Diposkan pada Catatan Diri, Essai, Refleksi

Di Balik Raport TK

Di hadapan saya terdapat berkas ijazah, raport, dan transkrip nilai sejak TK hingga perguruan tinggi. Entah mengapa, saya tergerak untuk menekuri setiap nilai yang tertera di sana. Bukan untuk menyombongkan diri, tetapi sungguh saya balik bertanya pada diri sendiri. Validkah semua nilai itu? Ups, bukan berarti palsu ya. Semua ijazah itu murni lho. Tentunya ada proses yang mesti saya lalui terlebih dulu. Ya, apalagi selain proses akademik dengan serangkaian ujian baik tulis maupun praktik. Di sini saya hanya mempertanyakan, masihkah daya kognitif saya bernilai A sesuai pelajaran yang tercantum. Ataukah hanya sebatas momentum saat itu saja. Kini, hanya sebatas nilai istimewa tak membekas.

Ijazah TK
Ijazah TK

Berpikir ulang…

Saya mulai membuka kembali raport TK (1995-1997) yang telah sedikit usang dan menguning lembarannya.

Di sana terdapat daftar penilaian pengembangan anak berupa laporan tertulis dari guru setiap cawu (caturwulan) berganti.

Cawu 1 Kelompok A :

Pembentukan Perilaku : “Sudah dapat menguasai diri, berani ke depan, suka menolong teman, tetapi tidak boleh jadi penakut, ya!”

Kemampuan Dasar : “Lebih suka mewarnai, dapat menceritakan gambar yang dibuatnya sendiri, hapal doa harian dan sebagia surat pendek.”

Cawu 2 Kelompok A :

Pembentukan Perilaku : “Mempunyai kebiasaan yang baik dalam mengerjakan tugas yang diberikan, tolong-menolong, akan tetapi masih perlu latihan untuk bergantian dalam menggunakan alat/mainan.”

Kemampuan Dasar : “Mempunyai kemampuan yang baik dalam membilang dengan benda dan mengikuti 1-3 perintah, tetapi angkat tumit, lari berjingkat masih perlu latihan.”

Cawu 3 Kelompok A :

Pembentukan Perilaku : “Mempunyai kebiasaan yang baik dalam berdoa, mengerjakan tugas dan mengucapkan salam, namun demikian dalam hal tenggang rasa terhadap teman masih perlu latihan dan bimbingan.”

Kemampuan Dasar : “Mempunyai kemampuan yang baik dalam bernyanyi, mewarnai dan menggambar, akan tetapi masih perlu bimbingan dan latihan dalam melompat dengan satu kaki.”

Cawu 1 Kelompok B :

Pembentukan Perilaku : “Mempunyai kebiasaan yang cukup baik dalam hal sopan santun dan tanggung jawab, namun demikian perlu latihan diri dan bimbingan untuk keberanian.”

Kemampuan Dasar : “Mempunyai kemampuan yang baik dalam menceritakan kembali isi cerita sederhana, mengurutkan gambar, menulis, namun demikian masih perlu latihan dalam bilangan.”

Cawu 2 Kelompok B :

Pembentukan Perilaku : “Mempunyai kebiasaan yang sangat baik dalam tanggung jawab terhadap tugas, berdoa, namun demikian perlu latihan diri sendiri dan bimbingan untuk bergantian dalam menggunakan alat.”

Kemampuan Dasar : “Mempunyai kemampuan yang sangat baik dalam membaca huruf dan kata, membilang dengan benda namun masih perlu latihan dan bimbingan dalam meloncat dari ketinggian 50-75 cm.”

Cawu 3 Kelompok B :

Pembentukan Perilaku : “Mempunyai kebiasaan dalam hal mengucapkan salam, mengikuti peraturan, melaksanakan tugas namun masih perlu latihan dan bimbingan untuk mengurus diri sendiri.

Kemampuan Dasar : “Mempunyai kemampuan baik dalam menyusun balok-balok, menggambar dan mengurutkan gambar, menggunting, meronce, namun masih perlu latihan dalam meloncat naik turun papan titian.”

Saya menggarisbawahi beberapa kalimat di atas dan mengambil kesimpulan, bahwa dulu saat TK saya cukup unggul dalam ranah visual grafis, hehe, jadi B nih (alias bangga)… eh tetapiiii… ternyata dalam hal psikomotor atau kinestetik, ternyata dari setiap cawu (fase 3 bulanan) saya masih payah. “Masih perlu latihan dalam melompat dengan satu kaki, masih perlu latihan dalam berjingkat, angkat tumit dsb…” Wah..wah.. adakah pengaruhnya hingga sekarang saya belum bisa berenang, dalam beberapa hal bidang olahraga saya memang payah, beladiri yang saya ikuti terhenti di tengah jalan.

Diam-diam kekaguman saya terhadap guru TK yang menuliskan laporan penilaian tersebut mengalir kembali. Masa-masa TK yang saya alami selama 2 tahun tiba-tiba terkenang. Lamat-lamat saya teringat pernah menangis karena berebut mainan dengan teman. Guru-guru TK memang memiliki kesabaran ekstra dibanding guru pada tingkat yang lebih besar. Ya, saat kondisi standar murid diam dan fokus menyimak guru mengajar depan kelas. Guru TK mesti bergerak kesana-kemari mengikuti kelincahan anak didik mereka. Tetap tersenyum ramah meski anak-anak tak bisa diam dengan kenakalan khas balita beranjak masa kanak-kanak. Kerapkali bernyanyi riang dan menirukan suara binatang saat mendongeng. Guru TK itu ekspresif dan seniman banget!  😀

Flashback terhadap penilaian akademis dan mempertautkan dengan kenyataan saat ini.

Iklan

Penulis:

Aku ingin punya ruang yang cukup tuk ekspresikan semua ide dan gagasanku untuk berbagi dengan yang lain. Di sinilah ruang itu...

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s