Kritik Take Me Out Indonesia

Analisis Media

Take Me Out Indonesia

Pendahuluan

Sejak televisi swasta bermunculan,  dari     masa ke masa satu sama lain  media televise swasta tak henti-hentinya menyuguhkan tayangan  yang dapat meraih rating tertinggi.  Saat itu pemilik media menentukan  kebijakan redaksional dengan memperhatikan selera pasar yang sedang terlihat. Jika sedang marak acara musik. Maka semua televisi swasta menyuguhkan acara musik dengan kemasan yang berbeda-beda. Atau jika selera masyarakat sedang menggemari sinetron, maka masing-masing chanel juga berlomba dengan suguhan sinetron bernafaskan cinta, konflik, dan bahkan misteri.

Reality show merupakan tayangan televisi yang makin hari semakin digandrungi masyarakat kita. Hampir setiap stasiun televisi memiliki acara reality show. Tayangan televisi tersebut telah lama memasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat. Biasanya waktu tayangnya berkisar pada sore dan malam hari.

Acara reality show di Indonesia diramaikan dengan program acara biro perjodohan bernama Take Me Out Indonesia. Acara ini tentang 30 perempuan berusia 20-40 tahun berstatus single. Mereka mencari pasangan. Bisa untuk suami, pacar, atau sekedar coba-coba. Di setiap episodenya, ada 7 pria single yang keluar satu demi satu untuk dipilih dan memilih para perempuan itu.

Suksesnya acara Take Me Out, memunculkan acara serupa dengan judul Take Him Out yang berisi kebalikannya. Take Him Out berisi 30 pria single dan 7 perempuan single di setiap episodenya.

PEMBAHASAN
Analisis Tayangan TV

A. Deksripsi Reality Show Take Me Out Indonesia

Take Me Out Indonesia merupakan sebuah acara televisi yang ditayangkan oleh Indosiar setiap hari Sabtu pada pukul 18:00 malam. Acara ini pertama kali dimulai pada tanggal 19 Juni 2009. Dipandu oleh MC Choky Sitohang dan Yuanita Christiani.

Take Me Out, sebuah program televisi yang lisensinya dipegang FremantleMedia. Saat ini Take Me Out telah ditayangkan di 3 negara Eropa (Spanyol, Netherland, Denmark), menyusul United Kingdom. Take Me Out memang tayangan adopsi dari luar negeri.
Take Me Out Indonesia dinobatkan sebagai acara Reality Show terfavorit di The 13th Annual Panasonic Gobel Awards 2010 pada 26 Maret 2010. Acara ini merupakan acara yang dijadikan sarana biro perjodohan bagi mereka yang belum memiliki pasangan. Karena hal itu menjadi syarat bagi mereka yang ingin menjadi peserta Take Me Out Indonesia.

B. Setting Take Me Out Indonesia

Untuk menjadi peserta Take Me Out Indonesia, tidak ada syarat dan ketentuan yang memberatkan. Warga negara Indonesia Usia 20 – 40 tahun, tidak terikat hubungan pernikahan adalah syarat utama peserta yang boleh ikut serta dalam program acara ini. Janda maupun Duda pun boleh tampil untuk menarik simpati lawan jenisnya. Para wanita berhak untuk memberi kesempatan sang Pria untuk lebih mengenal mereka lebih dalam ataukah tidak, lewat kode lampu yang mereka nyalakan di atas podium. Dari lampu yang masih menyala itulah, Sang Pria akan memilih Gadis Idaman yang sesuai dengan pilihan hatinya, tentunya lewat beberapa pertanyaan yang ia berikan kepada wanita-wanita tersebut.
Dalam reality show ini, para peserta yang terdiri dari 30 orang “jomblowati” berdiri di atas podium dan akan ditawarkan 7 jomblowan dari karakter dan latar belakang yang berbeda-beda. Biasanya yang dilihat dan dipertimbangkan seorang peserta wanita terhadap para calon pasangan prianya adalah penampilan sang pria, usia, dan yang lebih sering dijadikan topik utama yaitu penghasilan.
Dari segi penampilan, jelas sekali sebagian peserta wanita menyukai seorang pria yang bertubuh atletis tampan dan macho walau tidak semuanya, tapi hampir dikatakan sebagian besar walau terkadang dibalik semua itu sepertinya peserta lupa bila terkadang penampilan seseorang bisa mengelabui kondisi sebenarnya pria tersebut.
Dari segi penghasilan, ternyata dari pria yang ditampilkan memang tidak semua peserta wanita berpatokan kepada penghasilan gede, karena ada juga peserta yang berprinsip untuk apa penghasilannnya besar namun usianya malah ketuaan.
Sedangkan kalau dari segi usia, ada yang memang cocok ternyata dari segi penghasilan dan penampilan tidak cocok untuk para peserta wanitanya. Dari uraian diatas bisa dilihat bahwa sebagian besar wanita yang ikut acara Take Me Out Indonesia bisa dikatakan membutuhkan pria yang sempurna padahal mereka lupa kondisi mereka sendiri, karena menurut pandangan saya seharusnya (jika usia sudah diatas 27 tahun) sudah tidak membuat kriteria “tertentu” pria apa yang dia suka alasannya mengingat faktor usia bagi wanitu itu penting.
Melihat kriteria di atas di antaranya, para wanita peserta Take Me Out ini dipersilahkan untuk tetap menyalakan lampunya atau mematikan lampu jika ia tidak tertarik pada 7 pria yang ditawarkan pada setiap season-nya. Tentu setelah melihat sekilas profil tentang calon pasangannya itu. Untuk masalah tetap menyala atau tidak, ukuran bagi masing-masing peserta tidaklah sama, ada yang menjadikan penampilan atau usia sebagai tolak ukur. Ada juga yang lebih berat pada penghasilannya.

C. Kritik Take Me Out Indonesia

Dilihat dari kacamata positif, Take Me Out Indonesia memang tidak hanya sebagai reality show semata, namun dijadikan sarana mencari pasangan hidup bagi mereka yang belum memiliki pasangan. Mungkin disinilah, mereka bisa menemukan pasangan sejati mereka. Beruntung jika setelah mendapatkannya di acara ini, langsung berencana menuju pelaminan. Intinya, acara ini sebagai mediasi untuk biro jodoh bagi yang belum menemukan jodohnya.

Namun, jika ditinjau dalam berbagai aspek terutama budaya. Banyak sekali kritik negatif yang ditujukan untuk acara reality show ini. Seperti, segi kostum para peserta wanita. Hampir semuanya memperlihatkan auratnya, berpakaian serba mini untuk terlihat menarik hati sang pria. Belum apa-apa sudah saling rangkul, cium pipi kanan dan kiri, persis Take Me Out asli Barat. Sebenarnya bukan hanya dipandang dari budaya timur atau barat. Namun, disini yang menjadi pemeran dan pemirsa Take Me Out Indonesia adalah umat Muslim. Acara ini sarat dengan muatan western dan jauh dari nilai-nilai Islam, bahkan sangat bertentangan.
Kita bisa amati dalam reality show ini seakan memilih pasangan seperti permainan memilih komoditi (barang) yang bisa seenaknya dilakukan. Suka, dipake. Sudah tidak suka, ditinggalkan. Begitu istilah kasarnya.
Bukan masalah Timur dan Barat, tapi yang lebih urgen adalah budaya non Islam yang diadopsi habis-habisan oleh masyarakat kita yang mayoritas muslim. Lihat saja gaya berbusana para peserta wanita di acara itu. Bagian “atas-bawah” terbuka semua. Hanya di bulan Ramadhan dan awal Idul Fitri saja mereka berpakaian yang agak tertutup.
Ini dari segi gaya busana. Cara memilih pasangan, juga dilakukan secara primitif. “Kok bisa? Padahal mereka berada di panggung canggih dan modern penuh sentuhan teknologi,” mungkin itu yang ada pikiran kita. Sejatinya, modern atau tidaknya sesuatu, itu bukan ditentukan dari penampilan fisik semata. Itu cuma artifisial alias palsu. Primitif atau modern itu bisa dilihat dari bagaimana acara ini merancang 30 kandidat dalam memilih satu calon di depan.
Fisik, itu yang utama pria memilih perempuan. Meskipun yang perempuan cerdas, tapi kalo tidak cantik dan langsing jangan harap bakal terpilih. Jenis pekerjaan, itu pilihan utama perempuan dalam memilih si pria. Jabatan direktur atau pemilik sebuah perusahaan, bisa dipastikan hampir semua perempuan menyalakan lampunya agar dipilih oleh si pria tersebut.
Jika ditinjau dari nilai Islam, yang mesti diperhatikan adalah iman dan takwa. Dalam acara ini, tidak ada kriteria tersebut sama sekali. Jangankan kriteria tersebut. Acaranya saja sudah jauh dari tuntunan Islam.
Selain dari segi kostum dan cara memilih pasangan, sebenarnya disini yang lebih menonjol dalam reality show Take Me Out Indonesia adalah akar kapitalisme menjadikan komoditi ajang perjodohan yang sebenarnya sakral ini. Budaya kapitalis yang sangat identik terlihat. Sangat disayangkan, Indonesia hanya bisa meniru acara yang sebenarnya tidak berbobot. Banyak mengumbar aurat dan nafsu syahwat. Acara yang tidak mencerdaskan masyarakat.
Dalam acara tersebut, juga hinaan dan celaan erhadap kekurangan sang pria atau sang wanita sering kita lihat. Tak segan-segan terlontar ucapan yang menghinakan lawan bicara secara “blak-blakan” karena kekurangan fisik atau penghasilan. Budaya caci makin seolah menjadi suatu hal yang wajar.

D. Hipotesis Efek Individu dan Sosial

Efek Individu

Bagi individu, tayangan tersebut boleh jadi rame ditonton dan melenakan. Bagi kita yang hanya sekedar menonton mungkin jika suka akan tenang-tenang saja dengan apa yang kita tonton. Namun, sebenarnya tayangan seperti itu akan menimbulkan efek “meniru” dari apa yang disaksikan di televisi. Bisa saja meniru kostum yang terbuka dan “mini”, terlebih meniru cara memilih pasangan dalam reality show tersebut. Lama-kelamaan indivisu yang bersangkutan dapat “tersihir” atau ter-internalisasi dengan proses yang berlangsung dalam reality show tersebut. Mungkin dalam memilih pasangan, hanya apek materi atau penampilan yang dipertimbangkan, sesuai budaya kapitalis.
Padahal, dalam Islam sendiri, jika memilih seseorang untuk menjadi pasangan hidup. Rasulullah saw. memberikan rambu-rambu dalam memilih psangan: “Wanita itu dinikahi karena empat perkara; (1) karena hartanya, (2) karena kebaikan keturunan atau kedudukannya, (3) karena kecantikannya, dan (4) karena agamanya. Maka beruntunglah engkau yang memilih wanita yang beragama, karena dengan demikian itu engkau akan berbahagia” (HR Bukhari dan Muslim).

Efek Sosial

Sedangkan pada tataran sosial, efek yang ditimbulkan adalah masalah pergaulan. Pergaulan bebas akan semakin marak. Dalam tayangan Take Me Out Indonesia, saling merangkul, cipika-cipiki sudah tidak terlihat asing lagi. hal itu akan berefek pada pergaulan anak muda. Semakin maraknya pergaulan bebas, pacaran yang kelewat batas, dan yang lebih menyedihkan adalah banyak generasi mudah yang terjangkit virus HIV/AIDS. Pergaulan bebas atau free sex seakan menjadi mata rantai keterpurukan yang menjadi bumerang bagi generasi muda penerus bangsa. Memang tidak hanya Take Me Out Indonesia yang bisa menjadi pemicu hal tersebut, akan tetapi tayangan media lain yang serupa menimbulkan efek yang sama berbahaya.
Apalagi jika anak kecil yang belum cukup umur yang menonton acara tersebut. Ia akan terbiasa melihat hal-hal yang seharusnya disajikan untuk kaum dewasa. Timbullah permasalahan dewasa sebelum waktunya. Memicu hormon-hormon dewasa yang seharusnya belum pantas dimiliki anak kecil. Mesti ada bimbingan, bahkan dijauhkan dari tayangan-tayangan seperti itu.
Dari segi jam tayang, seharusnya reality show Take Me Out Indonesia ini disesuaikan dengan jam yang tepat. Ditayangkan pada waktu malam yang memungkinkan hanya orang dewasa saja yang menonton. Misalnya pukul 23.00 WIB.

PENUTUP

Saran
Tayangan tersebut alangkah lebih baiknya ditiadakan. Acara yang notabene adopsi dari Barat seringkali jaug dari budaya asli ketimuran, khususnya Indonesia. Karena Barat pada dasarnya menjunjung tinggi kapitalisme. Tidak ada keuntungan yang bisa diraih kecuali kerugian bagi generasi muda. Dididik oleh ajaran televisi. Mengikis nilai-nilai moral bahkan agama.
Untuk masalah cari jodoh, sebenarnya Take Me Out bukanlah satu-satunya jalan mencari jodoh. Masih banyak cara yang tentunya lebih baik, dan tidak dipertontonkan secara vulgar terhadap publik.

Kesimpulan

Take Me Out, Take Him Out, dan acara sejenisnya jika dianalisis lebih dalam menimbulkan efek individu dan sosial yang cukup mengkhawatirkan. Disinilah, masyarakat mesti berperan cerdas dalam memilah dan memilih tayangan mana yang mestinya dijadikan tuntunan, bukan tontonan yang menyesatkan. Dan peran mahasiswa juga sangat berpengaruh dalam menilai secara kritis tayangan televisi yang seperti yang berbobot dan bisa mencerdaskan masyarakat, bukan membuat tatanan dan perilaku masyarakat semakin bobrok.

Ditulis oleh Wildaini Shalihah, mahasiswa S1  semester 4 UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

One Comment Add yours

  1. ndy says:

    nice
    tapi saya kurang setuju jika pakaian terbuka itu dianggap sebagai budaya non Islam. Menurut saya cara berpakaian bukanlah diukur dari agama yang dianutnya. Saya sendiri dan temen-teman saya yang bukan beragama Islam selalu berusaha menjaga penampilan dengan sopan. Kita tidak bisa mengeneralisasi bahwa orang yang beragama bukan Muslim maka cara berpakaiannya adalah A, sebaliknya cara berpakaian yang muslim adalah B. Jika kita mengeneralisasikan, maka dampaknya adalah kita membuat streotip.
    Cara berpakaian seseorang lebih tepat jika dikaitkan bagaimana orang tersebut memaknai cara berpakaiannya.
    Saya lebih setuju jika hal tersebut dikaitkan dengan budaya barat atau timur.
    Terimakasih

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s