Pisau Mata Dua Bernama Media

Pisau Mata Dua Bernama Media

Media ibarat pisau bermata dua. Ia membawa berita baik namun lebih sering memaparkan konflik. Konflik di arena politik, sosial, lokal bahkan konflik internasional. Koran harian begitu rajin menjadikan konflik sebagai headline (berita utama) di halaman depan. Begitu juga dengan televisi. Pagi-pagi buta, televisi menyuguhkan berita terhangat seputar tindak kriminal yang beragam. Mulai dari skandal politik, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, tawuran antar suku, hingga invasi suatu bangsa di atas bangsa lain. Sarapan pagi masyarakat diisi dengan “paket konflik” sebagai komoditas. Kini, tindak kriminal dianggap bukan hal yang tabu lagi, masyarakat kita telah terbiasa menyaksikan hal demikian lewat pisau mata dua bernama media.

Adakah celah untuk berita yang bertemakan kebahagiaan? Ada! Kunjungan DPR ke Negara lain. Hhh… berita bahagia untuk mereka, dan berita yang mengiris hati rakyat. Bukankah, para dewan itu asyik pelesiran menggunakan uang rakyat. Berarti itu bukan berita gembira. Lalu apa? Ah, bingung juga untuk menjawab pertanyaan ini. Masalahnya, media akhir-akhir ini hanya memberitakan hal-hal yang mengiris hati. Ups, mengiris hati? Bukankah masyarakat kita telah menganggapnya hal yang biasa-biasa saja. Hmph!

Media dengan berfungsi informasi, edukasi, hiburan, persuasi, dan kontrol sosialnya tak imbang dalam menjalankan peran dan fungsinya.

Adakalanya televisi kita melulu diisi dengan hiburan remeh-temeh dengan serba-serbi budaya pop yang menggiring pemirsanya pada gaya hidup hedon. Entengnya tertawa atas lelucon “tak lucu” dengan menjadikan kaum marginal seperti pembantu, tukang becak, dan tukang-tukang lainnya sebagai tertawaan. Atau yang lebih parah menertawakan lelucon berbumbu seks dengan omongan yang vulgar dan menjijikkan. Menjadikan alat kelamin manusia menjadi obrolan renyah diselingi cekikikan syahwat. Atau tayangan entertainment yang menghiasi TV sehari penuh menyuguhkan gaya hidup para selebriti dan seabreg aktivitas tak penting mereka. Menonton para artis berbelanja, artis ulang tahun, artis dapat pacar baru, artis kawin-cerai, dan seputar kegiatan artis lainnya. Menjebak pemirsa menjadi manusia-manusia utopis. Itu yang didapat dari hiburan televisi. Tak ada lagikah hiburan sesungguhnya yang menjadi penawar kesedihan?

Media memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membentuk budaya massa. Apa jadinya jika masyarakat hanya menikmati hiburan remeh-temeh dan paket konflik sebagai komoditas media. Jika tidak cermat dan tepat mengemas informasi, bisa-bisa masyarakat hanya menjadi korban media. Jangan heran, jika ada berita tawuran antar kampung, tidak selang lama kemudian muncul kasus yang sama di daerah yang lain. Begitu halnya dengan perampokan. Para pelakunya tak tanggung-tanggung membunuh korbannya bahkan dengan cara memutilasi, hingga besoknya menjadi headline surat kabar nasional “Korban Perampokan Dimutilasi”. Masyarakat sudah teramat akrab dengan kata-kata sadis seperti, rampok, bunuh, serang, mayat, darah dan kata-kata sadis lainnya. Sampai kapan masyarakat melahap hal-hal demikian?

Tidak semua tindak kriminal mesti dan wajib diberitakan. Apalagi jika hanya bertujuan untuk memenuhi rating dan keuntungan perusahaan. Balance media. Keseimbangan antara pemberitaan baik dan buruk mesti terpenuhi.

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s