Secangkir Kehangatan antara Aku dan Ibu

Aku berpikir, apa yang akan aku lakukan jika Ibu wafat? Siapa yang akan mencintaiku seperti Ibu? Ibu memelukku dan berkata, “Para ibu tak pernah meninggalkan putri mereka. Mereka tetap terikat, hati ke hati, jiwa ke jiwa. Kematian sekalipun tidak akan dapat mematahkan ikatan itu.”
A Cup of Comfort for Mothers dan Daughters. Colleen Sell. Qanita.

Bergetar hatiku saat mata tertuju pada rangkaian kalimat yang ada di belakang sebuah buku. Benar, kalimat itu menyadarkanku akan segala kasih sayang seorang wanita. Wanita yang dengan tulusnya menemaniku mengetik tugas hingga larut malam, tulus menyeduhkan secangkir susu sereal saat waktu beranjak dini hari, sedangkan aku masih menggelayutkan jemari di atas tuts-tuts keyboard. Wanita itu, ibuku…

Entah kenapa, awalnya aku tak mengerti, mengapa ia selalu tahu kebiasaanku, bahkan yang paling rahasia sekalipun. Saat aku berjalan ke dapur perlahan tanpa suara, mencelupkan sepotong biskuit pada susu coklat yang diseduh Ibu, ia langsung tersenyum saat aku kembali ke ruang tengah dan berkata, “Nah, pasti nyicip susu coklat di dapur ya…” Aku nyengir ketahuan. Wah, kok Ibu bisa tahu, padahal ia tengah menjahit dengan anteng di ruang tengah, gumamku dalam hati.

Pokoknya Ibu selalu tahu setiap gerak-gerikku sekalipun aku berusaha menyembunyikan itu darinya. Bahkan, kesedihan yang kupendam pun menggerakkan sikap pedulinya, sejurus kemudian, ia menanyakan suasana hatiku yang tercermin dari wajah yang kusut. Untuk kesekian kalinya, Ibu selalu tahu isi hatiku, keinginanku, dan segala harapanku. Dan aku pun bertanya dengan penasaran, “Kenapa Ibu selalu tahu, Ibu punya indera ke enam, ya? Atau Ibu punya ilmu magic?” Ibu hanya tertawa mendengar pertanyaanku yang aneh. Lalu Ibu hanya menjawab dengan tenang, “Karena kamu anakku.”

Saat itulah, aku benar-benar mengerti arti kedekatan seorang Ibu dengan anaknya. Ibu, memang ibu yang sejati untukku. Namun, dengan penuh penyesalan, aku merasa belum menjadi putri yang sejati untuknya. Yang selalu bersedia saat ia membutuhkan aku di sampingnya. Aku sering berpaling dan menjauh. Maafkan aku, Ibuku sayang…

One Comment Add yours

  1. Nisa says:

    :’) karena jiwa yang satu, hanya raga yang memisahkan..

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s