Essai, Sosial Media

Galaunya Seorang Ibu di Desa Global

PADA suatu pagi, Ibu mengawali obrolan ringan namun mendalam sebelum saya berangkat ke kampus. Setelah menyimak berbagai berita di sebuah koran, Ibu pun menyodorkan setumpuk  kekhawatiran, “Duh, setiap hari pasti saja ada berita pemerkosaan, ibu paling benci berita seperti itu, apalagi jika dijelaskan secara gamblang. Perusak masa depan perempuan!”, tegas Ibu saat membaca koran halaman tengah, di sana  terdapat judul, “Tujuh Pemuda Gilir Seorang Gadis”.

Kemudian, serangkaian nasihat Ibu pagi itu tertumpah pada saya sebagai tanda perhatian seorang Ibu pada anak gadisnya. “Teh, kalau pulang jangan terlalu malam, kalau memang tak ada acara lagi di kampus, sebaiknya segera pulang. Ibu khawatir… teteh tahu kan, jaman sekarang benar-benar sudah edan. Dimana-mana aksi kriminal terjadi, sekarang manusia cuma peduli hawa nafsu sendiri.”

Aku ikut beristighfar. Jaman ini semakin bobrok saja. Sekelebat bayangan malam saat aku pulang kuliah muncul seketika. Tepat saat menuju perjalanan pulang dari kampus, sepanjang jalan 

di pusat kota ramai dengan kerlap-kerlip lampu pub dan tempat bilyar, padahal jam tangan masih menunjukkan pukul 7 malam. Dunia gemerlap mulai menunjukkan taringnya ketika senja merayap ke palung malam. Entah apa lagi yang terjadi saat jalanan itu sepi dan malam semakin larut. Wanita-wanita malam melesat menunjukkan diri di setiap persimpangan. Bayangan-bayangan itu membuat saya semakin beristighfar.

Tak salah memang seorang wanita bernama Ibu menggulirkan kegalauannya. Memiliki anak gadis sama khawatirnya bagi mereka yang juga memiliki anak laki-laki. Saya menekuri kalimat Ibu “jangan terlalu malam”, sebuah kalimat yang sesungguhnya memiliki konotasi berbeda, menurut saya. Bukan karena malam menjelang maka kriminalitas meningkat. Justru saat desa global dipertemukan dengan manusia yang mempertuhankan hawa nafsunya, terjadilah ke-chaos-an di muka bumi.

Umar Kayam dalam Lifestyle Ectasy menyebutkan, ada kecenderungan yang pesat dari media Gutenberg hingga media elektronika yang berkembang menyatukan budaya-budaya dunia. Sehingga tak sulit lagi, bahkan begitu mudahnya mendapatkan informasi selebritis tingkat dunia, berbagai film dan bacaan impor. Budaya global memang sudah masuk ke negeri kita. Negeri ini sudah mulai menjadi bagian dari Global Village, sebuah istilah dari Marshall McLuhan. Sebagai entitas budaya, media semakin melengkapkan diri ketika teknologi komunikasi sudah sampai menjadikan segenap dunia sebagai suatu kesatuan.

Permasalahan yang menggurita adalah dampak moral dalam desa global. Di satu sisi, desa global memberikan berbagai antitesis budaya lewat kebudayaan industri maju. Masukan-masukan media asing lewat media elektronika dan data dari cyberspace memang telah memperkaya wawasan. Pada satu waktu, orang bisa membaca berita di koran sambil menonton televisi kemudian mengupdate status facebook dan twitter terkait opini tentang isu tertentu.

Namun di sisi lain, muncul kegalauan yang mendera bagi siapapun yang bersinggungan dengan media di desa global. Bisa dibilang sebagian besar masyarakat cukup prematur untuk bisa bersaing di desa global. Kita masih melihat fenomena euphoria masyarakat di tengah gempuran budaya asing, tanpa mampu untuk memilih, mana yang bermanfaat mana yang merusak.

Saat ini, Ibu saya memang tengah galau, tepatnya saat menonton televisi. Televisi nyatanya jauh lebih kuat menciptakan pola-pola budaya dalam masyarakat, khususnya dalam keluarga. Ibu saya geleng-geleng kepala, saat adik saya yang empat tahun tengah menirukan dialog kasar dari sebuah sinetron, yang lazimnya bukan tontonan anak kecil. Apa mau dikata, adakah alternatif media saat ini yang akrab dan tepat guna untuk anak-anak? George Gerbner tak salah memang menciptakan teori kultivasi, bahwa dampak kumulatif dari televisi terhadap kepercayaan (belief) khalayak mengenai realitas sosial.  Berita yang mengangkat kriminalitas di perkotaan sebagaimana tampak di televisi, membuat orang cenderung berdiam di rumah dan memutuskan hubungan dengan masyarakat luas. Berdasarkan teori kultivasi, televisi berfungsi sebagai pencerita yang seringkali menampilkan pesan yang sama berkali-kali. Untuk kondisi tertentu, seorang wanita bisa berpindah alih ke kosmetik lain ketika iklan sebuah produk ditayangkan berkali-kali dan dianggap lebih menarik.

Realitas lain yang lebih menyesakkan, meskipun para orangtua telah menjaga anak-anaknya dari media pornografi dan pornoaksi dengan nasihat yang tak pernah henti. Nyatanya, kemudahan untuk mengakses dengan situs asusila tersebut hanya dengan sekali klik! Dunia maya menyuguhkan berbagai halaman yang memicu tindakan kriminal, konflik, dan kekerasan seksual. Di tengah tabuhan sukacita citizen journalism yang menyuarakan aspirasi warga negara dalam aktivitas jurnalistik tanpa lembaga, muncul realitas menyesakkan, menjamurnya situs-situs dengan kualitas “pers kuning” (Sumadiria, 2008:40). Situs-situs ini dengan bebasnya menyuguhkan tulisan sekitar seks, konflik, dan kriminal. Mengeksploitasi warna dan bersifat sensasional meledak-ledak. Lebih ironis lagi, meskipun situs berita jenis “pers kuning” ini memiliki selera rendah dan sering tidak berpijak pada fakta, masyarakat mayoritas menyukainya.

Lengkaplah sudah kegalauan seorang Ibu. Mereka berjuang menjaga moralitas anak-anak mereka dari  himpitan gempuran media yang seringkali tak manusiawi menampilkan informasi. Mungkinkah Ibu-Ibu lain merasakan hal yang serupa? Betapa khawatirnya mereka menghadapi fenomena di desa global. Desa global. Budaya dan globalisasi bertumpu pada teknologi komunikasi yang menjadikan “global village” sebagai wadah yang luas tak terjangkau menampung berbagai informasi.

Betapa informasi begitu kilat berpindah dari tempat terpencil sekalipun dan tersebar ke seluruh tempat di dunia. Tak ada sekat lagi untuk menjaring informasi antara ruang dan waktu, data tersebar antara berbagai benua. Dan parahnya informasi dan data itu sering memicu kriminalitas, terlebih internet. Sebuah ruang tak memiliki gerbang yang aman. Siapa yang mengira ternyata anak-anak, dewasa ini lebih akrab dan hangat dengan mouse komputer atau laptop, lebih sering menggenggam handphone daripada menggenggam tangan orangtuanya. Betapa desa global ini menyisakan berbagai benih-benih kebobrokan moral tak hingga dan tak dapat dibendung jika kita masih saja terjebak pada nilai tanda (prestise) bukan nilai guna.

Seorang Ibu memang begitu adanya, wajar jika khawatir saat anak-anaknya tak kunjung pulang membuka pintu. Bahkan, kekhawatirannya memuncak saat tak ada lagi kehangatan antara orang tua dan anak. Jurang pemisah begitu menganga meskipun secara fisik mereka dekat satu sama lain, karena masing-masing sibuk dengan handphone atau internet. Bercengkrama dengan keluarga seolah menjadi hal yang sulit untuk dilakukan saat ini. Sungguh, bukan main galaunya seorang Ibu di desa global.***­

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s