Deadline Illahi

Hari ini saya mendapat kabar duka. Pertama, seorang rekan sekantor yang selalu menjadi andalan dan panutan telah berpulang kepada-Nya. Sebelumnya sempat dirawat di rumah sakit karena Tipus. Namun beliau nyatanya meninggal sepulang dari rumah sakit  karena sakit kepala. Wallahu a’lam. Namun, saya semakin yakin, Allah telah menetapkan jalan terbaik bagi hambaNya. Maut tak pernah sedikitpun melesat dari ketentuanNya. Meskipun kita sebagai manusia selalu saja sulit percaya atas berita duka yang terjadi. Kemudian, kerapkali bertanya penyebabnya bagaimana, mengapa meninggal?

Kedua, pemandangan memilukan terjadi di depan mata saat saya melintas di Jln. Peta, Bandung, petang tadi Pkl. 18.00 WIB. Seorang Ibu dengan kepala bersimbah darah tergeletak di jalan, segera orang-orang berkerumun dan memindahkan Ibu tersebut ke pinggir jalan. Entah bagaimana kronologisnya dan kelanjutannya. Yang pasti kecelakaan lalu lintas telah terjadi untuk kesekian kalinya di jalan yang penuh lubang itu. Saya hanya menoleh sebentar dan melihat apa yang terjadi. Namun, segera memacu motor dengan hati-hati sambil tak henti menyebut asmaNya. Ya Rabbi… Kullu nafsin dzaaiqotul maut. Saya terus waspada melaju dari jl. Peta menuju jl. Jend. Sudirman di tengah hujan yang menderas.

Pelajaran berharga lagi-lagi saya dapatkan hari ini. Dari sebuah duka yang menyeruak bernama kematian. Betapa Allah Maha Kuasa atas segala hal yang terjadi atas kehidupan manusia. Meskipun ketika naik motor saya kerapkali nyaris mengalami kecelakaan karena human error. Namun, Allah berkehendak lain, Allah masih mengizinkan saya melangkah di dunia ini. Saya harus tetap melangkah di jalan raya, sebuah lokasi yang menjadi area rawan tertinggi bernama kecelakaan lalu lintas. Meski saya tidak ingin berjejalan dengan motor-motor lain menuju tempat aktivitas, saya harus menguatkan diri sambil berserah diri kepada Sang Pemilik Nyawa, La haulaa wa laa quwwata illah billah.

Hanya Allah yang tahu kunci hidup dan mati seorang insan. Tugas kita hanyalah beribadah seolah-olah esok adalah hari terakhir kita di dunia. Namun, kita pun harus tetap berikhtiar semaksimal mungkin dalam mencari penghidupan seolah-olah kita akan hidup selamanya. Di sini yang berperan adalah perspektif dan pengamalan sepanjang hayat.

Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS. Az-Zumar:42)

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, (QS. Al-Mulk:2)

Silahkan komentar, senang bisa berbagi :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s