Sakit ini Anugerah bagiku

Sudah lama aku sulit jujur menuliskan yang kurasa, bukan karena tak ingin, namun dalam kondisi seperti ini aku tak bisa mengidentifikasi perasaanku sendiri. Allah menganugerahkan masa-masa lemah untukku, didera rasa sakit dan suhu tubuh meninggi kala menjelang malam. Mengapa kusebut itu anugerah? Ya, setelah kurenungi lebih dalam. Rasa sakit itu bagiku sebuah anugerah dan titipan dari Allah untukku. Mungkin jika tak seperti ini, aku akan terus larut dalam rutinitas tanpa memperhatikan kesehatanku sendiri, terus sibuk kesana-kemari tanpa sadar tubuh pun  menuntut untuk merebahkan diri. Rasa sakit itu memang titipan. Ya, tentu saja. Allah yang menitipkan penyakit ini, dan Allah pula yang mengambilnya. Masalahnya apakah aku sabar menjalani masa-masa lemah ini… Rabbi, kuatkan hamba.

Rutinitas pun kutinggalkan sejenak, entah untuk kapan aku beranjak kembali. Aku banyak mendapat pelajaran berharga saat ini. Aku menjadi dekat dengan Ibu, Ibu menumpahkan segala keluh kesahnya padaku, biasanya aku lebih dekat dengan dunia kampus. Pulang-pergi, kampus-kosan teman-rumah, kadang singgah ke luar kota untuk acara organisasi. Ibu sering mengeluh, kapan teteh punya waktu untuk keluarga kalau sibuk di luar terus, aku membisu tak bisa menjawab. Dan nyatanya, aku bisa menemani mereka di rumah karena aku jatuh sakit, bukan karena inisiatifku sendiri ingin dekat dengan keluarga. Ampuni aku Ya Rabb… Sungguh, aku mengerti sekarang, pengalaman memberikanku hikmah yang tak bisa kudapat dalam SKS perkuliahan, aku bisa menunjukkan pendirianku sendiri, tanpa diiming-imingi keuntungan yang dijanjikan orang lain, yang ternyata hasilnya mengecewakan. Kuncinya semua berawal dari keluarga.

Bagaimana bisa mengurus umat, kalau keluarga saja tidak diperhatikan. Padahal dakwah dimulai dari keluarga. Itu yang kurasakan saat ini. Jauh-jauh kutapaki langkah ke pelosok negeri, mengajar anak-anak desa yang tak kukenal sama sekali, namun di rumah ada tiga orang adik yang kuabaikan. Mereka selalu terlihat selalu kesulitan jika tengah mengerjakan PR-PR mereka, namun entah mengapa mereka seperti tak berani meminta bantuanku. Entah mereka terlalu segan atau tak ingin merepotkanku. Sungguh, aku sayang mereka, tapi mungkin kasih sayang itu belum terdefinisi secara sempurna melalui tindakan.

Aku merasa dzalim, Rabbi… Membiarkan keluarga di rumah kehilangan sosok diriku sendiri. Sampai adik-adik pun mungkin tak begitu merasakan arti kehadiran sosok seorang kakak. Bahkan mungkin Ibu dan Bapak yang paling sering kehilangan aku saat mereka membutuhkan sosok anak yang diandalkan. Kemana saja aku selama ini. Sibuk mengurusi hal-hal yang terjangkau jauh, sementara hal yang dekat kuabaikan. #Merenung, sadar, membenahi diri. Rasa sakit ini sungguh nikmat Ya Rabbi… Engkau memberikanku hikmah dan petunjuk yang menyadarkanku akan kekhilafan diri yang seringkali luput ditelan detik-detik kesibukan tak berujung.

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s