Diary Himi

DIARY HIMI

Dear Himi, banyak sekali yang belum aku temukan dari dirimu. Kedalaman hatimu belum aku selami. Mengenalmu membuatku mesti berusaha melihat lebih dekat dan mendengar dengan empati. Kadang aku merasa lelah jika harus terus seperti ini. Lelah jika aku harus minta kau mengerti aku sementara aku tak pernah memahamimu. Lelah… jika segala keadaanmu tak pernah menjawab semua tanya dan harapku selama ini. Iya, aku lelah jika harus terus menuntutmu sempurna di mataku.

Himi… entah mengapa hati ini masih terpecah-pecah. Jujur saja, sulit kutemukan celah untuk sedikit peduli dan cinta terhadapmu. Sungguh tak tersisa walau sekeping. Hati ini terpecah pada beberapa titik fokus yang terbagi. Untuk akademik, untuk keluarga, terutama masalah pribadi. Di lubuk hati ini, sungguh celah untuk berbagi denganmu tertutup dengan hal yang lain. Aku bingung himi… bagaimana aku bisa menyelami kedalaman samudera hatimu, sedangkan dalam hatiku saja, tak ada celah yang tersisa tentangmu…

Himi… Maafkan aku, selalu menuntutmu menjadi apa yang kuinginkan. Aku terlalu egois. Selalu saja berapologi mencari alasan jika kau memintaku tuk hadir di sampingmu. Selalu saja aku mengelak dan berpaling saat kau memintaku menemani langkah perjuanganmu. Kalaupun aku melangkah, kaki ini terasa berat, terseok-seok mencari kepuasan, lalu menimpalimu dengan segala keluh akan peluh yang tak seberapa. Maafkan aku himiku…

201010

Himi… tak terasa dua minggu lagi, kita menghadapi agenda besar menyerap kader dari para insan bertitel mahasiswi. Namun, mengapa kita masih juga merayap, tak juga melesat menuju target yang dituju. Kita malah sibuk dengan agenda masing-masing dan tak menyisakan sedikitpun waktu untuk agenda ini. Bukankah ini agenda kita? Bukan agenda “aku”, bukan agenda “kamu”. Ini agenda “kita semua”. Mengapa kita ragu untuk mencapai itu semua??? Apakah masih ada sekat antara kita? Apakah ada rasa saling tak percaya hingga kita tak juga siap melangkah bersama. Kembalilah berjuang himiku… Senyuman itu selalu kunantikan walau kita lelah. Langkah ini selalu terasa ringan jika kita bersama. Ayo semangat, aku tak akan menuntutmu menjadi sempurna. Aku kan bertahan dengan segala ketidaksempurnaanmu. Karena sempurna itu kita bangun dalam kekurangan ini, dengan saling melengkapi satu sama lain. Namun, biarpun kau tak mau menemaniku. Biarkan aku menjadi satu yang bertahan dan menjelma jadi dinamo bagi kalian… Agar himi selalu hidup…

One Comment Add yours

  1. Fitri says:

    Maafkn aku himi. . .
    Cuma satu kata untukmu. . . Maaf!!!

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s