Ilmu Komunikasi

Komunikasi = Proses Simbolik

Salah satu kebutuhan pokok manusia, seperti dikatakan Susanne K. Langer, adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang. Ernst Cassirer mengatakan bahwa keunggulan manusia atas makhluk lainnya adalah keistimewaan mereka sebagai animal symbolicum. Manusia memang satu-satunya hewan yang menggunakan lambang, dan itulah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

Lambang atau simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku non-verbal, dan objek yang maknanya disepakati bersama, misalnya memasang bendera di halaman rumah untuk menyatakan penghormatan atau kecintaan kepada negara.

Lambang adalah salah satu kategori tanda. Hubungan antara tanda dengan objek dapat juga direpresentasikan oleh ikon dan indeks, namun ikon dan indeks tidak memerlukan kesepakatan. Ikon adalah suatu benda fisik (dua atau tiga dimensi) yang menyerupai apa yang direpresentasikannya. Representasi ini ditandai dengan kemiripan. Misalnya patung Soekarno adalah ikon Soekarno, dan foto Anda pada KTP Anda adalah ikon Anda. Rambu-rambu lalu-lintas di jalan raya yang menunjukkan arah, adanya pom bensin, atau kondisi jalan (berbelok, menanjak, atau menurun) juga termasuk ikon. Sedangkan Albert Einstein, Franklin Delano Roosevelt, dan Mahatma Gandhi – yang dinobatkan majalah Time edisi internasional tanggal 31 Desember 1999 sebagai tokoh pertama, kedua, ketiga abad ke-20 – adalah lambang ilmu pengetahuan, lambang kemenangan demokrasi atas fasisme dan komunisme, dan lambang penegakan hak asasi manusia.

Berbeda dengan lambang dan ikon, indeks adalah tanda yang secara alamiah mempresentasikan objek lainnya. Istilah lain yang sering digunakan untuk indeks adalah sinyal (signal), yang dalam bahasa sehari-hari disebut juga gejala (symptom). Indeks muncul berdasarkan hubungan antara sebab dan akibat yang punya kedekatan eksistensi. Misalnya awan gelap adalah indeks hujan yang akan turun, sedangkan asap merupakan indeks api. [1]

Lambang mempunyai beberapa sifat seperti berikut ini.

Lambang bersifat sebarang, manasuka, atau sewenang-wenang

Apa saja bisa dijadikan lambang, bergantung pada kesepakatan bersama. Kata-kata (lisan atau tulisan), isyarat anggota tubuh, makanan dan cara makan, tempat tinggal, jabatan (pekerjaan), olahraga, hobi, peristiwa, hewan, tumbuhan, gedung, alat (artefak), angka, bunyi, waktu, dan sebagainya. Semua itu bisa menjadi lambang.

Lambang hadir di mana-mana dan tidak henti-hentinya menerpa kita: tagihan listrik, lagu lewat radio, berita TV, suara adzan, spanduk di pinggir jalan, bunyi peluit polisi, stiker Kopassus di kaca belakang sebuah mobil, tangisan bayi dalam gendongan pengemis, dan sebagainya.

Makanan saja bersifat simbolik. Banyak orang makan McDonald’s burger atau Kentucky fried chicken di restoran cepat saji, bukan karena mereka benar-benar menyukai makanan itu, namun karena makan di tempat itu member mereka status tertentu. Padahal di kota-kota besar Amerika, justru orang-orang kelas menengah ke bawahlah yang gemar makan di restoran-restoran itu, seperti buruh pabrik, supir angkot atau tukang sapu jalan. Kelas menengah atasnya malah enggan makan di tempat-tempat itu karena makanan itu mereka anggap “makanan sampah” (junkfood).

Dandanan dan penampilan fisik juga bersifat simbolik seperti stelan lengkap, T-shirt, sandal jepit, sarung, peci, warna kulit, jenggot, atau rambur dikucir. Kulit putih dianggap berstatus lebih tinggi daripada kulit hitam, konon didambakan 87 % wanita Indonesia menurut sebuah iklan kosmetik di TV swasta. Karena itu, banyak iklan krim pemutih kulit seperti terlihat di layar televisi.

Seperti dandanan, tempat tinggal juga bersifat simbolik. Tinggal di apartemen di Indonesia dianggap keren dan penghuninya dianggap kaya, padahal di Negara Barat tinggal di apartemen diasosiasikan dengan hidup serba sederhana, kalaupu bukan melarat. Interior rumah, seperti furnitur, pajangan, dan hiasan dinding juga dapat diberi makna.

Lambang pada dasarnya tidak mempunyai makna; kitalah yang memberi makna pada lambang

Makna sebenarnya ada dalam kepala kita, bukan terletak pada lambang itu sendiri. Dengan kata lain, sebenarnya tidak ada hubungan yang alami antara lambang dengan referent  (objek yang dirujuknya). Sebagian orang percaya bahwa angka-angka tertentu mengandung makna-makna tertentu, misalnya: kualitas (bagus atau jelek), kekuatan, keberuntungan, atau kesialan. Begitulah, angka 9 atau 10, seperti huruf A (nilai ujian mahasiswa), sering diasosiasikan dengan prestasi yang tinggi.

Dalam kasus dandanan, dasi sering dianggap merepresentasikan bonafiditas, apalagi dalam stelan lengkap. Padahal, sebagai contoh, tidak ada hubungan alamiah antara dasi yang dipakai para pegawai bank dengan bonafiditas mereka.

Sebagai satu-satunya makhluk yang menggunakan lambang, manusia sering lebih mementingkan lambang daripada hakikat yang dilambangkannya. Sebagian orang bahkan menggadaikan harga diri mereka pada lambang-lambang tertentu seperti model rambut, model pakaian, dan merk-merk tertentu seperti BMW, Giorgio, Armani, Cartier, Gucci, Louis Vuitton, Rolex, Bally, atau gelar sarjana yang kalau perlu mereka beli.

Sebagian masyarakat kita, termasuk yang berpendidikan tinggi, masih “tergila-gila” pada gelar dan menganggapnya sebagai simbol status. Ada kalanya sebagian orang menggantungkan nasib dan keselamatan mereka pada lambang-lambang tertentu. Mereka memilih hari dan tanggal tertentu untuk menikah. Untuk mencapai keinginan tertentu, seperti sukses dalam bisnis atau mendapatkan jodoh, ada yang memakai cincin atau susuk tertentu.

Lambang itu bervariasi

 

Lambang itu bervariasi dari suatu budaya ke budaya lain, dari suatu tempat ke tempat lain, dan dari suatu konteks waktu ke konteks waktu lain. Makna yang kita berikan kepada benda-benda tertentu, kendaraan misalnya, juga berubah. Hingga tahun 1960-an  orang berpikir hanya orang-orang kelas atas yang punya mobil. Kini, orang-orang kelas menengah pun dan menengah bawah pun mampu punya mobil. Telepon genggam yang dianggap status sosial istimewa pada dekade 1990-an, hingga banyak orang petantang-petenteng menggunakan telepon genggam mereka di tempat umum, ternyata tidak lagi dipandang demikian pada penghujung dekade tersebut.[2] Memasuki abad ke-21, tidak sedikit buruh bangunan, buruh pabrik, TKW, tukang ojek, dan bahkan preman terminal pun memiliki telepon genggam.

Pemaknaan terhadap suatu perilaku juga boleh jadi berubah dari waktu ke waktu meskipun dalam budaya yang sama.

 


[1] Deddy Mulyana. Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. Bandung:ROSDA, 2008, hlm. 92-93.

[2] The Jakarta Post. 15 Agustus 1999. Dalam Mulyana, hlm. 107.

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s