Saat Lidah Bersilat

LIDAH.

Lunak, licin, tak bertulang. Lidah pengecap berbagai rasa dari setiap makanan yang masuk ke dalam mulut. Begitu makanan masuk, lidah mengirim pesan pada otak seketika menimbulkan rangsangan untuk menyimpulkan rasa manis, pedas, asin, maupun pahit.

Lidah. Begitu lincah saat berbicara. Kata-kata meluncur melesat seketika saat lidah menunjukkan kebolehannya saat beretorika dan berucap kata-kata manis terbalut tipu daya. Namun, ada kalanya lidah gagap terbata  saat dituntut untuk JUJUR mengatakan kebenaran.

Ah… Lidah. Kecilnya dirimu tak sekecil pengaruhmu saat berulah. Luka tertusuk duri mungkin bisa disembuhkan, namun saat lidah telah bersilat setajam silet,  tak jarang meninggalkan luka mendalam yang sulit terhapus dalam benak.

Ya… Masih kuingat, saat lidahku bersilat di masa lalu. Tak sadar kusakiti orang-orang yang kucintai.Aku tak berhati-hati menjaga lidah yang selalu lincah tak terkendali.Ya Rabbi… Lidah setajam pedang, bahkan mungkin bisa lebih tajam. Tanpa sadar, kata-kata meluncur sebagai gambaran kepribadian sebenarnya. Banyak manusia, berbicara baru berpikir. Bukan memikirkan, apa yang layak dan harus dibicarakan.

Kini… kulihat lidah itu semakin lincah dari hari ke hari.

Ya Rabbi… Bantu hamba menjaga hati, menjaga lisan ini dari perkataan yang tak seharusnya hamba katakan. Fasihkan lisan ini dalam menyampaikan kebenaran. Istiqomahkan aku dalam jalan-Mu…

 

 

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s