Tak Menyesal

Masa lalu tak patut lagi disesali. Saya tak menyesal saat Ibu tanpa meminta pendapat tentang SMP Favorit saat itu, langsung mendaftarkan saya ke sebuah pesantren tengah kota Bandung, Persatuan Islam 1 Bandung. Saya tak menyesal saat dulu telah tercatat dalam absensi kelas MIPA, namun kemudian saya berubah pikiran berpindah haluan ke kelas sosial. Mengubur keinginan Ibu saat berharap lulus nanti menjadi ahli farmasi.

Saya tak pernah menyesal saat tak lulus pada pilihan pertama, Pendidikan Bahasa Inggris, dan terbawa pada pilihan kedua sesuai kolom isian saat mendaftar kuliah, “llmu Komunikasi Jurnalistik”. Ya, saya tak menyesal meski akhirnya saat ini saya tak berkarier (entah belum) sebagai jurnalis. Setidaknya, saya pernah merasakan suka duka meracik berita dari lapangan selama kuliah dan praktek kerja di redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat. Meski saya tak melanjutkan lagi aktivitas seorang kuli tinta, kecintaanku pada aksara tak sedikitpun berkurang. Semakin cinta menulis, semakin ingin mengamati dunia, lalu menguraikan makna. Visi sebagai penulis telah tertorehkan dalam lembar harapan untuk masa kini dan nanti. Cepat atau lambat penerimaan dunia, itu bukan urusan saya. Yang terpenting adalah tetap berproses dalam berkarya.

Ya, jika hidup hanya dipenuhi sesal atas masa lalu. Kapan kita untuk memperbaiki langkah? Merutuki yang telah berlalu tiada lagi berguna. Selalu ada resiko dalam setiap pilihan. Dan itu terus berlanjut sampai nanti. Sampai Allah memilih kita untuk masuk ke garis di luar dunia nyata, kematian.

 

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s