Catatan Diri, Refleksi, Selaksa Rasa

Jodoh Dunia Akhirat

Tulisan ini sebenarnya posting yang harusnya meluncur ke permukaan 9 hari yang lalu, pasca mengikuti seminar dan book launch “Jodoh Dunia Akhirat” 21 Juli 2013 @RM. Wong Solo. Yah, apa mau dikata. Saya baru bisa menetaskan kesimpulannya sekarang di sela waktu luang *ups* gak luang juga sih, soalnya ini banyak deadline grafis, cuma ya disempet-sempetin aja. hehe.

Jodoh, barangkali hal tabu yang mungkin sangat riskan untuk diangkat menjadi topik seminar. Namun, setelah mengikuti seminar yang digawangi romantic couple trainer -Kang Canun dan Teh Fu-,  saya jadi mengerti, jodoh adalah sebuah topik esensial dalam hidup yang layak dibahas dan ditindaklanjuti. Ups, tentunya bukan untuk tebar pesona demi menggaet jodoh pujaan hati dengan masang PP menawan di Facebook. Bukan itu. Meskipun hal itu bisa jadi termasuk salah satu modus menggaet jodoh. 🙂

“Siapa yang mau dapat jodoh pangeran, acungkan tangan katakan saya!!!”

“Saya!”

Tentu saja, dalam benak para peserta seminar saat itu, jodoh yang diinginkan adalah jodoh yang istimewa. Dapat jodoh seorang pangeran tampan yang sholeh dan baik hati? Siapa sih yang nggak mau? Begitu juga para pria yang berharap seorang istri yang cantik, sholehah, anggun layaknya seorang putri. Siapa juga yang nolak?

“Nah, kalau mau dapet jodoh seorang pangeran, jadikan dulu diri layaknya seorang putri.”

“Kalau mau dapet seorang putri menawan, jadikan dulu diri layaknya seorang pangeran.”

Setelah dipikir ulang, iya juga yah, enak aja ngarepin yang istimewa, tapi diri sendiri masih biasa-biasa tanpa upaya menjadi seorang yang istimewa. Berharap jodoh sempurna dengan dalih “saya hanya manusia biasa”. Gak ada upaya meningkatkan diri baik secara fisik atau substansial.

Hufh, sampai kapan ngarep sesuatu tanpa bergerak meraihnya. Kalau sejatinya, wanita memang menunggu seperti sel telur yang bergerak lamban menanti sperma yang membuahinya. Menunggu dalam arti kata di sini, bukanlah diam di rumah terus nungguin jodoh di lawang panto sambil buka tirai harap-harap cemas. Helooww, menunggu itu aktivitas produktif, sob…

“Jodoh dunia akhirat, namamu rahasia, tapi kau ada di masa depanku…” begitulah refrain lagu “Jodoh Dunia Akhirat” yang dilantunkan begitu teduhnya oleh Kang Abay Motivasinger.

Rasanya, mengikuti seminar ini sambil mendengarkan lagu dan baca bukunya Kang Canun-Teh Fu, efek setelahnya itu… duh, mak, jleb banget lah! Rasanya kegaplok berkali-kali. *lebay yah*.

Yups, ternyata pandangan saya selama ini tentang jodoh keliru besar. Banyak hal yang harus diluruskan perihal pasangan hidup di masa depan. Bisa jadi ketidakharmonisan pernikahan nanti akibat sampah emosi yang terpendam saat masih lajang. Saat berpandangan bahwa jodoh tak juga menjemput di pelaminan  dengan alasan “belum waktunya”, semata-mata bukan hambatan dari orangtua yang belum merestui. Namun, alasan paling mendasar adalah “sudahkah kita siap menjemput jodoh dengan memantaskan diri?”

Hey, Jund, berdamai dululah dengan masa lalu. Jangan-jangan belum berjodoh itu disebabkan karena dirimu saja belum siap “menikahi diri sendiri”. Belum siap dengan segala kekurangan dan kelebihan diri.

Kini, bersihkanlah masa lalumu dengan mengukir potensi yang terbaik saat ini, meningkatkan segala daya dan karya semampu yang kau bisa, untuk menjadi insan terpilih dan istimewa bagi seorang jodoh dunia akhirat di depan sana.

 

 

Iklan

2 thoughts on “Jodoh Dunia Akhirat”

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s