Essai, Inspiring Report, Keluarga

Pintu Setengah Terbuka

Aku masih  berdiri di depan kamarnya. Kubuka perlahan dan memasuki ruangan itu. Baru sehari ruangan itu ditinggalkan pemiliknya. Namun, segala hal yang ada di sana, membuat rinduku kian membuncah. Kenangan berdenyar satu per satu saat pelupuk mata jatuh di antara barang-barang di atas meja. Di sana ada foto saat aku masih kecil, berlari membelakangi Bapak di atas rerumputan. Sebuah foto yang membuat air mataku mengalir tanpa terasa.

Aku dan Bapak (1993). Foto: Day Nish.

Tak seperti biasanya, kamar tidur itu tertata rapi. Sprei yang terlilit kencang dan tirai jendela yang baru saja diganti. Aku memang tak pernah memasuki kamar ini. Ini wilayah Bapak yang tak mungkin aku masuki dengan alasan tatakrama. Aku hanya melihat kamar ini dengan pintu setengah terbuka dan melihat ke dalam sebisa yang terjangkau oleh mata, sekilas. Ya, hanya sekilas. Namun, saat ini aku memang leluasa. Saat bersamaan, keleluasaan itu terhimpit oleh kesedihanku sendiri. Betapa ruang dan waktu tak pernah benar-benar terikat dengan manusia, ia kembali bergerak dalam rotasi kehendakNya. Aku rindu Bapak. Aku rindu saat Bapak marah kepadaku karena telat dalam mendirikan sholat. Wajahnya yang terlampau senja itu kadang berhias senyuman saat humornya meluncur di tengah cengkrama keluarga. Dan saat itu, dengan angkuhnya aku tak memberikan senyum sedikitpun. Aku tenggelam dalam kubangan penyesalan.

Kadang aku kesal saat Bapak meninggalkan piring dan gelas bekas makan di atas meja. Aku menggerutu, memangnya ini restoran? Kenapa tidak langsung dibawa ke tempat cuci piring. Aku sadar, tak seharusnya aku terus menggerutu atas segala kebiasaannya yang kuanggap sebelah mata. Aku sadar dengan sikap sok pintar ini telah menyingkirkan simpatiku sendiri pada seorang Bapak. Betapa sering aku terlibat dalam adu mulut dengannya karena masalah yang kecil. Watak kami sama-sama keras dan mudah tersulut emosi.

***

Air mataku menetes. Basahi pipiku malam ini. Belum lama aku memejamkan mata. Bayangan seperti itu hadir menyesaki bunga mimpiku. Saat aku berusaha bangun, seperti ada yang menahan raga ini, inikah peringatanmu Ya Rabb? Seketika aku beristighfar, melepas cengkraman tak kasat mata yang menindih raga. Tersadar malam itu aku tengah bermimpi yang tidak-tidak. Pandanganku meremang. Kukedipkan berkali-kali dan menggosok mataku, menembus batas nyata dari batas mimpiku. Kulihat pintu kamarku yang setengah terbuka, kemudian berlari ke ruangan dimana Bapak tengah menonton TV. “Belum tidur, Teh?”, sapa Bapak saat melihatku masuk ke ruangan tengah. Aku menggelengkan kepala, kemudian tersenyum. Aku kembali ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat, tak ingin Bapak mendengarku terisak. “Jangan sekarang, Ya Rabbi…”, bibirku berbisik lirih. Terima kasih Ya Allah, telah menyadarkan kelalaian hamba atas sikap pada orangtua. Hamba tahu kematian adalah ketentuanMu. Namun, izinkan hamba mengabdi dengan waktu yang tersisa sebelum melihat pusara. Pusara Bapak yang terlihat dalam mimpi, dengan tanah merah yang masih basah.

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s