Refleksi

Buta Mata Hati

“… karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati”. (QS. Al-Hajj:46)

Alhamdulillah, mata ini masih melihat dengan sempurna. Masih bisa berkedip dan mengalirkan air mata. Masih bisa terpejam di kala lelah. Masih bisa berfungsi sebagaimana semestinya. Alhamdulillah… Namun, ada kalanya mata ini mengingkari apa yang telah dilihat. Menganggap hal yang keliru seolah benar dan baik-baik saja. Mata ini melihat apa adanya, kesulitan yang dialami keluarga maupun teman bahkan orang lain sekalipun. Dan itu semua seolah hanya pemandangan yang melintas sambil lalu, terlihat dan terlupakan. Tenggelam kembali dalam rutinitas yang dijalani. Saya tidak ada waktu untuk hal itu. Astaghfiruka Ya Rabbi…

Mungkinkah mata ini mengingkari keinginan hati? Telah buta dari cahayaNya…

Terkadang saya merasa nyaman dengan keadaan yang sekarang. Teman-teman berubah dari waktu ke waktu. Namun, perasaan nyaman itu tetap tergoyahkan dengan keinginan sesungguhnya. Sungguh, dalam keramaian dengan teman-teman yang sekarang – yang menemani rutinitas harian di kantor – saya merasa kesepian dan terasing. Meskipun saya melebur bersama mereka dan mampu mengkondisikan diri saat berinteraksi, akan tetapi bagian dari hati ini tetap kosong tak terisi. Kemeriahan hanya sekedar kemeriahan. Tertawa bersama hanya sekedar tertawa yang kerapkali mematikan hati. Sulit saya berpikir jernih tentang simpati dan empati saat di tengah mereka. Kadang larut dalam obrolan tak jelas, sekedar basa-basi yang mendarat dalam derai tawa melenakan.

Adakah yang salah dengan ini? Mungkinkah saya terlalu mengambil banyak perasaan atas hal ini?

Tiba-tiba saya merindukan teman-teman dari masa lalu yang mengikat saya dalam oase ruhiyah kebersamaan. Saling mengingatkan, saling mendukung dan menyemangati. Kerinduan itu sedikit terobati dengan melihat kepingan slide singkat dari foto-foto kenangan dulu, namun nyatanya saya hanya dirundung kerinduan terpendam. Semua itu takan bisa kembali. Masa silam hanyalah episode yang tenggelam dalam putaran kehidupan, tak seperti matahari yang dipastikan terbit kembali esok hari.

Menoleh terlalu lama pada masa lalu memang menyakitkan. Bagaimanapun juga, saya harus berusaha membangkitkan kembali ruhiyah itu seorang diri, tanpa mengandalkan siapapun. Tanpa harus bergantung pada manusia, tanpa harus terbawa arus dunia, karena sejatinya saya akan menghadapNya seorang diri. Tanpa ditemani, orangtua sekalipun.

Rabbi, jangan butakan hati hamba dengan rutinitas yang menenggelamkan hamba dari mengingatMu dan hari penghisaban-Mu.

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s