Makna Sebuah Bingkai Foto

Barthes memiliki ketertarikan terhadap fotografi dan potensinya untuk mengomunikasikan peristiwa-peristiwa aktual. Banyak artikel mitos bulanannya pada tahun 50-an mencoba merepresentasikan makna yang tersirat yang kemudian dipergunakan oleh budaya borjuis untuk menyimpulkan “kebenaran-kebenaran naturalistic”. Namun dia masih menganggap foto memiliki potensi unik untuk menampilkan sebuah representasi sejati dunia secara utuh. Ketika ibunya, Henriette Barthes,  meninggal pada tahun 1977 dia mulai menulis Camera Lucida sebagai suatu upaya untuk menjelaskan signifikasi unik foto ibunya ketika menggendong Barthes yang masih anak-anak. Berefleksi tentang hubungan antara makna simbolik nyata dari sebuah foto (yang disebutnya sebagai stadium) dan makna yang murni bersifat personal dan bergantung pada sang individu, yang “menembus sang pengamat” (yang disebutnya sebagai punctum). Barthes menjelaskan bahwa sebuah foto tidak sepenuhnya merupakan representasi solid dari “what is” sebagai “what was” dan karenanya “what has ceased to be”. Foto tidaklah menciptakan realitas solid, tetapi berfungsi sebagai pengingat ihwal ketidaktetapan dan keadaan dunia yang senantiasa berubah.

Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa, Semiotika atau Semiologi Tanda, Simbol, dan Representasi. 2010. Yogyakarta: Jalasutra. Sumber terjemahan: Mythologies. 1972. New York: Hill and Wang.

Berangkat dari kenalan sama semiotika, aku tertarik pada segala hal visual seperti foto, poster, untuk ditelisik dan menerka maknanya dengan pisau analisis signifikansi dua tahap-nya Roland Barthes. Mengutip pernyataan di atas, “foto memiliki potensi unik untuk menampilkan sebuah representasi sejati dunia secara utuh.” Yup, meskipun foto hanyalah daya cipta manusia. Cetakan mutakhir dari teknologi bernama kamera.

Kira-kira makna apa yang diungkap saat foto di bawah ini berbicara secara visual…?

Kenangan Masa Kecil

Barangkali makna yang tersirat, keceriaan dua orang anak dalam rangkulan ibunya. Keceriaan yang murni, tak dibuat-buat, tak seperti genre “narsis” pada umumnya. Dengan senyuman lepas dan rasa menahan tawa, foto dari kamera polaroid ini begitu soft untuk diraba dengan semiotik. Sebuah foto, meski hanya cuplikan gambar apa adanya yang ditangkap kamera, hal itu memunculkan hasrat kerinduan pada masa lalu. Timbul hasrat diri antara mempertautkan keadaan kini dan masa silam, kemudian hanyut dalam momentum bernama “nostalgia”.

Melalui kaidah fotografi, camera angle yang digunakan merupakan eye level, di mana posisi kamera dan objek lurus sejajar. Sedangkan frame size berupa 3 S (Three Shot), yaitu menunjukkan interaksi non verbal antara tiga orang dengan gesture dan sentuhan.

Sungguh, foto sejatinya bukanlah “berhala” yang terus dipuja, diamati, lalu buat kita terhanyut hingga tak ingin bergerak dalam kubangan kenangan masa lalu. Tidak! Foto itulah yang menjadi album episode kita, agar kita tak lupa bahwa kita pernah melalui fase itu. Bukan sekedar narsis ala dunia maya, tapi bagaimana memaknai foto dan membidik lensa sesuai daya cipta imaji yang berkolaborasi secara harmoni dengan nurani. Celebrate a semiotics!

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s