Ultah Ritus khas Romawi

Dinding alias wall facebook-ku 7 Maret lalu, penuh dengan ucapan selamat ulang tahun. Ucapan dari teman-teman yang kukenal di dunia nyata dan teman dunia maya. Semua ucapan itu begitu variatif namun berujung pada satu muara, ucapan HBD (Happy Birth Day). Tak sempat ku komentari, lagi pula aku tak terbiasa dengan ucapan itu, toh jangankan diucapkan, dirayakan pun tak pernah. Tapi, aku pun tak begitu saja menghapus ucapan ulang tahun yang memenuhi dinding facebook, kubiarkan saja… Terima kasih teman-teman yang sudah mengucapkan. Cuma satu hal yang terus terngiang di benakku kala itu, “Sudah 19 tahun dijalani, jatah usiaku semakin berkurang, sudahkah aku menjadi insan yang bermanfaat?” Semuanya kembali pada refleksi diri.

Ulang tahun itu ternyata memang adopsi budaya luar lho, tepatnya ritus khas Romawi. Awalnya Ulang tahun perseorangan, ketika itu pada zaman Romawi upacara ulang tahun dirayakan dengan menyajikan sajian bagi Juno agar diberi umur panjang, diberinya pula Vesta dan Panata berupa sajian kecil. Dinyalakan lilin sebanyak usia orang yang berulang tahun. Jika ia tujuh tahun, harus ada tujuh lilin atau tujuh buah pelita. Lilin ditiup oleh anak itu dengan disaksikan keluarga. Si anak membelah roti bulat dan membagikannya, lalu menyanyikan lagu-lagu untuk keselamatan dan panjang umur (Marzdedeq, 2005:212). Kala itu lagunya seperti ini :

Pater oh Pater, Pater di Olympus

Mater oh Mater, Mater di Olympus

Hygeia oh Hygeia, selamatkanlah ia, panjangkanlah usianya…

Lindungilah ia dari segala demon dan titan…

Nah, singkatnya seperti itu, ulang tahun zaman sekarang tentunya dengan lagu yang berbeda namun selalu familiar bila dinyanyikan : Selamat Ulang Tahun kami ucapkan/Selamat panjang umur kami doakan/semoga sejahtera sehat sentosa/selamat panjang umur/dan bahagiaaaa…. Hafal, kan, nadanya seperti apa…

Semua orang merayakan ulang tahunnya, mulai dari level kecil perorangan hingga level internasional. Tapi, masalahnya, pantaskah kita sebagai Muslim ikut meniru budaya romawi tersebut? Bukankah kita tentu masih ingat persis bahwa Rasulullah pernah bersabda : “Man tasyabbaha biqoumin, fahuwa minhum…” artinya “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia bagian darinya.” Ngeri juga ya kalau kita dicap sebagai bagian dari orang kafir karena jelas-jelas mengikuti tradisi mereka yang bertentangan dengan nafas Islam. Rasulullah saja tak pernah merayakan hari lahirnya. Hingga jadi bingung juga saya ketika ada orang yang membungkus ritus romawi ini dengan simbol Islam, “Happy Milad ya!” Milad itu sama saja artinya dengan ulang tahun, namun agar lebih terkesan islami, disebutlah hari ulang tahun dengan miladul yaum.

Ada baiknya jika kita refleksi diri dan bermuhasabah setiap hari baru menjelang, tidak usah menunggu hari lahir itu tiba. Jangan tersinggung bila tidak ada yang mengucapkan “Selamat Ulang tahun” atau “HBD!” saat hari itu adalah tanggal kelahiran kita, toh tak pernah ada contohnya dari Rasul. Senantiasa mengevaluasi atau bermuhasabah diri setiap hari sangat dianjurkan, agar kita semakin sadar bahwa hari yang berlalu membuat jatah usia semakin menyempit, bahkan mungkin hanya dosa-dosa saja yang terus bertambah. Astagfiruka Rabbi…


Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s