Perhatian adalah…

Satu detik berlalu, namun menit-menit berikutnya masih menakutkan bagiku. Aku tahu, tak mudah baginya, saat aku tak memberi kabar, saat pesan tak ada balasan. Lagi-lagi, pulsa menjadi titik krusial. Ia tak menginginkan lagi alasan, tak memberi kabar karena tak ada pulsa. Kurasa ia pasti bosan dengan alasanku kali ini, pulsaku over limited. Selanjutnya, ketakutan masih menghantuiku. Saat ponsel berdering, tanda miscall darinya berkali-kali. Aku bingung, harus bagaimana menjelaskan keadaan ini… saat aku tahu, dia memang begitu perhatian. Sangat perhatian.

Seringkali sebingkai perhatian itu kusalah artikan. Aku sadar, aku yang begitu interest pada kosa kata, tingkatan bahasa telah ikut campur dalam hal ini. Kalimat-kalimat perhatiannya seringkali kuanggap “miring” dalam kacamataku. “Itu bukan kalimat yang benar,” kataku. “Seharusnya begini,” saat aku mencoba meyakinkannya kalimat apa yang menurutku benar.

Telah jauh kuarungi hubungan ini, namun aku masih belum jauh memahami dirinya. Aku tahu, aku dan dia memang sama-sama keras kepala. Tak mau mengalah, lagi-lagi pesan buntu kutemui saat respon singkat hanya dapat meninggalkan sebentuk teka-teki, yang menggumpal dalam perasaanku. Membuat sesak. Tak tahu lagi harus berbuat apa, saat kami sama-sama salah pengertian akan berbagai hal, termasuk perhatian yang benar seperti apa.

Bagiku kini, short message service (SMS) itu kadang menjadi sesuatu yang menjemukan. Ya, kadang juga membuat kesal. Betapa sering perasaan atau maksud hati terbatasi oleh karakter sms, terbatas pulsa, terbatas sinyal. Semua yang ingin kusampaikan terbatas oleh sms. Lagi-lagi juga kebingunganku bermula karena sms yang masuk darimu, saat aku pernah tak mengerti apa maksudnya pesan sesingkat itu. Telah bosankah, ataukah malas menjawab… Entahlah, aku masih sibuk dengan dugaanku saja.

Maafkan aku… Kini, aku bukan mencoba untuk mengalah, bukan menghindar dan membuat skor kau dan aku, satu-kosong. Namun aku ingin, kita sama-sama nol-nol, menyadari semua yang telah diarungi, tak peduli pemahaman itu terkadang menyisakan emosi. Perhatian, nyatanya bukan lagi sebentuk rangkaian kata romantis penuh janji manis, meski kuakui kadang aku memerlukan sesekali kalimat itu darimu. Perhatian adalah sikap. Sikap saling percaya bukan mencurigai, sikap saling menerima, saling memahami saat kita terbelenggu kekurangan masing-masing.

Aku tak ingin ketakutanku semakin mencengkram dan menghempaskan pada sebentuk perhatian semu. Perhatian itu kelak menjadi pupuk hubungan ini, saat Allah membukakan gerbang pelaminan bagi kita mengarungi kebahagiaan menggenapkan iman di hadapanNya.

Ditulis setelah mendapat “percikan” inspirasi dari A Cup of Tea For Complicated Relationship, Stiletto Book.

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s