Nikah, Bukan Sekedar Ingin lho…

2011.

Dear Jundiurna…

Ini Ijund, ingin mencurahkan apa yang telah sekian lama mengendap dalam benak. He, lebay yach,, berkecimpung dalam dunia organisasi ekstra kampus adalah sesuatu yang sedikit mengubahku perlahan. Menambah kesibukan, tentunya yang tadinya hanya berkutat dalam persoalan pribadi, kini aku belajar menghadapi seabreg persoalan umat. Ya, walaupun umatnya masih dalam wilayah kampus, hehe, tentu tak bisa dipandang remeh. Perlu tanggung jawab yang besar.  Dan satu hal yang lebih membuatku malu dan tersentak bahwa aku masih terkungkung apa yang disebut fatamorgana. Melihat dunia dalam kacamataku sendiri, bukan realita apa adanya. Itulah yang membuatku merasa sempit, karena dunia sering tak sesuai keinginan. Hmm, saatnya mengubah paradigma…

Aku bukan orang yang mudah menerima sesuatu yang baru begitu saja. Bahkan, cenderung reaktif. Kritis dan mempertanyakan. Hmm, tapi anehnya aku merasa nyaman dan kabita saat melihat pasangan muda itu. Usianya tidak terlalu terpaut dengan usiaku. Awal kuliah sudah menikah bahkan sekarang sudah punya bayi 6 bulan. Bahkan, tidak pernah terlintas keinginan untuk bertanya, dari mana mereka mendapatkan penghasilan untuk membiayai keluarga baru mereka. Yang ada hanyalah kekaguman subyektif, sebab mereka berani menikah saat kuliah dan terlihat menikmati rumah tangga mereka. Saat itu, semester lima. Melihat mereka, aku begitu ingin menikah. Ingin sekali.

“Kalau aku nikah sekarang,kira-kira boleh nggak ya sama Bapak-Ibu?” Tapi pikiranku langsung menjawab sendiri dan memberondongku dengan sejumlah pertanyaan kritis, sebelum hal itu kutanyakan langsung pada Bapak dan Ibu. Emang kamu sudah belajar soal rumah tangga, Jund? Udah siap untuk melakukan kewajiban istri? Siap mandiri tidak bergantung pada orangtua? Ayo siap nggak?

Hufh, aku jadi tertegun, dan merenungi diri… Ya Allah, menikah harus dengan planning, pakai persiapan. Anak-anak yang kahir dari rahim kita tak akan jauh beda dari sikap kita sebagai anak pada orangtua kita, harus sudah terkonsep dengan matang bagaimana cara mendidik anak. Emangnya menikah itu gampang… Aku pun tersadar, niat baik ternyata bisa saja diliputi hawa nafsu… jika sekedar ingin.

Maka, kemudian aku pun melahap buku-buku tentang pernikahan, hehe buat bahan bacaan dan siraman hati, biar jelas tujuan pernikahan itu seperti apa dan member pencerahan. Semakin membaca, semakin haus. Oh, ternyata menjadi istri sekaligus ibu itu tidak mudah…

Mantapkan hati, persiapkan semuanya tuk sambut masa depan. Suatu masa yang indah bila direguk tepat pada waktuNya… 🙂

Terinspirasi dari Diary Pengantin, Izzatul Jannah dan Robi’ah Al-Adawiyah.


Pernikahan adalah menjalin ikatan yang kuat dengan titik tolak perbedaan. Perbedaan karakter, perbedaan latar belakang keluarga, perbedaan prioritas. Alangkah menakjubkannya sebuah pernikahan, sebab dengan memadukan begitu banyak perbedaan itulah, Allah berkenan memberikan sakinah, mawaddah dan rahmahNya. ^_^

2 Comments Add yours

  1. lkjlkjfd says:

    menikah harus didasarkan karena Allah, jangan ingin menikah karna hawa nafsu…

    1. daynishurnal says:

      Betulll… Menikah karenaNya,

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s