Saat Kata-Kata itu Terkunci Rapat

Akhir-akhir ini, pikiranku disesaki setumpuk beban. Beban pikiran. Beban hidup yang sebenarnya tak usah kuanggap beban. Ah, semuanya begitu berat jika kesadaranku akan realitas semakin menyempit. Sesak kurasakan. Bronchus dan alveolusku seperti terhimpit polusi tak tertahankan. Ribuan toksin keputusasaan seakan menyerang jantung hatiku perlahan. Hatiku rapuh, nyaliku menciut. Anehnya, sesak ini sulit kudeskripsi…

Banyak hal sulit yang terus menghimpitku pada keadaan putus asa. Mulai dari tugas kuliah, organisasi, urusan di rumah, dan hal-hal remeh tapi berefek domino lainnya. Mengapa efek domino? Ya, saat sesuatu itu hilang dari jiwaku. Segala persoalan yang ada buatku lemah tak berdaya. Bahkan, bisikan kiri yang manis dan menjerumuskanku pada jurang pesimisme menyelinap masuk pada sendi tulangku yang rapuh. Tak sanggu ku berdiri tegak. Aku tertunduk duduk termangu memeluk lutut kehilangan asa dan harapan. Ah, kemana SEMANGATku pergi…

Semangat itu dulu hadir saat senyuman merekah kuterima hangat dari orang-orang yang paling kusayang. Aku rindu senyuman itu. Sebuah senyum yang bisa men-charger semangatku yang mulai goyah…

Kutelusuri dan kucari kembali kemanakah semangat itu pergi. Tersadar aku perlahan mungkinkah semangat itu tetap ada disini, di jiwaku, dan terpendam begitu dalam. Bagaimana aku bisa meraihnya? Sedangkan harapan untuk melangkah kembali digagalkan oleh ribuan toksin keputusasaan yang seakan bercampur dengan aliran darahku.

Sudah 2 minggu, ya sudah 2 minggu, aku bungkam akan diriku. Tak ada cerita yang kuhadirkan melalui kata-kata bermakna. Hanya keluh, kesah, dan gundah yang terus meraja dalam diri. Sungguh ingin rasanya kupenuhi catatan harianku untuk meringankan sedikit beban yang terus menyesaki ruang otakku berpikir. Agar aku bisa sedikit lega, minimal aku bisa menegakkan tulang punggungku dan berhenti bertopang dagu atas semua yang kujalani. Jujur saja, mengurai kata-kata yang membeku dalam benak seolah menjadi energi agar kubertahan. Saat itulah jiwa dan batinku berdialog, pikiran mulai berkecamuk. Aku senang diriku dibuatnya ramai dalam keheningan. Hening. Senyap. Sepi tanpa suara. Hanya jemari yang sibuk uraikan apa yang diperintah oleh otak dan diamini oleh hati saat kata demi kata mulai tergores bebas.

Tapi…

Kini, semuanya begitu sulit. Saat pena kugerakkan perlahan, kata-kata itu tak kunjung keluar. Sulit tuk kuungkapkan. Hanya peluh terus berkucuran tak tahu lagi harus menulis apa. Ada apa ini? Padahal banyak amanat hati yang ingin kusampaikan pada secarik kertas ini.

Kata-kata itu terkunci rapat dibalik benteng tebal berkawat berduri. Ah, pena bantu aku sampaikan amanat hati agar semangat yang kupendam dapat menyeruak kembali ke permukaan jiwa ini. Aku lupa akan satu hal. Niat dan tujuan karenaNya. Ya, aku selalu lupa akan hal ini. Bismillah… Ya Allah, ampuni hamba yang selalu khilaf akan tujuan karenaMu. Kugerakkan perlahan pena dengan mantap berbekal Bismillah. Kuyakin dengan ini kata-kata itu akan terbebas dari cengkraman toksin keputusasaan. Mengembalikan semangat memang bukan hal yang mudah. Tapi, bukan berarti tak bisa. Aku akan berusaha sekuat apapun agar semangat itu tetap menyala saat banyak hal yang mencoba membuatnya padam. Semangat karena Allah! Itu yang kubutuhkan saat ini dan selamanya, agar kata itu mengalir jernih dan langkahku tetap maju walau kadang dilanda perih…

Bismillah, rabishrahli shadrii wa yassirli amri, wahlul uqdatam min lisani yafqohu qouli…

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s