Nada Minor dalam Diri

Lemah! Tak becus! Tolol! Kata-kata itu tengah terngiang di kedua gendang telingaku. Entah darimana suara itu berasal. Padahal malam ini aku sendirian. Tak ada siapapun di rumah, hanya aku dan imajinasiku yang terus menerawang memainkan jari di atas keyboard. Gila! Umpatan itu semakin jelas terdengar di benakku. Semakin jelas, semakin keras. Argh!!!! Teriakku sekencangnya. Tak peduli teriakanku bisa saja membangunkan para tetangga yang terlelap tidur diselimuti malam. Aku tak peduli. Argh!!!! Teriakku sekali lagi. Suaraku semakin keras membelah kesunyian malam. Dan.. umpatan alam bawah sadar itu perlahan hilang. Aku mengerti. Suara itu muncul dari sisi dalam diri. Semakin kuat kala aku tak berdaya dan mengamini kata-kata pembunuh itu, gawat jika aku telah terdominasi. Syukurlah, aku masih punya kekuatan walau hanya tersisa dari ujung lelah hidupku. Kekuatan untuk melawan, kekuatan untuk member bukti bahwa diri bukan untuk selalu dinegasi. Sungguh, aku  siap berhadapan dengan sisi “pembunuh” itu dengan frontir. Lihat saja!

Mulanya adalah kata. Namun kata tak berdiri sendiri, dibaliknya tersimpan maksud dan makna yang dituju. Dan salahkah aku, kala kata-kata yang mengiris tajam itu masuk seketika dalam telingaku lalu direspon oleh sensori otak. “Kamu memang tolol!” “Tak berdaya!” “Apa bisanya kamu?!” “Mau jadi apa kamu!” Menyakitkan. Benarkah aku demikian? Mengapa kata-kata itu tak bisa kuabaikan dan kubuang saja lewat lubang  telinga kiri, atau mengapa tak kubiarkan saja kata-kata itu mengendap di belakang daun telinga. Sulit! Otakku merespon cepat. Dan ia dituntut untuk segera berikan respon. Benar atau tidak ucapan itu???

Sisi gelap dalam diri mulai berperan, “benar, kamu memang tolol, tak berdaya, tak becus apa-apa!” Aku merintih kesakitan. Hatiku teriris luka karena kata. Mencoba melawan dengan energi yang tersisa di ujung lelah. Lelah saat diri menegasikan dirinya, lelah saat diri pun tak bias menghargai dirinya. Jiwa ini kalut. Hanya berusaha mencari celah untuk keluar dan kembali ke jalan ketenangan.

Kosong. Aku seperti berlari mencari arah dan cahaya dalam ruang hampa udara dan cahaya. Gelap. Aku tak bisa melihat warna apapun selain hitam yang semakin pekat. Hanya saja suara itu semakin banyak terdengar. Dalam ritme, intonasi, dan artikulasi yang mengiris hati. Gaungan suara itu bergema menembus gendang telingaku, otakku seakan bergetar. Aliran darahku mengalir cepat. Nafas yang tengah diburu juga jantung yang berdetak tak beraturan.

Berlari di tengah gelap, hanya itu yang bisa kulakukan. Seraya menutup kedua telingaku atas suara-suara yang terdengar. Berharap di depan sana kutemukan cahaya dan keluar dari kegelapan ini…

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s