Mindset yang Bias

Perjalanan ini begitu melelahkan. Percayalah, aku tak sedang berada di jalan raya ataupun kendaraan yang disesaki penumpang. Kini, aku tengah sendiri di ruang rengah berhadapan secara serius dengan tumpukan buku berbobot, pinjaman dari perpustakaan yang sudah 2 minggu belum dikembalikan. Kursor di layar monitor menunggu untuk melanjutkan perjalanannya. Kuputar otak dan mencari-cari kata-kata apa selanjutnya yang dapat kutulis untuk memenuhi alinea demi alinea 2 spasi itu.

Banyak hal yang mengusik benakku, masalah demi masalah ingin kupecahkan sampai tuntas. Sayangnya, mindsetku bias. Berat sebelah dalam menyikapi sesuatu. Mungkin ini sumber masalah yang mesti terlebih dahulu dipecahkan. Biased Mindset! Itu merusak caraku berpikir, bersikap juga bertindak. Ada kalanya terbesit rasa “ingin cepat selesai”, tapi tidak sabar melewati proses. “Ingin ini-ingin itu”,tapi tak mau berusaha mewujudkannya. Kalau pun memulai sesuatu, selalu diawali dengan kemalasan. Argh, ada apa ini? Ada sesuatu yang tak beres dalam diri ini. Mungkinkah mindset atau pola pikir yang salah itu telah menggumpal membeku dalam otak, hingga sulit untuk kuhangatkan dengan kesadaran.

Hari demi hari berlalu, tapi diri ini selalu saja mencari dan terjebak dalam ketidakpuasan hidup. Apakah manusia memang selalu tidak puas? Kalau jawabannya iya, mungkin itulah sebabnya. Namun, aku pun tak bisa menggeneralisir yang lain. Biar kuevaluasi saja diriku sendiri, baru mengingatkan orang lain. Aku takut “Kabura Maqtan”, bukankah Allah sangat membenci manusia mengatakan sesuatu yang tak dilakukannya.

Mencoba mengingat-ingat dimana noda itu tercecer. Oia, aku ingat! Dalam hati. Di situlah tempat noda itu tercecer bahkan membanjiri hati. Hati ibarat wadah dan tolak ukur sikap seorang manusia. “Alaa inna fil jasadi mudghah,idzaa shaluhat shaluha jasadu kulluhu waidzaa fasadat fasada jasadu kulluhu, alaa wahiyal qalbu”. (Ingatlah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dana apabila ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya, ingatlah ia adalah hati ). Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Bergetar saat kurenungi sabda Rasul, Rabb… mungkinkah hati ini telah terlampau bernoda, hingga noda itu semakin pekat, tak tersisa cahaya sedikitpun. Sungguh, kuakui Rabbi… aku lalai dalam jalanMu. Hati yang kotor saling berkaitan dengan jasad keseluruhan. Pikiran yang penuh prasangka sungguh membuat hidup ini terasa sempit. Mungkin ini sebabnya, kepala sering pusing saat berhadapan dengan tugas-tugas dan kewajiban dunia, padahal tak seberat yang dialami.

Hati yang kotor menciptakan mindset bias dan pola hidup yang keliru, yang hasilnya akan membuat asumsi dan konsepsi yang salah tentang apapun. Asumsiku selama ini benar-benar keliru. Aku selalu berpikir masih ada hari esok untuk kulakukan apa yang kuinginkan dan untuk menuntaskan tugas yang belum kusentuh. Nyatanya, hari esok tak pernah ada, yang ada hari ini! Hari ini yang akan menghilang disebut masa lalu tak pernah kembali. Dengan entengnya kutunda sampai esok hari dan beranggapan aku masih diberi umur panjang, padahal tak ada yang tahu usia manusia. Hingga asumsi itu malah terngiang, “Semasih bisa ditunda esok hari, kenapa harus hari ini!” SALAH! Justru kini aku sadar “Apa yang bisa kau lakukan hari ini, jangan ditunda esok hari, siapa yang menjamin umurmu hingga esok!” Degg, jantungku berdegup kencang. Betapa sering asumsi itu hadir saat diri dihadapkan pada setumpuk kewajiban, waktuku berlalu sia-sia, semuanya seperti bom waktu.

Di tengah kelalaianku dan masa yang semakin terbatas. Aku percaya sebuah asumsi bahwa “waktu kepepet atau di ambang deadline adalah waktu yang inspiratif, ternyata asumsi itu lagi-lagi SALAH! Faktanya, segala sesuatu yang dikerjakan di ambang deadline hasilnya akan “seadanya”, karena setumpuk beban itu diselesaikan dengan energi yang tersisa, bagaimana semuanya bisa optimal, jika usaha tidak maksimal dan “asal jadi”. Sangat ironis dengan nilai-nilai etos kerja seorang muslim, “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS.Al-Insyirah [94] :7).

Dan satu-satunya kesalahan fatal yang kulakukan adalah melalaikan 2 wasiat berharga. Bukan harta juga bukan pula perhiasan. Ialah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sudah berapa lama aku tak membuka surat cintaNya, dibiarkan terpojok bahkan berdebu di dalam lemari. Kitab hadits yang kini bisa didapatkan secara virtual pun tak sempat kubuka dan kuresapi. Apakah aku terlalu sibuk dalam rutinitas dunia, hingga dua wasiat penting Rasulullah ini begitu entengnya kuabaikan dan tak menjadi prioritas hidup.

Ah sungguh bias. Bias sekali asumsiku, aku tidak proporsional memainkan peran yang diamanahkanNya untukku. Sebagai manusia, sebagai hamba, dan peran sosial lain yang kulakoni dalam hidup yang amat terbatas ini. Koreksi diri…

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s