Anak-Anak Abad 21

Mentari di ufuk timur belum terlalu tinggi, sinarnya masih hangat untuk dirasakan. Namun, seisi rumah rasanya sangat panas terasa. Bukan karena api, bukan karena asap dari dapur. Tapi, jerit tangis adik bungsuku yang belum genap berusia empat tahun memenuhi ruangan. Tangisnya semakin keras, saat Ibu tak menghiraukannya. Rewel! Aku mendengus kesal, pagi-pagi begini isi kepala rasanya hampir pecah. Konsentrasi terpecah, mood naik turun tak karuan, semangat seketika hilang, saat isak tangis sang adik makin keras dan terus memekakkan telinga. Hanya karena satu alasan, HP! Adikku yang masih balita itu terus merengek menarik-narik tangan ibuku saat aku memegang ponsel sambil SMS-an. Anak sekecil itu memaksa diberikan HP.

Anak-Anak Abad 21

 

Duh! Tak terbayang anak-anak seusia mereka lima atau sepuluh tahun mendatang. Mungkin tak ada lagi kumpulan anak-anak bercengkrama bermain petak umpet, melompat tali, dan sejumlah permainan tradisional lainnya. Kelak di masa depan, atau bahkan sekarang pun jelas terlihat fenomena global yang menerpa anak-anak masa kini. Dengan iPod di tangan, jari-jari mereka akrab dengan layar HP touch screen, menonton film kartun di laptop, dan asyik bermain games virtual dengan Play Stasion Portable (PSP). Haduh!

Tidak salah sepertinya jika Ibu pagi ini hampir saja kehabisan kesabaran seraya berujar, “Repotnya punya anak-anak zaman sekarang……” Ucapan itu hanya 6 kata. Tapi efeknya sungguh terasa dan mengendap dalam benakku. Bagaimana kalau aku punya anak nanti, betapa mendidik dan mengasuhnya mesti ekstra sabar. Bukan saja karena tantangan rumitnya seabreg urusan rumah tangga, namun di luar itu semua, teknologi yang menjadi tantangan terbesar. Bukan mustahil, anak-anak zaman teknologi lebih akrab dan intim dengan ponsel mereka dibanding orangtuanya. Nah, itu yang menjadi pikiranku saat ini. Anak-anak abad 21 begitu canggih dengan kecerdasan menggunakan teknologi, namun moral mereka justru dipertanyakan. Karena kecerdasan tanpa akhlak hanya menyisakan manusia-manusia licik tak berhati nurani.

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s