Inikah (Belum) Saatnya Bagiku

Bagi seorang insan, belajar sejatinya proses tanpa henti. Bukan atas nama institusi dengan embel-embel sekolah, kuliah, atau sebagainya. Karena terkadang belajar dalam konteks itu kurasa hanya menempuh proses seremonial dan instrumen penilaian institusi. Setelah keluar kelas, semuanya tak membekas. Bukan itu yang kumaksud. Aku hanya ingin belajar dan terus belajar dalam sekolah kehidupan. Tanpa meja, kursi, papan tulis, dan benda lainnya yang lazim digunakan kegiatan belajar. Aku hanya ingin mereguk serangkaian rasa bagaimana aku melakukan kesalahan, mengetahui kebenaran, menjawab pertanyaan hidup, dan mengungkap hal yang abstrak dalam ukuran manusia. Itu yang kuinginkan.

Dan benar, belajar dalam konteks sebenarnya jauh lebih kompleks dan penuh tantangan. Aku bukan saja dihadapkan pada secarik kertas berisi puluhan pertanyaan essai, tapi tuntutan mengambil keputusan dan sikap yang matang. Betapa tidak, aku mesti merasakan perih dikecewakan. Meski awalnya kegembiraan menyeruak saat potensiku diakui oleh orang-orang.

Apakah aku terlalu naïf atau bodoh? Begitu mudah menuruti kemauan orang lain demi kepentingan mereka. Mengapa sulit untuk mengelak? Apakah aku tak pandai mengambil keputusan yang matang? Ataukah ini semua adalah sebuah proses yang mesti aku hadapi apapun itu tanpa protes? Sebuah fase yang tidak menggembirakan, hanya menyisakan kekecewaan dalam penantian, harapan, dan menunggu janji-janji tanpa bukti. Inikah yang harus kurasakan dalam masa belajar itu?

Mungkin ini pil pahit yang mesti kutelan sebelum mereguk madu yang manis. Seperti halnya apa yang dirasakan Ibu dan Bapak, beban mereka lebih berat dari aku. Apa yang kurasakan mungkin bagi mereka hanyalah sedikit pemanasan dari lika-liku hidup. Kalau demikian, mengapa aku terlalu menganggap semua ini sulit? Ya Rabb, terima kasih lagi-lagi Engkau memberiku isyarat.

Ada kalanya hidup tak senyaman yang dibayangkan. Sebelum merasakan kebahagiaan, selalu ada kucuran peluh yang menetes, selalu ada air mata yang jatuh, selalu ada rasa dikecewakan dan tak dihargai. Maka, bersabarlah dan tegar menjalani proses. Jika belum sampai untuk mereguk telaga madu, percayalah belum saatnya untukku mereguknya. Waktu yang akan menjawab. Sang Pemilik Waktu yang berhak menentukan jalan hidup ini. Hingga suatu saat jerih payah yang dilakukan berujung manis berhias senyuman. Tetap sabar dan tegar, meski rumus yang begitu klasik. Tapi akuilah itu justru yang sulit dan mesti diupayakan… Terima kasih Ya Rabb.

 

2 Comments Add yours

  1. hanif says:

    Kalau hidupmu lebih banyak di lapangan atau di kehidupan jalan bukan di belakang meja, kau akan mengerti betapa nikmatnya sebuah proses. Proses yang akan mendewasakan sikap kita. Pendewasaan sikapmu tergantung dari seberapa kuat mentalmu untuk menghadapi rintangan yang ada. Selalu saja ada ketakutan yang tak bisa diterjemahkan pada awalnya. Ketakutan yang bersumber dari keraguan diri yang menggumpal bahwa bisakah diri ini melewati semuanya? Semua itu wajar dialami oleh orang-orang yang baru terjun dan menemui hal-hal yang baru yang diluar prediksinya…*he he he pengalaman pribadi. Nice post. Salam kenal.

    1. jundiurna92 says:

      Yup.. Salam Kenal juga.🙂
      terima kasih sudah berkunjung. Siph, Bertekad mencintai proses.

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s