Filosof Kecilku

AZKIA, sosok cilik ini memberiku banyak pelajaran berharga. Nama lengkapnya Azkia Khofia Rahmi. Nama yang lahir dari intuisiku sendiri. Entah kenapa, nama itu begitu teduh bagi setiap keceriaannya. Dan makna yang tersirat dari nama tersebut yaitu seorang anak manusia yang suci dan penuh kasih sayang yang tersembunyi. Meski demikian, ya, meski tersembunyi, harapanku anak ini tak pernah menyombongkan setiap kebaikannya kepada siapapun, biarlah kasih sayang yang ia berikan tersembunyi dari ucapan namun terwujud dalam setiap tindakan di kehidupannya kelak, sebuah harapan dari seorang kakak terhadap adik kecilnya.

Maafkan aku, Dik, saat setiap respon polosmu kuabaikan begitu saja dengan alasan sibuk dengan rutinitasku sendiri. Maafkan aku, saat setiap keinginanmu hanya terlewat bagai angin lalu. Maafkan aku yang selalu lupa akan janjiku sendiri untuk memberi hal yang kau inginkan, meski itu hanya sebuah permen atau sebotol susu berbentuk boneka. Melihatmu mengingatkanku pada masa kecilku tentang kenakalan, kepolosan, tingkah polah seorang insan yang tak lepas dari keingintahuan yang besar.

Keceriaanmu memberikanku ketegaran. Seharusnya kini dan nanti aku tak perlu marah saat kau mencoba menghibur kesibukanku dengan segala gerak-gerikmu. Menari-nari sambil berceloteh riang saat playlist kuputar. Tadinya aku ingin mendengarkan musik sambil melakukan sesuatu. Namun, ada kalanya aku memang egois, sering mengomel saat celotehanmu mengalahkan volume playlist musik di ponsel. Merasa terganggu, aku menyuruhmu untuk menjauh. Maafkan aku, adik…

azkiaUsianya baru saja beranjak 5 tahun Maret lalu. Azkia begitu antusias terhadap banyak hal. Seperti anak kecil pada umumnya, hal yang paling menarik baginya adalah gambar atau visual. Selalu menyimpan ketertarikan yang besar pada hal-hal baru.

“Teteh… itu apa?”

“Teteh… itu di mana? Kia pengen dong ke sana!” Begitu celotehnya saat ikut nimbrung melihat foto-foto di netbook. Beberapa di antaranya ada foto Stasiun, suasana Dago Pakar, dan tempat-tempat lainnya.

Kalau sudah melihat foto-foto itu, pastilah seorang anak berimajinasi sesuai hal yang dilihatnya. Dan sungguh, aku ingin mengajak ke tempat yang ia inginkan. Membawanya ke alam luas. Mengenalkan berbagai hal yang membantu imajinasinya untuk terus berkembang. Agar tak sekadar menikmati tontonan kartun, apalagi terkontaminasi bahasa sadism dari sinetron-sinetron picisan dari layar kaca. Adik, ingin kukenalkan padamu dunia yang sebenarnya, dunia yang nyata di luar sana, yang penuh warna dan dinamika.

Sekarang, janjiku dalam hati, tidak akan lagi merasa terusik saat dirimu banyak bertanya. Tidak akan menolak lagi, saat diminta untuk mengajarimu Bahasa Inggris dari netbook. Tidak akan mengomelimu, saat celoteh riangmu menari-nari dalam rutinitasku. Sungguh, aku ingin menjadi saksi di setiap episode kehidupanmu. Dan biarkan aku berguru pada setiap ketulusanmu tentang banyak hal. Tentang dunia di mata seorang anak kecil, sang filosof sejati.

Jam produktif seorang anak kadang membingungkan, keceriaannya saat malam yang larut masih saja terlihat hingga mengantuk rebah di kursi saat sudah benar-benar lelah. Adikku yang satu ini baru saja tertidur saat jam digital menunjukkan 11.30 PM. Namun, saat pagi sudah datang, ia masih terlelap dan akhirnya bangun dengan sendirinya saat matahari mulai meninggi di pukul 8.00 AM. Keceriaan baru pun dimulai kembali.🙂

kia bobo

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s