Manusia Kapitalistik

Manusia kapitalistik : bekerja untuk berbelanja, berbelanja untuk bekerja, mencari kepuasan melalui konsumsi. –Lifestyle Ecstasy

Saya tak memungkiri, bahwa setiap melirik pusat perbelanjaan, label diskon sekian persen dan produk-produk terbaru kerapkali memancing insting konsumtif saya. Saya tak memungkiri, pasti selalu ada keinginan berbelanja ini-itu atau sekadar washing eyes alias cuci mata tanpa membeli apa-apa. Saya mungkin bagian dari manusia kapitalistik.

Manusia yang kadang bekerja sekadar memenuhi kebutuhan belanja harian, bulanan, dan tahunan. Manusia yang berbelanja untuk memenuhi penampilannya saat bekerja. Ujung-ujungnya persoalan baik dan buruk saat ini hanya diatasi pada tataran citra. Pencitraan (imagology) merajai setiap elemen kehidupan. Tak terkecuali tataran religiusitas.

Terkadang seseorang tanpa sadar membeli perlengkapan ibadah serba wah dengan sejadah kelas atas, mukena yang cemerlang dengan pernak-pernik mewah, dengan tujuan agar lebih khusyuk dalam beribadah. Padahal indahnya kulit tidak menentukan isinya. Malah, pemandangan dengan mukena berwarna-warni beragam rupa –seperti saat sholat ’Id tempo hari– membuat mata saya pening dan sulit berkonsentrasi. Jelasnya, saya tidak khusyuk. Ya, jujur saja, saya bukan iri pada mereka yang mampu membeli mukena kelas mahal dengan taburan payet yang berkilauan. Bukan itu. Namun, kecemasan saya mulai mencapai klimaks. Fenomena citra yang tampak di hadapan telah melunturkan kesederhanaan.

Di setiap sudut industri, terjadi sebuah gejala “massification of product” yang berbasis pada “large-scale product with minimization of cost”. Bagaimana caranya produk tercipta berskala massal dengan ongkos produksi yang minim, tentunya di sini yang dikorbankan adalah kelas pekerja. Semua itu bertujuan hanya satu “homogenization of taste”. Bagaimana citra yang ditimbulkan memenuhi selera pasar. Cita rasa yang diciptakan sedemikian apik melalui citra visual dalam poster, billboard, iklan televisi, dan media-media grafis lainnya.

Sesaat saya selalu terkagum-kagum dengan efek visual yang timbul dari setiap media tersebut, lalu bertanya-tanya, bagaimana visual effect yang diolah, bagaimana jika saya pun mencoba efek yang serupa. Akan tetapi, setelah saya pikirkan lagi, pencitraan itu tak berefek apa-apa saat ini untuk mereka yang realistis. Mereka yang sadar bahwa masa depan bukan hanya diukir dalam imaji visual. Bahwa golput masih akan tetap ada meskipun senyuman para calon pemimpin negeri ini menghiasi setiap persimpangan melalui banner sekian meter. Bahwa orang-orang sudah mulai jengah dengan basa-basi artifisial “Selamat Idul Fitri, selamat ini itu” di setiap reklame yang terpajang. Realistis saja lah.

Pencitraan memang bukan sesuatu yang keliru. Para desainer grafis di dunia ini pun tidak pantas disalahkan saat citra yang mereka olah membuat silau para follower. Bukankah desain grafis hanya sebuah cara menyampaikan pesan? Yang keliru di sini hanyalah sebuah tindak lanjut dari citra ke tataran realita. Apakah dengan me-like sebuah kutipan bijak di Facebook, seseorang menjadi bijak? Tentu saja tidak. Belum tentu. Maka, wahai manusia kapitalistik, iringilah citra dengan realita. Kembalilah pada asas nilai guna. Membeli segala sesuatu karena memang membutuhkannya, bukan sekadar ingin. Jangan lagi terjebak dengan nilai tanda, yang ujung-ujungnya menjadikan tepuk tangan dan simpati orang lain sebagai standar penampilan diri.

Iklan

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s