Variabel Kehidupan

“Seorang manusia, kehidupannya terbangun dari berbagai variabel dalam hidupnya, dan semua itu yang membangun karakter (sifat) dalam dirinya. Baik itu makanan/minuman, pakaian, bacaan, tontonan, aktivitas, dan sebagainya.”

Kalimat itu masih saya ingat ketika mengikuti kuliah “Sistem Politik Indonesia” saat masih berstatus mahasiswa tingkat 3. Memang dari segi bahasa, kalimat tersebut sepertinya kurang pas dengan perkuliahan politik, namun yang saya tafsirkan di sini, bagaimana sebuah sistem berjalan dan melingkupi hidup seorang manusia. Dalam sebuah sistem, terdapat variabel-variabel yang berkaitan begitu kompleks satu sama lain. Ups, tinggalkan dulu bahasan sistem.

Kali ini saya ingin mengurai kalimat terakhir dalam kutipan di atas, “Baik itu makanan/minuman, pakaian, bacaan, tontonan, aktivitas, dan sebagainya.” Saya artikan variabel di sini sebagai gaya hidup. Bagaimana sebuah bacaan dan tontonan bisa mempengaruhi gaya hidup seseorang, atau bahkan makanan atau minuman yang dikonsumsi membentuk hormon-hormon yang memiliki kecenderungan tertentu. Vetsin dalam panganan kuah seperti Mie Baso, misalnya. Konon, mengonsumsi vetsin dalam kurun waktu yang cukup lama, akan berpengaruh pada saraf. Ketika kata-kata di atas saya dengar langsung dari dosen politik. Saya sulit fokus pada pembicaraan selanjutnya saat kuliah di kelas. Pikiran saya malah berlari-lari liar ke luar. Menafsirkan kata-kata itu dengan merenungi variabel kehidupan saya sendiri.

Apakah variabel-variabel dalam hidup saya membentuk saya sebagai manusia seutuhnya ataukah malah menjerumuskan saya pada lubang kesia-siaan…?

Karena saya sadar, barangkali pikiran sulit berkonsentrasi bisa jadi karena mengonsumsi fast food seperti mie instan dalam waktu cukup lama. Atau kebiasaan menonton lawakan jadi sulit untuk peduli pada sesama.

Variabel-variabel itu begitu dahsyat pengaruhnya bagi karakter seorang manusia. Dan mengantarkan saya kembali untuk berpijak pada sebuah hadits, “Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)

Beristighfar dalam hati, ampuni hamba Ya Rabbi atas kesibukan yang menenggelamkan hamba dan lalai mengingatMu.

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s