Atas Nama Seni

Begitu klasik. Klise. Ucapan yang terus berulang itu hanyalah sebuah alibi. Atas nama seni, tubuh wanita dianggap sebuah keindahan yang boleh diumbar. Atas nama seni, hiburan sebejat apapun efeknya, dianggap sebuah kelaziman. Kembali pada rumus klasik, SENI.

Sebenarnya apa batasan seni? Kata ini begitu elastis untuk ditafsirkan. Boleh jadi, seni menurut artis, sutradara, produser, wartawan, dan berbagai pihak dalam industri media, ditafsirkan beragam. Tapi semuanya nyaris bermuara pada satu ungkapan, “Atas nama seni”.

Seperti topik Lady Gaga yang menyeruak ke berbagai obrolan media sosial juga ikut mengisi space berita di televisi dan surat kabar. Intinya satu, kontroversi konser Lady Gaga dan berbagai polemik yang muncul. Terlepas dari beragam tanggapan itu, dan memang tidak perlu juga dibahas di sini. Beberapa artis juga angkat bicara dan mendukung konser tersebut dengan ujaran klasik, “Atas nama seni”.

Seni menjadi suatu apologi seksualitas yang tersebar di halaman virtual, surat kabar, majalah, televisi, bahkan film yang mengusung muatan ini. Makanya, banyak orang tenang-tenang saja ketika film berunsur seks dengan bumbu horor tampil di bioskop. Boleh, atas nama seni.

Kata-kata itu begitu menyakitkan, menurutku. Bukan karena tak suka atau sinis terhadap hal yang berbau seni. Seni dalam kacamataku sebagai orang yang masih berstatus mahasiswa, adalah segala hal yang bermuara pada keindahan hakiki, estetika yang terikat dengan nilai-nilai kemanusiaan, bukan “keindahan palsu” yang malah berujung pada menjual manusia. Tubuh wanita diumbar di halaman media sebagai komoditas menarik khalayak. Seni macam ini hanyalah mencintai keindahan “daging” manusia semata , bukan seni yang berakar dari jiwa.

Lantas, masihkah disebut seni, jika keindahan palsu itu berujung pada realitas menyedihkan berjudul maraknya pemerkosaan, penjualan wanita dan anak di bawah umur, dan berbagai realitas kelabu lain sebagai akibat “atas nama seni”. Masihkah disebut seni?

Realitas ini membuat jengah. Resah. Nyatanya seni di negeri ini malah bersanding dengan hasil produk seni yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Atas nama seni, semuanya boleh… miris!

One Comment Add yours

  1. damae says:

    analisis yang ringan tapi berbobot, renyah!

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s