Sepulang dari Toga Mas

Toku Buku Toga Mas Bandung.
Sumber: http://www.panoramio.com

“Kelak, bukuku akan terpajang di sini…” Gumamku setengah berbisik. Aku punya naskah yang hampir matang. Mungkin tinggal proofreader saja yang ambil peran. Mulai dari editing, desain, dan layout telah kulahap sendiri. Tak salah memang jika temanku menjulukiku “si perfeksionis”, dan lontaran kata-kata disampaikan pemilik perpustakaan Batu Api padaku, “kamu rakus baca…” Juga permainan tebak temperamen di facebook memberikan jawaban, “Si Koleris”.

Dalam senja hari beranjak petang itu, aku menelisik setiap rak dan “mengendus” setiap judul dan cover yang kurasa memikat. Meski ada ungkapan, don’t judge book by its cover, nyatanya memang cover dan judul menjadi pesona pertama memikat mata dan tangan meraih membaca sinopsis pada halaman belakang. Buku yang memberikan “nyawa” bagi jiwa yang merindukan literasi menggelegak, seketika mendorong naluri untuk membawa si buku ke kasir, memberinya sampul, kemudian dibawa pulang untuk tinggal di atas meja kamar, sesekali “menginap” di rak berdebu.

Di antara deretan buku yang membuat mata “kenyang” menatap, perhatianku terhenti pada rak filsafat. Kebanyakan memang buku terjemahan, dengan harga yang lumayan, kurasa tak ada salahnya melengkapi koleksi buku para pemikir itu. Si workaholic yang ambisius dalam berpikir ini, memang haus akan nutrisi filosofis. Ditatapnya satu persatu buku-buku di sana. Dengan memiringkan kepala melihat judul bagian tengah, aku mencari secercah kalimat yang dapat dapat kuajak berdialog dan tak usah terlalu berpikir berat. Dan… nampaknya belum ada. Lagi-lagi dengan ambisi yang menggelegak, aku bertekad untuk menjadi penulis filsafat yang amatir. Memakai logika sederhana dan bahasa yang mengalir untuk menderaikan kata-kata bermakna semiotika, ranah cultural studies yang tengah kukaji dalam menggarap skripsi. Skripsi memang mungkin kelak berlalu. Tapi, semiotika sampai detik ini dan seterusnya mungkin selalu terngiang dalam benaknya. Menyisakan berbagai tanda tanya dan tanda seru, betapa inginnya aku menelurkan dialog budaya dalam bahasa sendiri dengan pisau semiotik.

6 Juli 2012

8:20 PM, sepulang dari Toga Mas

5 Comments Add yours

    1. jundiurna92 says:

      ancin banget komen teh.. hha

  1. wildan220688 says:

    udah pernah baca dunia yang di lipat – yassir amir pailing ?

    1. jundiurna92 says:

      pernah..🙂

      ________________________________

      1. wildan220688 says:

        minta riview nya dongs.. hehe

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s