Lembaran Memori

Nada-Nada itu…

 

Nada-nada itu mengingatkan aku pada masa lalu, masa dimana aku belum menemukan arti sebuah rasa. Bahwa rasa itu semu adanya, tapi berikanku satu pembelajaran tak terlupakan, tentang ketulusan. Walaupun rasa itu masih semu kurasakan, tapi aku sadar semua awalnya buatku mengerti apa itu rindu, apa itu rasa cemburu, dan apa itu sakit hati. Cinta pada manusia terkadang memang menyakitkan, terkecuali cintaNya yang selalu menenangkan.

Nada itu terdengar lagi, satu di antara jajaran lagu di komputer. Mataku terpejam, dan imajinasi bermain kembali. Mengajakku pada satu episode di masa lalu. Memasuki sebuah ruangan di salah satu sudut sekolah, kulihat seseorang yang begitu menyebalkan dan membuatku kesal, betapa gayanya begitu aneh di mataku. Tapi, suatu hari, semuanya berubah drastis, tak secepat yang kubayangkan. Ada letupan-letupan kecil di dalam hati, ada semangat membuncah kala dia berada di sejauh mataku melihat. Ada apa ini aku tak mengerti…

Pertama kalinya, aku merasakan hal itu.

Setiap sudut surau itu menyimpan kisah. Kadang kurindu cerita yang tak pernah hilang kenangan.

Aku berlari, menuruni anak tangga dan mengejar waktu semampuku bisa sebelum acara itu berakhir. Berlari terus berlari sekencang-kencangnya tanpa menoleh ke belakang, yang penting aku harus sampai dan bergegas membawakan sesuatu yang kuharap bisa membantunya. Sebuah potret yang diam-diam kusimpan dalam dokumen digitalku. Ternyata ada satu yang tersimpan di sana, aku lega, dan bergegas lagi kembali ke pertemuan terakhir itu. HIRARKI. Hari-Hari Terakhir Kita.

Malam semakin pekat, lampu temaram jalanan menghiasi sepanjang jalan Pajagalan. Angin menyibak kencang lewat jendela tanpa kaca di lantai tiga. Aku menggigil sendiri antara sadar dan tidak sadar. Pejamkan mata sulit karena tangisan yang terdengar di samping kelas buatku penasaran dan terus bertanya-tanpa dalam hati, “Siapa gerangan yang menangis pada jam 1 malam seperti ini?” Hufh, aku tak ambil pusing, dan tak sedikitpun berpikir yang tidak-tidak. Mungkin ada panitia yang sedang mengigau sampai menangis sambil tidur, walau memang terdengar aneh karena isak tangis yang jelas. Kuubah posisi tidur menyamping, ouwh pegal sekali rehat di dalam kelas, beralaskan meja tanpa selimut, biarlah yang penting aku harus beristirahat menghadapi hari esok yang lebih padat. TA’ARUF ’07.

Aku tak percaya aku berada di kursi itu. Tepat di hadapan puluhan teman-temanku, aku harus bicara, mengarahkan pertemuan ini. Belum terbayang rasanya akan seperti ini. Kukira aku tak pernah mampu. Lalu semua itu kujalani perlahan tapi pasti, menyisakan pembelajaran tak terlupakan. “Baik, tolong perhatian semuanya, selanjutnya laporan dari divisi acara…” Terlalu manis untuk dilupakan, walau ada kepahitan yang tak terdefinisi, tapi masa-masa itu adalah momen yang berharga. Di mana aku belajar untuk tetap bertahan di bawah masalah, di bawah tekanan, dan di tengah persoalan yang tak kunjung usai. Kawan, aku rindu kalian… saat kita membuat barisan kokoh di garda terdepan, membentuk benteng pelindung dari kechaosan tak terduga. HIPA 2007.

Nada-nada itu kuputar kembali. Sungguh masih terekam jelas bagaimana episode itu bermain dalam hidupku. Cinta Berkawan, Menjadi Diriku, Pertengkaran Kecil, dan Sejuta Arif. Edcoustic…

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s