Tersulut Api Sejarah

Sejarah, sebuah kata yang berakar dari bahasa Arab (=syajaratun) yang memiliki arti, pohon. Sejarah sejatinya berakar dan tumbuh seperti pohon kemudian menghasilkan bunga dan buah yang akan dituai setelah ditanam di masa silam. Tapi, rasa-rasanya sejarah itu tak mengakar sama sekali. Hanya berdebu di bawah tumpukan buku yang lebih menarik sampulnya. Sejarah hanya dibaca jelang  ujian ilmu pengetahuan sosial.

Yang kutahu dan kupahami sejak duduk di bangku SD, sejarah itu begitu membosankan. Dengan rangkaian tanggal, tempat, dan peristiwa masa lalu yang bagiku hanya selewat hafalan untuk mengejar nilai IPS, bukan pemahaman hakiki sebagai batu pijakan hidup. Yang kutahu dan kubaca sejak dulu, sejarah bernama Indonesia tak pernah sedikitpun mengangkat peran Islam di dalamnya. Nasionalisme diangkat dari akar kebangsaan semata dan dianggap sebagai entitas berbeda dari segala hal bertema keislaman. Inikah distorsi sejarah yang kupahami sejak dulu? Tanggal dan peristiwa yang kuhapal untuk ulangan semester pelajaran IPS? Semata buatan ahli sejarah yang sengaja menyingkirkan realitas peran ulama dan santri.

Salahku sendiri, betapa malas membaca sejarah. Betapa malas bercermin pada realitas yang terjadi di masa lalu. Kesadaranku tersulut “Api Sejarah” karya Ahmad Mansyur Suryanegara. Betapa selama ini aku dininabobokan sejarah yang kuanggap benar dari buku-buku pelajaran sekolah sejak SD. Ternyata, di balik itu semua tersimpan pengkhianatan sejarah yang sistematis. Seolah-olah, pemenang kemerdekaan hanyalah orang-orang bertitel nasionalis tanpa agama. Kenyataannya justru spirit Islam-lah yang membuat kemerdekaan diraih bangsa ini, dan juga satu hal yang utama semata atas rahmatNya.

Belajar lagi. Sungguh, nuraniku ingin aku terus belajar dan belajar, menemukan segala hal yang bisa membuatku bijak menyikapi hidup. Bukan merasa cukup dengan wawasan yang dimiliki. Benar, kata seorang mahasiswa S3, sejatinya ilmu itu dicari sampai liang lahat memanggil. Batas waktu perkuliahan yang usai, sekalipun sampai wisuda S3, bukan berarti proses belajar pun usai. Semuanya masih harus, masih harus berlangsung. Tak peduli masih berstatus mahasiwa, sarjana, bahkan ibu rumah tangga. Belajar memang proses tiada henti. Siapa lagi yang akan memerhatikan sejarah kalau bukan diri kita sendiri. Karena kita memang mesti perhatikan sejarah untuk hari esok yang lebih baik. Mulai detik ini, aku akan mencintai sejarah. Sebagai cerminan bukan saja hafalan.

Setelah tersulut Api Sejarah.

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s