Jurnal Bus Kota

Perjalanan ini membuat remuk tulang belulangku. Sendi-sendinya serasa meronta melepaskan kesatuannya. Ditambah kepalaku yang dari tadi tak mau kompromi untuk tidak berhenti berdenyut. Belum lagi ritme nafasku yang terkadang naik turun tak karuan. Sesak. Para penumpang berdesakan hingga tak tersisa sesenti pun untuk bergerak. Orang-orang bergelantungan pada pegangan besi bus di saat bus sering rem mendadak.

Aku baru setengah perjalanan. Ku hela nafas panjang beberapa kali. Ini kutukan. Aku tak pernah tahan untuk naik mobil lama-lama. Rasa mual selalu menggelayuti pikiran dan perutku. Rasanya selalu ingin mengeluarkan seluruh isi perut ini. Iyakh…. Apalagi di siang bolong ini, matahari sedang panas-panasnya memeluk bumi. Ah, yang semakin membuatku hampir semaput adalah sungguh bus ini penuh dengan bau keringat manusia. Kupalingkan wajah menghadap jendela, semilir angin menerobos masuk melalui celah jendela yang terbuka walau beberapa senti.

Mataku pun disergap rasa kantuk. Dalam hitungan 5 mundur, aku yakin akan segera terlelap, 5..4..3..2….dan….
”Jreng!!, Permisi…”
Seketika jantung ku seakan meronta ingin keluar.
Tuhan…., apalagi ini!!
”Sebuah tembang yang akan menghimbur penumpang semua, lagu dari Olga Syahputra, lagu perdana dari idola baru Indonesia berjudul ”Hancur”……, jreeng!!

Muka lo tuch ancur!! Aku telah putuskan untuk gencatan senjata dengan pengamen itu. Tak akan ku keluarkan apapun dari saku ini selain kata ”maaf aja mang”!!.

Makin keras alunan lagu itu mampir ditelingaku. Alunan lagu yang bait lagunya hanya berisi kata ”hancur” itu semakin membuatku hancur. Inilah resiko naik kendaraan kelas ekonomi. Semuanya seba ekonomi. Ongkos, fasilitas, kenyamanan, semuanya. Terkadang harus banyak istigfar ketika naik kendaraan yang paling di minati orang-orang kelas ekonomi sepertiku.

Lengkingan suara cempreng serta petikan nada dari gitar nan sumbang itu, akhirnya berhenti juga. ”Tiis ceuli, herang mata” orang Sunda bilang. Mulailah pengamen itu mengeluarkan gelas bekas air mineral untuk uang recehan dan menjajahi satu persatu penumpang dengan harapan akan memberikan receh untuknya. Segera ku pejamkan mata begitu sang pengamen mulai berada di wilayah bangkuku. Tidak akan. Sepeserpun tak akan aku berikan padanya. Rasa mual dari perut ini terlalu mahal untuk dibayar hanya dengan tembang yang dibawakan pengamen tadi. Kulanjutkan tidurku dalam bis yang penuh dengan aroma keringat penumpangnya dan asap rokok yang terus-menerus mengepul sejak aku memulai perjalanan ini.

Satu setengah jam waktu yang harus kutempuh dalam perjalanan menuju kampus. Begitupun perjalanan pulang. Kadang menjadi lebih lama, jika macet menyergap. Satu hal yang paling menyenangkan saat naik bus ekonomi ini, yaitu ketika aku duduk di bangku kedua sebelah kiri dengan jendela yang bisa dibuka dengan lebar sepuasnya. Apalagi jika sedang berkucuran keringat, begitu jendela dibuka, semilir angin langsung menyambut dan mengusap keringat perlahan. Adem rasanya. Namun, jika tak kebagian bangku kedua, aku harus rela duduk di bangku-bangku yang lain. Bahkan duduk di samping supir di atas jok busa tipis yang terasa panas karena duduk di atas mesin bus. Semuanya memang tak nyaman, namun jika dinikmati. Apapun menjadi ringan.

One Comment Add yours

  1. ihsan says:

    jangan begitu, orang itu sedang mencari sesuap nasi maka kasihinilah, walaupun dengan suara cempreng dan gitar yang fals..kasihinilah dia mungkin mungkin kita akan mengalami seperti mereka…

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s