sekarang jadi… BISA ngomong, ya walau kadang sedikit asbun biar eksis. Hheu. Upz, gak deh, sekarang lebih teoritis argumennya. Nah, malah narsis… pokoknya jadi berbeda dengan aku yang dulu. Berubah haluan jadi orang yang ekstrovert. Mudah bergaul dengan siapa saja. Alhamdulillah.

Semua itu terjadi semenjak… aku masuk organisasi, tepatnya ketika Mu’allimin dulu (setingkat SMA). Awalnya memang aku begitu blank tentang organisasi itu apa dan bagaimana seluk-beluknya. Namun, lama kelamaan sikap dan pola pikirku sedikit lebih maju daripada dulu. Sedikit-sedikit bisa berargumen dan merencanakan program sebuah kegiatan. Wah, organisasi memang memberiku pengalaman yang berharga.

Dan ternyata… tak hanya itu. Aku semakin menemukan jati diri yang sebenarnya ketika masuk dunia kampus. Memegang peran sebagai mahasiswa. Tahukah kawan? Ketika aku masih duduk di bangku SMA, aku justru memandang sinis pada yang namanya “Mahasiswa”. Huh, kerjaannya demo melulu. Dikit-dikit demo turun ke jalan, dan… anarkis. Apa istimewanya sih mahasiswa kalo kerjanya Cuma demo turun ke jalan. Nah, itu yang menyempil dalam benak ketika itu. Mahasiswa, No More deh!

Eh, ternyata… sekarang ketika aku telah mengenal dunia kampus dan mengambil peran menjadi mahasiswa. Pikiranku benar-benar berubah dan tersadarkan dari kebiasan berpikir tentang sosok mahasiswa. Ternyata… mahasiswa itu memiliki tanggung jawab moral yang cukup berat. Mahasiswa yang menentukan arah peradaban sebuah bangsa. Generasi muda yang menjadi dinamo estafet peradaban. Wah, berat euy. Dan tentunya sebagai agent social of change. Nah, aku jadi berkali-kali berpikir sudahkah aku menjadi Mahasiswa seperti itu. Hm, rasanya belum, masih jauh dari harapan ideal. Tapi, harus kuwujudkan. Jangan hanya gaya jadi mahasiswa, tapi tak punya karya sedikit pun. Mau jadi apa? Apa hanya cuma jadi status di KTM (Kartu Tanda Mahasiswa)??? Jangan sampai…

Ternyata sifat malu bertanyaku itu kini telah terganti dengan banyak bertanya. Hm , ini mungkin efek dari jurusan yang aku ambil di kampusku. Jurnalistik. Ya, jurnalistik. Sebuah prodi (program studi) yang tak main-main dengan bahasa. Istilahnya di jurnalistik, bahasa adalah senjata dan kata-kata adalah pelurunya. Dorrr!!!😀

Menjadi mahasiswa jurnalistik, sebenarnya bukan impianku. Maunya sih jadi arsitek atau desain grafis. Eh, malah masuk jurnalistik. Yo wis lah tak opo-opo. Kujalani saja sekarang. Dan sebenarnya episode waktu kecil sepertinya sinkron dengan pilihanku masuk jurnalistik. Ketika kampanye 2004 lalu, aku jalan-jalan bawa tape recorder saat arak-arakan pawai meramaikan jalanan. Aku pun ikut riweuh sendiri sambil merekam suaraku, ceritanya pura-pura jadi reporter terus mewawancarai saudara sepupu tentang ramainya pawai partai. Wah, pokonya anak bau kencur yang ngelakuin hal-hal yang konyol. Kalau kuingat hal itu jadi cekikikan sendiri. Hihihi lucu banget ya gue…😛

Nah, sekarang pas jadi mahasiswa jurnalistik. Ternyata memang begitu penuh tantangan. Tugas cari berita ke empat penjuru mata angin. Hheu, lebay. Tugas hunting foto sambil jalan-jalan dan banyak hal yang menarik lainnya. Dan yang paling menyenangkan bagiku adalah hunting foto dan menulis. Ada kepuasan tersendiri saat angle foto yang kuambil benar-benar tepat dan menarik. Wah, ternyata aku bisa juga seperti ini. Bisa jadi calon fotografer. Amiin. ^_^ memang tak pernah terbayangkan sebelumya. Kalau dulu benar-benar amatir, jepret sana-sini dengan kamera film jaman dulu. Sekarang setidaknya menenteng-nenteng kamera digital (kamera SLR belum kebeli bro! Hhe) untuk mengambil objek foto yang unik. Di jurnalistik, aku seperti ini.

Beginilah aku yang sekarang. Entahlah aku di esok hari, tak bisa memastikan. Hanyasaja, aku yakin, apa-apa yang kujalani hari ini, setiap proses yang kulalui saat ini, akan menuai hasil di masa depan. Hasil yang tergantung proses yang kujalani. Yang pasti, aku akan merancang grand desain masa depan sebisaku. Dan tak ada lagi kata minder dalam kamus hidupku, walaupun ia pernah muncul dalam episode masa laluku. Sekarang, NO MORE! Keep fighting for better life!

One Comment Add yours

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s