Plagiasi Menghambat Inspirasi

Plagiasi Menghambat Inspirasi

Plagiasi. Menjiplak. Pelakunya bernama plagiator. Menjiplak biasanya dilakukan seseorang yang tak ingin bersusah payah mengumpulkan kepingan gagasan untuk membentuk sebuah tulisan. Semua akademisi mustahil tak kenal dengan istilah yang satu ini. Bahkan, mungkin saja mereka sudah terbiasa melakukannya. Saat UAS (Ujian Akhir Semester), tugas-tugas makalah, bahkan skripsi sampai disertasi, bisa saja mereka menjelma seketika menjadi plagiator sejati. Tinggal Ctrl C + Ctrl V = Ctrl P. Copy dan paste lalu cetak dengan entengnya. Dan parahnya, sang plagiator mengaku-ngaku itu adalah karyanya, tanpa mencantumkan sumber asli sedikitpun. Miris.

Hhh… Kalau boleh jujur, saat ini, kebingungan yang menderaku hampir saja menyeretku menjadi seorang plagiat. Tak satu pun paragraf dapat kutulis untuk membentuk sebuah cerita pendek (cerpen). Padahal, targetku kali ini, aku ingin berusaha menembus ruang redaksi sebuah surat kabar local dengan mengirim cerpen. Sebenarnya, membuat sebuah cerpen adalah hal yang baru bagiku. Tak pernah sedikitpun aku mengurai bahasa sastra menjalin cerita fiksi. Aku terbiasa berteman dengan bahasa denotatif dan konotatif dalam artikel, berita, feature, dan tulisan ilmiah lainnya. Itu pun baru sampai dipublikasikan dalam blog pribadi.

Argh! Kebingungan akan kata-kata. Tak satu pun plot cerita yang kudapat. Kuambil beberapa buku fiksi seperti novel dan kumpulan cerita (kumcer) untuk dijadikan bahan cerpenku. Namun, jemariku sulit untuk kompromi. Ia seakan mengelak untuk kuajak menjiplak salah satu bagian di antara buku fiksi itu. Sadarlah, itu bukan karyamu! Ciptakan karyamu sendiri! Kata-kata itu terngiang dan berputar-putar dalam benak. Logika pun urung berplagiasi. Ia mencoba mencari jaringan inspirasi yang tersimpan dalam memori otak yang berhimpitan gagasan.

KETEMU!

Kucoba mengubah targetku. Tak apa aku gagal menjalin sebuah cerita pendek. Aku bisa menguraikan kata-kata membentuk sebuah tulisan gaya bebas. Essai pendek namun berkarakter.

Plagiasi bukanlah solusi. Ia hanya bisa menafikan potensi diri. Terutama pembohongan publik. Kenapa tidak coba saja membuat sebuah karya asli walau jauh dari sempurna. Namun, kau akan bangga karena itu karyamu. Karya dari inspirasi sendiri.

Oya, tapi ada satu rumus klise yang cukup terkenal di kalangan akademisi. Para mahasiswa tentunya kenal dengan ATM, bukan Anjungan Tunai Mandiri, tapi ATM = Amati, Tiru, Modifikasi… J

Apa bedanya dengan plagiasi? Sama-sama meniru? Oh, tentu tidak, ujar mereka yang terbiasa melakukan transaksi “ATM” dalam membuat tulisan. Meniru tidak sekedar meniru, tapi mengamati terlebih dahulu kemudian memodifikasi sumber lain dengan gaya bahasa sendiri. Lebih mudah kan?! Hmm… tentu saja. Manusia memang akrab dengan aktivitas bernama “meniru”. Tapi, setidaknya meniru dalam tulisan ada etikanya. Sumber tulisan harus dicantumkan. Tidak semata-mata meniru saja, namun harus dijadikan bahan dan memperkaya tulisan.

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s