Catatan Diri

Tak Pernah Selesai

Kata-katamu tak sempat lamakan lampu merah/ Cepat kau menepi menghitung kepingan rupiah// (Edcoustic-Sejuta Arif)

Suaranya kadang terdengar sedikit sumbang dengan kecrekan sederhana yang terbuat dari tutup botol minuman. Belum satu dua bait lagu selesai, gelas plastik bekas air mineral ia sodorkan dengan cepat seiring laju mobil mengikuti lampu hijau yang menyala. Refleks ia melompat setengah berlari menepi dan menghitung kepingan rupiah yang tak seberapa. Begitulah yang ia lakukan setiap lampu merah menyala di perempatan. Baginya, lampu merah adalah celah rupiah. Memenuhi urusan perut dan uang jajan. Urusan sekolah, seringkali menjadi urusan nomor kesekian, bahkan tak pernah ia hiraukan dunia yang begitu asing bagi dirinya.

Bait lagu dari band ternama yang sering ia ulang-ulang memang tak pernah selesai. Seperti nada sumbang kehidupannya yang tak pernah selesai ia hadapi. Nada minor dan fales kerapkali buat ritme hidupnya tak menentu. Ia tersudut sendiri di tengah dinginnya malam yang tak pernah memberi celah sedikitpun baginya untuk mendapatkan kehangatan. Ya, kehangatan keluarga. Yang kutahu ia sering termenung seorang diri. Terkantuk-kantuk di dalam pekat malam, bersandar pada dinding jalanan dan beralaskan kardus lusuh. Perih ia rasakan. Tapi itu bukanlah persoalan yang berat baginya. Keperihan, kepedihan, sudah biasa ia lalui. Ia pun terbiasa bersahabat dengan kemelut hidup, masih dengan ritme kehidupan yang sumbang.

Ah, aku seakan masuk dalam kehidupannya. Gadis kecil belasan tahun itu seakan mengajakku bercerita tentang ritme hidupnya. Butiran kristal jatuh perlahan di kedua pelupuk mataku. Gadis kecil itu tertidur pulas beralaskan kardus di sudut kolong jembatan. Tak ada suara, dan memang sebenarnya tak pernah ada cerita. Hanyasaja aku masih terdiam seakan masuk dalam bunga mimpinya. Semua ini membuatku tersadar bahwa kesulitan dan kemelut hidup yang aku alami sungguh tak seberapa dibandingkan dengan ritme kehidupannya. Lagi-lagi batinku tersentak, Rabbi… bukalah pintu taubatMu… Ampuni segala keangkuhanku… Ampuni segala khilaf diri… Yang seringkali merasa lebih malang dan putus asa dari rahmatMu… Astagfiruka…

06 Agustus 2010

Shizunda

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s