Naik Motor

IMG_7146
“Lautan” Motor di Perempatan Moh. Toha. Foto : wildainish

Belum terbayang dalam benak, jika ternyata detik ini saya sudah bisa melaju di jalanan kota, berpacu ke berbagai tempat tujuan dengan “si kuda besi”, yah meskipun dengan kondisi bolak-balik ke bengkel untuk servis. Maklum saja, motor yang hampir setengah tahun saya pakai itu sebuah motor lama keluaran 2001. Bodi motor yang sudah baret sana-sini ditambah sebagian komponen motor yang telah usang, namun mesin masih cukup halus untuk berkendara jarak dekat dan sedang.

Padahal tahun lalu, saya masih gagap untuk menaikinya. Belum luwes dan perpindahan persneling masih kaku. Hampir saja saya terguling saat meminjam motor teman di acara kegiatan sosial sebuah desa, gara-gara melaju di jalan menanjak dengan gigi 4 (Ups, jangan diartikan secara harfiah ya, hehe😀 ).  Hmm, saya baru sadar kalau jalan menanjak harus oper gigi ke angka 2 atau 1.  Ternyata belajar motor tak cukup dengan baca tutorial cara naik motor manual di Google, tak cukup dengan mendengarkan penjelasan teman-teman yang sudah berpengalaman. Belajar yang benar adalah pengalaman, langsung praktek di lapangan.

Pengalaman yang mendebarkan bukan melaju di areal kompleks setiap pagi-pagi buta atau jalanan yang sepi. Saat jatuh bangun melalui rintangan, itulah yang paling mendebarkan. Jatuh dari motor, tersenggol motor urakan, hampir menabrak orang, bahkan menubruk motor lain, telah saya alami. Dan itu membuat saya banyak belajar, bagaimana cara melalui jalanan padat kendaraan, memberikan kesempatan pada yang lain, dan melalui jalan-jalan berlubang (wah yang terakhir ini gangguan lokal) dengan menyeimbangkan posisi tubuh saat berkendara, termasuk pengendalian diri. Whats? Pengendalian diri? Kok bisa? Yups, saat naik motor kita harus mengendalikan diri agar tak terbawa arus emosi jalanan.🙂 Ada kalanya kita memburu waktu untuk cepat sampai ke tempat tujuan meskipun mengabaikan rambu-rambu.

Beberapa kecenderungan yang saya alami saat naik motor hingga saat ini adalah, sebagai berikut:

1. Saat sedang melaju mendekati perempatan lampu merah, dari jauh sudah tancap gas sekuat mungkin padahal lampu kuning udah nyala.

2. Motor yang melaju dengan tenang dalam artian tidak ngebut, malah di-klaksonin ramai-ramai oleh motor yang seakan jalan punya sendiri. (Suruh siapa slow down di jalur kanan)😀

3. Saat macet, kadang pengendara motor berebut space untuk lewat “gang-gang” mobil meski seiprit. 

4. Dipelototin motor-motor di garda depan gara-gara klakson bunyi padahal lampu merah masih menyala. (Yang ini mah murni pengalaman waktu pertama-pertama naik motor, jadi masih blah-bloh).

Kecenderungan lainnya barangkali teman-teman bisa tambahkan dalam komentar. Pokoknya naik motor membutuhkan kedewasaan dan pengendalian diri agar tidak melampaui batas. Dan selalu ingat, sikap keseharian terkadang mencerminkan perilaku berkendara di jalanan. Hati-hati, jangan lupa kalau pakai helm bawa motornya, Eh!😀

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s