Sarapan

“Hanya butuh sikap, tingkah laku, dan apresiasi yang baik.”

Begitulah yang kupahami dalam dialog pagi di ruang makan. Saat adik-adikku telah berangkat ke sekolah dan Bapak “ngantor” ke matrial bambu, Ibu tak habis-habisnya mengelus dada dalam gerutuan yang terbungkus bisu. Namun, akhirnya meluap juga kekesalan yang selama ini terpendam. Hanya masalah biasa dalam hidup, sebuah penerimaan.

Dengan uang resiko yang begitu minim, amat egoislah jika meminta hidangan yang serba “wah” dengan hidangan daging setiap hari. Ya, apa mau dikata. Seorang Ibu yang telah begitu keras memutar otak, berpikir cerdas bagaimana agar sarapan dan makan sehari-hari tercukupi dengan biaya minimalis. Menghidangkan lauk-pauk dan meracik bumbu dengan cinta, bangun dengan tulus saat pagi buta. Sibuk di dapur menyiapkan segala hal untuk rutinitas “sarapan” keluarga. Namun, di balik semua itu, penerimaan tak berbanding lurus. Saat masakan telah terhidang, bahkan sebagiannya tak tersentuh lidah karena soal selera. Hanya karena tak ada olahan daging, yang ada hanya tahu, tempe, ikan, dan sayur seadanya.

Kesedihan dan kekecewaan tak luput dari pandanganku saat Ibu telah lelah untuk bertahan.

“Nanti tidak usah masak saja.”

Aku bergeming tanpa suara, hanya pikiran yang terus berkecamuk. Maafkan aku, Bu. Yang kadang selalu meminta lebih dari kemampuanmu. Yang kurang menghargai atas segala jerih payahmu, meski itu hanya masakan.

Aku tahu, Ibu hanya ingin melihat keluarganya makan dan minum yang cukup agar kuat menopang langkah dalam keseharian. Dan dari batin ini, aku bertekad, ya aku tahu yang Ibu inginkan, sebuah penerimaan yang tulus, anak-anak dan suami makan dengan lahap. Tanpa cibiran, tanpa penolakan.

Kelak aku pun akan berada dalam posisimu, Bu, dan semakin mengerti betapa apresiasi tak sekedar kucuran materi, tak sekedar uang resiko yang berlimpah, namun sebuah penerimaan yang indah meski banyak hal termasuk sarapan pagi tak seindah yang diinginkan lidah. Karena kita harus hidup dengan penerimaan yang tulus.

Menyerap makna dari hidangan di atas meja. 

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s