Refleksi

Hidup itu… Ibarat Stasiun

Stasiun bukanlah tujuan. Ia hanya jeda. Karena tujuan dari tempat itu adalah sebuah kota. Bukan stasiun. Para penumpang tak mungkin berlama-lama menunggu kereta di stasiun, ia akan segera menaiki kereta ke kota yang ditujunya. Namun, manusia mau tak mau harus berlama-lama di stasiun jika keretanya “ngaret” dan tak kunjung datang membawanya pergi.

Stasiun memang hanya jeda. Begitu pun halnya hidup. Hidup ini sebenarnya hanya jeda, sementara, untuk mencapai sebuah titik yang abadi. Yakni akhirat. Hidup memang bukan tujuan, namun semua perbuatan yang kita lakukan dalam hidup di dunia ini, akan mendapatkan balasan yang setimpal di akhirat nanti.

Di stasiun, manusia berlalu-lalang. Ada yang datang, ada yang pergi. Begitu juga hidup. Ada yang lahir dan ada yang mati, dipanggil Illahi. Kalau hidup memang jeda, kalau hidup itu ibarat stasiun. Kenapa kita resah? Bukankah kita tak lama lagi menunggu dibawa “kereta”Nya mencapai titik abadi… Ah, dunia bagiku ibarat stasiun…

Banyak “kereta” singgah di stasiun, membawa manusia yang hilir mudik dari kampung ke kota, begitu pun sebaliknya. Kereta yang ditumpangi sesuai status sosial yang disandangnya. Eksekutif, PATAS, dan ekonomi. Berdesak-desakan untuk kelas ekonomi adalah hal yang lumrah. Seperti hidup, terhimpit permasalahan ekonomi alias urusan perut yang tak kunjung selesai. Karena perut tak bisa diisi hanya sekali. Berulang-ulang perut-perut “para ekonomi” meraung-raung kelaparan. Sampai suatu saat, perut-perut itu tak menemukan pangan yang layak untuk dicerna. Nasi aking, makanan sampah, sampai bangkai pun dilahapnya, demi menuntaskan masalah perut.

Di stasiun, kelas eksekutif begitu mewah dan eksklusif. Kereta ini bukan sembarang kereta, yang membawa orang tanpa merogoh kocek dalam-dalam. Tentunya, manusia eksekutiflah yang dibawa kereta ini. Kenyamanan dna kenikmatan tak sulit lagi didapatkan. Dan yang pasti tidak mungkin berdesak-desakan. Semuanya begitu leluasa. Seperti juga hidup, manusia-manusia eksekutif terlihat gagah menenteng koper dengan dasi kelas mahal bertengger di leher yang sering terangkat naik beberapa senti. Angkuh!

Ah stasiun ini begitu ramai kulihat. Seperti juga hidup. Diramaikan dengan setumpuk fenomena yang ironis dan manusia yang berasal dari berbagai level dan startifikasi sosial.

Aku tersenyum. Menikmati udara pagi di stasiun yang menyimpan banyak kenangan. Satu per satu kereta api meninggalkan stasiun. Namun manusia yang datang tak pernah habis. Selalu berganti. Menatap lekat suasana stasiun kotaku ini memberiku banyak analogi tentang hidup. Bagiku hidup itu ibarat stasiun. Setidaknya, itulah yang kupikirkan saat ini. Di stasiun Bandung, aku berkontemplasi…

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s