Sensasi Menulis dan Jempol Pembaca Pertama

 

Ibu menatap buku itu lekat-lekat. “Suatu Senja di Stasiun”, buku bertebal 200 halaman yang bersampul warna hitam dan jingga. Semalaman, lagi-lagi aku menaklukkan rasa kantuk yang mendera dan tetap memainkan jemari di atas keyboard untuk menge-print sebuah buku berisi antologi esai.

“Begadang lagi, ya, memangnya tugas mata kuliah apa, kok ngerjainnya ngebut gitu…?” tanya Ibu sambil membuka halaman pertama dan menyimak setiap halaman dengan sekilas.

“Bukan, Bu. Ini buku keempat yang Ijund print sendiri, bukan untuk tugas kuliah kok, tapi pengen aja buku ini bersanding dengan buku-buku lain di lemari.” jawabku mantap sambil tersenyum.

Sungguh, ada hasrat yang menggelegak kala benak menemukan gagasan yang mencuat tiba-tiba. Hanya satu hal yang kuingin ketika itu, meraih pena dan menulis. Menulis seperti orang “kesurupan”, tak bisa mengalihkan diri pada hal lain barang sedetik pun. Mata seakan tertancap pada layar monitor dan jemari terus hinggap di atas tuts-tuts keyboard.

Sudah empat buku yang kuhasilkan sejak tahun 2008, tentunya hasil cetakan manual, berbekal printer infus yang ada di sudut kamar. Dari buku-buku itu, dua di antaranya memang tugas kuliah berupa otobiografi dan wawasan komunikasi politik. Sementara dua buku terakhir, berupa tulisan non fiksi yang berbicara berbagai hal dalam hidup. Entahlah, ada sensasi tersendiri saat jemariku menyentuh cover buku yang baru di-print. Langkah selanjutnya, membawa buku itu ke arena foto copy untuk dijilid binding. “Biar mirip buku yang lain!” Motifku saat itu. Kemudian, jadilah buku keempat yang digarap dengan rakus olehku. Ya, mulai dari proses editing, desain sampul, tata letak buku itu semuanya aku yang tangani. Mungkin jika diserahkan ke penerbit, tinggal proofreader saja yang mengambil peran.

Ditolak penerbit? Bukan hal baru bagiku. Harap-harap cemas kukirim naskah beserta lampiran sinopsis dan biodata ke beberapa e-mail penerbit. Saat menatap jendela  “Tulis E-mail”, rasanya seakan langsung berhadapan dengan meja redaksi, meski nyatanya aku hanya menatap dunia virtual. Tetap saja, kegalauan mendera. Namun, tugasku pada saat itu memang hanya mengirim naskah, kemudian menunggu. Seperti ketentuan penerbit pada umumnya, 3 bulan adalah jangka waktu maksimal saat naskah mendapat jawaban. Diterima atau ditolak. Nah, aku pernah menerima jawaban yang kedua. “Maaf, kami belum bisa menerbitkan karya anda, karena kami tidak menerbitkan kumpulan esai.” Begitulah jawaban yang kuterima dari salah satu penerbit selang beberapa bulan menunggu sebuah kepastian.

Kecewa? Tidak juga. Aku mencoba memahami dan mencari jawaban yang sesungguhnya, betapa menjadi penulis membutuhkan mental baja agar tak luluh lantak hanya karena naskah ditolak. Seketika saat itu juga, aku jadi sering mengunjungi toko buku di kotaku. Mencoba mencari secercah gagasan untuk memperkarya tulisan. Ada kalanya mencari karya bandingan. Aku yakin, menjadi penulis yang bukunya telah banyak menempati etalase toko buku, bukanlah hal yang terjadi secara Abrakadabra. Bagaimanapun, mereka yang telah menjadi penulis ternama, juga pernah melalui satu fase penulis pemula. Aku tak boleh menyerah.

Aku memang telah jatuh cinta pada pena. Pena dan kata-kata ibarat sahabat yang berperan dalam ruang dan waktu. Sebelum memiliki netbook, deretan diary  sejak duduk di bangku SMP tak pernah terlewat seharipun untuk diiisi. Emosi, ekspresi, buah pemikiran dalam fase hidup yang kulalui tercurah di sana. Seiring waktu memasuki era global, rupanya aku sulit menemukan waktu untuk melabuhkan kata-kata pada diary, teman sunyi yang terbaik. Halaman blog, menjadi satu-satunya ruang untukku menyebarkan kata-kata di arena virtual. Hingga kini hampir 300 postingan tulisan sejak tahun 2009. Bagiku, tak ada kenikmatan dan kebahagian tersendiri selain menulis. Saat kata-kata dalam benak berjumpa dengan halaman kosong dan bermain diksi di atasnya.

Kata-kata terkadang memang tak mengenal waktu. Setiap detik punya cerita sendiri. Pagi, siang, senja beranjak petang, kata-kata memiliki makna terdalam bagi seorang manusia menekuri langkah yang telah berpindah, menekuri waktu yang telah berlalu. Menulis, semacam dorongan nurani mengajak diri untuk bercengkrama dengan realitas, mencari formula, membingkai gagasan yang terpatri dalam jiwa. Kemudian, lahirlah semacam buku How To, Flash Story, fiksi dan berbagai rupa wajah sastra yang terpajang di toko buku dan perpustakaan.

Suatu siang di Batu Api, sebuah perpustakaan minimalis di Jatinangor, perhatianku tertumpah ruah pada buku-buku esai Catatan Pinggir karya Goenawan Mohamad. Tanpa pikir panjang, ku ambil Caping edisi ke satu, ke tiga, dan esai kata, waktu. Buku-buku itu kupinjam sekaligus dengan buku untuk referensi skripsi.

“Kamu rakus baca, ya…” ujar pemilik Batu Api padaku seraya mencatat daftar buku yang kupinjam. Aku tersenyum mengangguk, “Suka nulis soalnya, he he…” Selain suka nulis, sebenarnya sebuah artikel di Batu Api menghentak kesadaranku sebagai mahasiswa. Tulisan itu menyoal pragmatisme akut mahasiswa terhadap perpustakaan. Perpustakaan, menjadi tempat favorit hanya saat dibebani tugas kuliah berupa makalah dan skripsi. Kuakui, hal itu memang benar adanya. Tak sedikit mahasiswa yang rajin ke perpustakaan hanya karena dorongan akademik kampus, bukan karena keinginan hatinya sendiri bermesraan dengan buku. Aku, mungkin salah satunya. Tergugah oleh tulisan itu, akhirnya perlahan kuubah asumsi yang tertancap selama ini. Tak peduli skripsi telah berlalu, kebutuhan menulisku memerlukan perpustakaan sebagai rantai inspirasi memberikan nutrisi untuk tulisan.

Pernah kehabisan ide saat menulis? Aku pernah berkali-kali mengalaminya. Layar dan kursor menunggu untuk meneruskan gagasan, namun yang ada kebuntuan menjelma dan menghantui sang penulis pemula. “Selanjutnya kalimat apa…” menjadi pernyataan yang terus membayang dalam benak. Kalau tak segera memperoleh jawaban, aku mati kutu di hadapan monitor. Lalu, nurani berbisik lirih dari dalam. “Menulis itu bukan hanya pekerjaan merenung sejenak lalu mengurai kata-kata, namun menulis sebuah integrasi dari berbagai aktivitas. Hiruplah udara segar, berjalan-jalan mengamati dunia, berdialog dengan sesama, jangan lupa mencerna bacaan lain. Itu akan membuat tulisanmu lebih hidup!”

Ya, kutemukan juga celah untuk keluar dari jalan buntu saat menulis. Saat kata-kata sulit menemukan dermaga, saat pikiran berkecamuk antara gagasan yang meragu, mantapkanlah diri dengan sejenak menoleh ke luar kamar, hirup udara segar, menyimak realitas lebih dekat, dan berdialog dengan siapapun. Saudara, kerabat, teman, bahkan orang asing bisa saja memberikanmu inspirasi untuk menulis. Secuil data yang berharga.

Saat perjalanan menuju kampus dalam Damri ekonomi, sengaja aku tak menuruti rasa kantuk yang mendorongku merebahkan kepala ke samping jendela. Kusibak kaca yang berdebu, merasakan angin jalanan yang telah tercampur polusi, menghirup dan menghembuskannya perlahan. Pemandangan sisi jalan menjadi sebuah bingkai berharga meletakkan kata-kata. Satu jam lebih dalam perjalanan itu kuciptakan “Jurnal Bus Kota”, tulisan hasil pengamatan selama berada dalam bus ekonomi. Sebuah momentum mencari inspirasi di antara sesak penumpang yang bergelayutan, lautan manusia bercampur peluh sepulang beraktivitas senja hari, hilir mudik pedagang asongan, dan hentakan musik jalanan para pengamen, mewarnai momentumku kala itu. Percayaalah, selalu ada celah inspirasi saat tulisanmu menemukan jalan buntu. Bukankah di balik kesulitan ada kemudahan itu memang benar adanya…

Jika sebuah ruang sunyi menjadi teman setia para penulis, maka aku belajar membuat ruang sunyi itu di tengah hiruk-pikuk keramaian. Saat diri telah bertekad menjadi penulis, tak ada alasan berhenti saat kata-kata membutuhkan ruang sunyi. Aku belajar bagaimana tetap asyik menulis kala tangisan adik bungsuku mewarnai pagi, kala celotehan Ibu-Ibu membahana depan rumah sibuk memilih sayur, kala suara televisi di ruang tengah memekakkan telinga. Bertahan dalam sebuah keramaian, itulah yang kulakukan. Mungkin bisa dibilang autis, asyik dengan dunia sendiri. Keramaian tak mengusik sedikitpun. Kata-kata tetap mengalir dan menemukan muara.

Bagaimana lagi, aku memang telah terlampau jatuh hati pada kata-kata. Menulis seakan menjadi separuh hidupku. Tak peduli diterbitkan atau tidak. Yang terpenting jiwa telah menyampaikan amanahnya, mengukir kalimat atas realitas tak sempurna dalam hidup.

Namun, pernah satu saat, aku kehilangan gairah untuk menulis. Ya, saat pertama kali ditolak penerbit, membuatku berputus asa dan berpindah haluan pada aktivitas lain. Bahkan, tebersit keinginan agar meninggalkan proses tulis-menulis, mencari minat lain. Nyatanya, sama sekali tak bisa.

Amunisiku terisi kembali saat Bapak tak sengaja meraih tulisanku yang telah dijilid layaknya buku bacaan.

“Buku siapa ini? Boleh ya Bapak baca…” ujar Bapak.

Aku tersenyum mengangguk sambil menjawab bahwa itu buku hasil karyaku.

Sepulang kerja dari membereskan dagangan bambu material bangunan, Bapak membuka halaman buku satu per satu dengan seksama, tak lupa merogoh terlebih dahulu kacamata bacanya. Menekuri setiap kata, alinea, dan bagian tulisan dalam buku itu. Entah apa yang ada dalam pikirannya, aku belum tahu kesan apa yang Bapak berikan tentang buku itu. Beberapa menit kemudian, Bapak membawa buku itu ke kamarnya untuk meneruskan membaca di tempat yang lebih tenang pada sore hari.

Kesan pertama yang Bapak berikan padaku sungguh menggoncang jiwa. Beberapa hari kemudian, buku itu kuterima kembali. Bapak tersenyum simpul dan mengacungkan jempol untukku, seperti bergumam “Like This” pada komentar Facebook.

“Bagus, Teh, asyik ya bacanya, teruskan…!” begitulah komentar Bapak dan kesan pertama untuk hasil karyaku.

Gairah menulisku yang sempat meredup, kini menyala kembali. Menemukan sebuah sensasi tersendiri dari kesan sang pembaca. Bapak, pembaca pertamaku yang memberikan secercah kesegaran agar aku bangkit saat buku belum menemukan “dermaga” untuk diterbitkan. Bapak, pembaca pertama yang menanamkan benih semangat agar tak berputus asa dalam hidup, apalagi hanya karena naskah ditolak. Jempol dari pembaca pertama itu bagiku sungguh berkesan. Memberikan sebuah sensasi menulis yang berharga. Bahwa menulis bukan hanya instrumen dalam proses belajar mengajar, bukan hanya soal mengerjakan makalah atau tugas akhir, melainkan sebuah proses sinergis yang memadukan berbagai hal. Belajar menyimak, berdialog, menguak berbagai isyarat hidup yang akan senantiasa memberikan kenikmatan sendiri. Terima kasih, pembaca pertamaku! Dan saksikanlah… jemari ini akan terus memainkan diksi, hingga waktu telah memanggilku untuk kembali pada-Nya yang satu.*)

 

 

 

 

4 Comments Add yours

  1. damae says:

    “Like This” teteh..🙂

  2. wildan220688 says:

    boleh dongs, buku nya saya beli ?

  3. dies says:

    lumayan
    like this

  4. hal yang diinginkan bisa jatuh cinta pada pena

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s