Nuraniku Teriak-Teriak

Hampir  pukul 11 malam. Aku masih menatap netbook lekat-lekat di ruang tengah. Di antara kepulan asap rokok yang membumbung memenuhi ruangan ini. Teman-teman sekelompokku memang “gila” merokok. Hufh mereka adiktif. Ah, lama-lama aku memang harus adaptasi dengan keadaan ini. Meski paru-paru menolak hawa itu, tetap saja aku dicap perokok pasif. Menyebalkan!

Bodoh juga yang di posisi seperti ini. Aku telah salah menilai orang. Ternyata… ternyata… dan ternyata… ternyata dia di luar dugaanku. Ah, siapa yang bisa menebak kecuali waktu yang membuktikan semuanya. Waktu yang membuka semua teka-teki yang tertutup tabir kepalsuan dari kepribadian manusia. Meski demikian, aku tak mungkin menjauh. Aku hanya bisa belajar memahami segala dugaan yang melenceng dari hipotesis hidupku.

Haloo… ada siapakah di hatiku??? Kalau aku bilang ada “Allah”, setan berteriak, “Bohong!” buktinya, kamu masih memikirkan hal-hal remeh bahkan berangan-angan pada manusia yang belum tentu menjadi teman hidupmu. Nurani berteriak lagi meski terengah-engah karena terlalu lelah menasihati, “Sudahi kebodohan ini, sudahi saja! Kembali pada titik fokus dan ingat prinsip yang selama ini kau genggam! Jika ada yang membuat kau terpesona, anggap saja itu sebagai hiburan sesaat, Cuma selingan! Jangan sampai terbuai bahkan tenggelam dalam keadaan itu.” begitu katanya. Nah, sekarang tinggal aku yang memutuskan… Mau tenggelam atau berenang ke tepian yang hakiki???

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s